Mencetak Generasi Bangsa yang Cerdas

Noegroho Moempoeni Multiple Intelligences Therapy

Sabtu, 15/10/2011

NERACA. Memiliki anak pintar dan berprestasi di sekolah menjadi dambaan setiap keluarga. Lalu bagaimana bila si anak memiliki keterbatasan dalam menerima pelajaran? Noegroho Moempoeni ahlinya. Ditangan pria kelahiran Yogyakarta, 58 tahun silam ini, kecerdasan dapat ditingkatkan melalui terapi multiple intelligences.

Kemampuan Pak Noeg, akrab ia disapa, bahkan diakui Direktorat Jenderal HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Hukum dan HAM) sebagai satu-satunya penemu dan pencipta metode terapi meningkatkan kecerdasan untuk anak dan dewasa, dengan Hak Cipta No. 035518 & 035519, sejak 27 November 2007 lalu.

Sebelum terjun mengabdi ditengah masyarakat dan membantu ribuan anak Indonesia dalam mendorong meningkatkan kecerdasannya, pria lulusan ITS Fakultas Elektro tahun 1978 ini, sebenarnya memiliki karier cemerlang di perusahaan eksplorasi gas PT Elnusa sebagai financial dan sempat meraih gelar S2 di Boston University.

Pengabdian itu bisa dilakukan dibanyak tempat dan banyak cara, kata Pak Noeg, “Dan saya memilih meninggalkan Elnusa untuk mengabdi pada masyarakat dalam mencetak generasi yang unggul dengan kecerdasan yang dimilikinya,” jelas Pak Noeg yang meninggalkan Elnusa sejak tahun 1997.

Pria dengan lima orang putra hasil pernikahannya dengan Henny Fridayanti ini, menuturkan bahwa sedikitnya ada sembilan kecerdasan melalui multiple intelligences yang diberikan, termasuk intelligence quotient (IQ), emotional quotient (EQ), dan spiritual quotient (SQ).

Ia berkisah, bila kelima buah hatinya juga mengikuti terapi multiple intelligences. Hasilnya? Jenjang pendidikan sekolah kelima anaknya, tak berjalan dengan normal. Termasuk yang dialami si bungsu, Bagus Wisangeni yang bercita-cita menjadi arsitek ini. Diusia yang baru menginjak 12 tahun, Bagus bahkan sudah duduk dibangku kelas 3 SLTP, “Tak ada yang normal, semua mereka lalui dengan mudah,” ujar Pak Noeg tersenyum.

Ketika Bagus (si bungsu) akan masuk Sekolah Dasar diusia empat tahun, cerita Pak Noeg, ia di test untuk menyebutkan huruf abjad sebagai bukti si anak mampu mengenal huruf, Pak Noeg yang mendampinginya justru meminta agar anaknya diberi koran untuk dibaca dengan lancar.

“Begitu pun waktu di test berhitung. Ia diminta menyebutkan angka 1 hingga 20, tapi saya justru meminta guru tersebut memberi soal penjumlahan ratusan,” ujar Pak Noeg mengenang. Sejak usia dua tahun, Bagus memang sudah menjalani terapi multiple intelligences seperti saudaranya yang lain.

Terapi multiple intelligences juga berlaku bagi anak berkebutuhan khusus seperti autis, hiperaktif, dan down syndrome. Namun ia tetap menekankan pentingnya peran orangtua dalam perkembangan si anak. “Keberhasilan terapi ini sangat tergantung pada peran orangtua,” ujarnya.

Sekalipun dilakukan puluhan kali, kata Pak Noeg, namun tetap tidak mau belajar dan berdoa, sama saja tak ada gunanya,” tegas Pak Noeg. Bagi orangtua, lanjut dia, syaratnya adalah sholat, dan bagi si anak harus mau belajar, “Syarat ini berlaku bagi semua pasien dengan latarbelakang apapun agama yang diyakininya,” terang Pak Noeg.

Keahlian sosok yang tinggal di Jalan Cempaka No.60, Pisangan Barat Cirendeu Jakarta Selatan ini, nyatanya sudah mendunia melalui banyak tulisan sejumlah jurnalis asing, seperti dari Perancis, Belanda, Jerman, dan Inggris yang menemuinya saat ia masih bekerja di Elnusa, mereka mengulas seputar peningkatan kecerdasan melalui terapi multiple intelligences yang dilakukan Pak Noeg.

Peningkatan kecerdasan seperti dituang Howard Gardner dari Harvard University dalam buku berjudul, “Theory Multiple Intelligences,” memang berhasil diimplementasikan Pak Noeg pada ribuan anak Indonesia yang berobat padanya, termasuk beberapa pejabat tinggi negara yang mempercayakan peningkatan kecerdasan anak atau cucunya pada Pak Noeg.

“Generasi kita akan benar-benar pintar, cerdas, dan mandiri. Ia dapat memotivasi diri dan luwes dalam berinteraksi dengan orang lain, sehingga mudah baginya mengaktualisasikan diri menjadi anak yang cerdas,” ujar Pak Noeg.

Menurut dia, prinsip inilah yang diperlukan bangsa Indonesia dalam mempersiapkan sumber daya manusia dalam menghadapi persaingan yang kuat di era globalisasi, “Saya sangat bersyukur dapat mengambil peran dalam mencetak generasi kita, calon para pemimpin bangsa yang akan membawa negeri ini mencapai harapan dan cita-cita yang luhur dan mulia,” ungkapnya mensyukuri.