Mimpi Jalan Tol Jakarta Tidak Macet

Kamis, 13/10/2011

Oleh: Agus S. Soerono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Seandainya ruas jalan tol Jakarta outer ring road (JORR) ruas W2 yang menghubungkan ruas tol TB Simatupang ke arah tol Sedyatmo menuju Bandara Soekarno-Hatta dan Jakarta-Merak sudah jadi, maka kemacetan di jalan tol dalam kota dipastikan dapat teratasi. Kenapa?

Karena sebenarnya lalu lintas yang ada di jalan tol dalam kota adalah lalu lintas semu, yaitu lalu lintas yang seharusnya tidak melalui jalan tol dalam kota, tetapi terpaksa melalui jalan tol itu karena tidak ada alternatif lain yang bisa dilalui via tol untuk perjalanan antar kota.

Jadi bisa dimaklumi jalan tol dalam kota itu menjadi macet, karena puluhan ribu kendaraan yang tidak perlu masuk kota, tidak punya pilihan lain untuk melintas. Pengendara yang datang dari Jawa Timur, Jateng, Jabar dan hendak ke berbagai kota di Sumatera, mau tidak mau harus masuk dalam kota Jakarta.

Padahal apabila ruas tol W2 sudah selesai, maka ”cincin” jalan lingkar luar itu bisa menyatu, sehingga bisa mengurangi beban lalu lintas yang ’terpaksa’ masuk ke dalam kota. Apabila ruas tol W2 selesai, diperkirakan 60.000 kendaraan yang bisa dialihkan ke ruas tol tersebut.

Karena lambannya pembangunan ruas jalan lingkar luar itu, maka sudah sangat sering digunakan akronim JORR menjadi ”Jalan Ora Rampung-Rampung” (jalan yang tidak kunjung selesai).

Pembangunan jalan tol lingkar luar ini sudah lebih dari 10 tahun dicanangkan. Namun lingkaran itu masih terputus oleh ruas W2, yang terkendala masalah pembebasan lahan.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum yang merasa ’gemas’ karena pembangunan jalan tol itu tidak kunjung jadi kemudian membentuk Panitia Pengadaan Tanah (P2T).

Jalan tol sepanjang 7,8 km yang rencananya membentang dari Ulujami hingga Kebon Jeruk ini, terkendala oleh pembebasan 36 bidang tanah di Jakarta Barat dan Jakarta Selatan yang belum selesai. Padahal ruas tol ini menjadi mata rantai bagi lalu lintas yang hendak menuju ke ruas tol Jakarta-Merak dan ruas tol Sedyatmo.

Menurut Ketua Panitia Pengadaan Tanah Kementerian PU Ambardy Effendy, pembangunan ruas jalan tol W2 terkendala oleh pembebasan lahan yang terdapat di Jakarta Selatan sebanyak 19 bidang, termasuk 11 bidang di antaranya yang sudah dititipkan dananya ke pengadilan.

Apabila ruas tol W2 telah jadi maka ruas tol dalam kota pasti akan berkurang kepadatannya. Karena pengendara yang berasal dari Jatim, Jateng atau Jabar hendak ke berbagai kota di Sumatera, tidak perlu bertamasya dan bermacet ria di dalam kota Jakarta. Yang menyita waktu, tenaga pikiran dan BBM yang tidak sedikit. Jalan tol dalam kota tidak macet? Ah bermimpi rasanya. Hal itu hanya terjadi pada waktu mudik Lebaran saja, tidak seperti hari kerja rutin yang sibuk.