Indonesia 2012: Riding Optimism and Challenges Ahead

CIMB Niaga Economic Outlook Conference

Kamis, 13/10/2011

Jakarta - Krisis yang terjadi di Eropa dan gejolak fiskal di Amerika Serikat menjadi perhatian masyarakat dunia, tak terkecuali bagi Indonesia. Menyikapi perkembangan ekonomi dunia, dan seperti apa tantangan bagi Indonesia di tahun 2012 terkait dengan krisis yang terjadi, PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) menyelenggarakan Economic Outlook Conference, dengan tema “Indonesia 2012: Riding Optimism and Challenges Ahead”.

Krisis global yang terjadi sekarang ini telah merambah ke kawasan Asia Tenggara. Hal ini terlihat dari penurunan ekspor yang terjadi di negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Tak hanya itu, ketidakpastian perbaikan ekonomi dunia turut mendorong terjadinya pelarian modal asing dari Indonesia. “Larinya modal asing keluar dari Indonesia membuat cadangan devisa yang sempat mencapai level tertingginya di kisaran US$125 miliar pada akhir Agustus 2011, nilainya tergerus hampir US$10 miliar, menjadi US$114,5 miliar di akhir September 2011,” jelas Chief Economist CIMB Niaga, Winang Budoyo.

Harapannya, apa yang terjadi saat ini hanyalah kondisi sesaat. Apalagi, efek dari krisis global belum menyentuh sendi-sendi perekonomian Indonesia. “Ketika ketidakpastian dan kepanikan berkurang, maka dana-dana asing akan kembali memasuki Indonesia”, tambah Winang.

Menurut Pengamat Ekonomi dari UI yang juga Wakil Ketua Komite Ekonomi Nasional Muhammad Chatib Basri, meski saat ini cukup banyak modal asing yang keluar dari Indonesia, dalam jangka menengah aset non US Dollar yang ada di negara emerging market (termasuk di Indonesia) justru menjadi alternatif pilihan investasi bagi investor pemegang dana segar. “Pilihan investasi di negara emerging market menjadi seperti surga bagi mereka,” kata Chatib.

Pemerintah Indonesia telah mengambil beberapa langkah untuk mencegah penyebaran krisis global. Misalnya, saat Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi ke pasar agar rupiah tidak terlalu melemah. Meski pelemahan rupiah mampu mendongkrak kinerja ekspor Indonesia, namun dampaknya tidak terlalu signifikan bagi perekonomian Indonesia.

Berdasarkan hasil stress test perbankan yang rutin dilakukan oleh BI, BI menyatakan perbankan Indonesia merupakan salah satu sektor yang relatif kuat dalam menghadapi goncangan krisis. “Ini seperti blessing in disguise, dalam arti perbankan bisa memanfaatkan kondisi ini untuk mencapai target pertumbuhannya,” ungkap Winang.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, Selasa (11 Oktober 2011) telah memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin, di level 6,5%. Kebijakan ini sebagai antisipasi dari apa yang terjadi di dunia. Chatib melihat bahwa pemerintah dan Bank Indonesia tetap perlu waspada dan berhati-hati dalam situasi ini, walaupun Chatib tetap optimis bahwa pertumbuhan ekonomi akan tetap relatif kuat.

Hal lainnya yang mendapat catatan Chatib adalah program stimulus fiskal, termasuk pendanaannya. Selain itu, bagaimana mengoptimalkan anggaran, misalnya pembangunan infrastruktur juga penting untuk segera dilakukan.