Mimpi Jalan Tol Jakarta Tidak Macet

Oleh: Agus S. Soerono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Seandainya ruas jalan tol Jakarta outer ring road (JORR) ruas W2 yang menghubungkan ruas tol TB Simatupang ke arah tol Sedyatmo menuju Bandara Soekarno-Hatta dan Jakarta-Merak sudah jadi, maka kemacetan di jalan tol dalam kota dipastikan dapat teratasi. Kenapa?

Karena sebenarnya lalu lintas yang ada di jalan tol dalam kota adalah lalu lintas semu, yaitu lalu lintas yang seharusnya tidak melalui jalan tol dalam kota, tetapi terpaksa melalui jalan tol itu karena tidak ada alternatif lain yang bisa dilalui via tol untuk perjalanan antar kota.

Jadi bisa dimaklumi jalan tol dalam kota itu menjadi macet, karena puluhan ribu kendaraan yang tidak perlu masuk kota, tidak punya pilihan lain untuk melintas. Pengendara yang datang dari Jawa Timur, Jateng, Jabar dan hendak ke berbagai kota di Sumatera, mau tidak mau harus masuk dalam kota Jakarta.

Padahal apabila ruas tol W2 sudah selesai, maka ”cincin” jalan lingkar luar itu bisa menyatu, sehingga bisa mengurangi beban lalu lintas yang ’terpaksa’ masuk ke dalam kota. Apabila ruas tol W2 selesai, diperkirakan 60.000 kendaraan yang bisa dialihkan ke ruas tol tersebut.

Karena lambannya pembangunan ruas jalan lingkar luar itu, maka sudah sangat sering digunakan akronim JORR menjadi ”Jalan Ora Rampung-Rampung” (jalan yang tidak kunjung selesai).

Pembangunan jalan tol lingkar luar ini sudah lebih dari 10 tahun dicanangkan. Namun lingkaran itu masih terputus oleh ruas W2, yang terkendala masalah pembebasan lahan.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum yang merasa ’gemas’ karena pembangunan jalan tol itu tidak kunjung jadi kemudian membentuk Panitia Pengadaan Tanah (P2T).

Jalan tol sepanjang 7,8 km yang rencananya membentang dari Ulujami hingga Kebon Jeruk ini, terkendala oleh pembebasan 36 bidang tanah di Jakarta Barat dan Jakarta Selatan yang belum selesai. Padahal ruas tol ini menjadi mata rantai bagi lalu lintas yang hendak menuju ke ruas tol Jakarta-Merak dan ruas tol Sedyatmo.

Menurut Ketua Panitia Pengadaan Tanah Kementerian PU Ambardy Effendy, pembangunan ruas jalan tol W2 terkendala oleh pembebasan lahan yang terdapat di Jakarta Selatan sebanyak 19 bidang, termasuk 11 bidang di antaranya yang sudah dititipkan dananya ke pengadilan.

Apabila ruas tol W2 telah jadi maka ruas tol dalam kota pasti akan berkurang kepadatannya. Karena pengendara yang berasal dari Jatim, Jateng atau Jabar hendak ke berbagai kota di Sumatera, tidak perlu bertamasya dan bermacet ria di dalam kota Jakarta. Yang menyita waktu, tenaga pikiran dan BBM yang tidak sedikit. Jalan tol dalam kota tidak macet? Ah bermimpi rasanya. Hal itu hanya terjadi pada waktu mudik Lebaran saja, tidak seperti hari kerja rutin yang sibuk.

BERITA TERKAIT

Perlu Komitmen Bersama Cegah Covid-19

  Oleh : Tiara Kusuma Dewi, Pengamat Kebijakan Publik   Indonesia tengah mengalami darurat  Virus Corona, sehingga kewaspadaan akan virus…

Mengantisipasi Perlambatan Ekonomi Indonesia

  Oleh : Dr. Ade Reza Hariyadi, Doktor lulusan UI dan Dosen   Prospek ekonomi global tampaknya masih akan mengalami…

Langkah Pemerintah dalam Penanganan Covid-19

Oleh: Hadi Setiawan, Peneliti Madya Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu *)                  Data per 26 Maret 2020 pukul 17.48 WIB menunjukkan…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Keanehan Survei Politik di Tengah Wabah Corona

  Oleh: Fikri Syariati, Pemerhati Sosial Politik   Dalam jangka waktu lima bulan pasca dimulainya Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf, sejumlah lembaga survei…

Pentingnya Otoritas Khusus Ibukota Negara

  Oleh : Dr. Ade Reza Hariyadi, Doktor lulusan UI dan Dosen Presiden Jokowi telah memutuskan untuk memindahkan ibukota negara…

Dampak Strategis Penyebaran Covid-19

  Oleh: Almira Fadhillah, Pasca Sarjana Univ. Gunadharma Hasil dari laporan penelitian Imperial Collage of London, Inggris. Jumlah kasus terkait…