Konsep Desain Rumah Peninggalan Belanda

Sabtu, 29/10/2011

Neraca. Bagi sebagian rumah di Jakarta, ketersediaan pendingin ruangan (air conditioner-AC) mungkin sudah menjadi keharusan. Namun dengan desain yang sesuai, rumah sebenarnya bisa dibuat tetap dingin dan nyaman tanpa mesin AC.

Konsep yang kini berkembang dan seringkali menjadi ikon para pengembang properti itu adalah green living. Konsep ini juga sering dikaitkan dengan upaya mengurangi percepatan pemanasan dunia (global warming).

Dengan perkembangan terbaru, arsitek kini mulai menambahkan desain rumah hijau dengan menambahkan bentang air yang terdapat di dalam ataupun teras belakang rumah. Fungsi air tersebut dianggap cukup efektif untuk mengurangi cuaca panas dari luar rumah. Selain itu, trik lain bisa diterapkan adalah dengan membangun taman vertikal yang biasanya menempel di dinding luar rumah. Tanaman dianggap bisa memberikan kesegaran pada siang hari, disamping menyerap polusi dan efek panas matahari.

Faktor yang tidak kalah penting adalah pembuatan taman di atap rumah yang terbukti cukup efektif mengurangi panas matahari. Taman yang beralaskan beton dan ditimbuni tanah dan tanaman diatasnya, cukup untuk membuat ruangan dibawahnya menjadi dingin. Seolah tidak ingin mengumbar janji, konsep rumah hijau tersebut sudah ada yang dikembangkan di kawasan Menteng dan Bintaro (Jakarta), Cikarang (Bekasi), bahkan di komplek perumahan BTN yang umumnya masih dianggap kurang baik.

Kita dapat menemukan sisa-sisa dari arsitektur Belanda pada masa kolonial di beberapa kota yang tersebar di seluruh Indonesia seperti di Medan, Padang, Palembang, Bandjermasin, Manado, Batavia (sekarang berubah menjadi Jakarta), Buitenzorg (sekarang berubah menjadi Bogor), Bandoeng, Malang, Semarang, Djocja, Soerabaja, yang berupa perencanaan kota meskipun lebih banyak dipusatkan di pulau Jawa. Khususnya di Batavia, hal ini dapat terlihat di distrik Menteng, salah satu distrik prakarsa Eropa yang paling menarik di Asia.