Harus Diikuti Turunnya Lending Rate

BI Rate Turun ke 6,5%

Rabu, 12/10/2011

Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, turunnya BI Rate sebesar 25 basis poin harus diikuti dengan turunnya landing rate. Hal ini agar sektor usaha dapat memanfaatkannya. "Itu buat dunia usaha bagus, saya harapkan turun 25 bps itu diikuti dengan lending rate yang turun," ungkap Hatta ketika ditemui di Jakarta, Selasa.

Hatta menilai, penurunan BI Rate ini tidak akan bermasalah pada perekonomian Indonesia walaupun memang adanya krisis global sekarang. Karena menurut Hatta suku bunga acuan di Indonesia ini masih tinggi dibandingkan AS dan Eropa. "Tidak ada kekhawatiran, Eropa dan Amerika nol koma sekian persen, orang tetap lari ke yield lebih baik (Indonesia)," tambahnya.

Selain itu, inflasi di Indonesia sekarang masih terjaga. "Apalagi dengan inflasi yang terus terjaga, bottom line di landing rate turun dan menggerakkan dunia usaha kita," tukasnya.

Sementara Bank Indonesia (BI) yakin pesatnya pertumbuhan kredit di Indonesia masih dalam tahap wajar. Dengan demikian, ini adalah saat yang tepat untuk menurunkan tingkat suku bunga BI menjadi 6,5 persen. "Pemain biasa ataupun pemain profesional saja kan mudah untuk berhitung apakah policy BI untuk menurunkan BI Rate ini benar atau tidak. Namun, dari kita sendiri menilai bahwa policy BI Rate di posisi 6,75 persen ini sudah ketinggian sehingga menurunkan BI rate di 6,5 persen adalah langkah yang lebih reasonable," ungkap Gubernur BI Darmin Nasution dalam konferensi pers tentang kondisi perekonomian tiga bulanan di Jakarta, Selasa.

Darmin melanjutkan, pertumbuhan kredit perbankan saat ini telah menunjukkan angka yanng besar dan pertumbuhannya lebih banyak di kredit untuk investasi dan modal. "Pertumbuhan kredit perbankan 23,8 persen yoy, itu ditandai dengan kredit invetasi yang tumbuh sebesar 30,1 persen, konsumsi 24,8 persen dan kredit modal kerja 20,8 persen, jadi kredit-kredit ini ternyata digunakan untuk kegiatan-kegiatan produktif," lanjutnya.

Dengan melihat angka pertumbuhan kredit di perbankan ini, ditunjang dengan CAR dan NPL yang rendah, menurunnya perkiraan inflasi di tahun ini dan tahun depan yang berada di bawah lima persen, maka menurutnya saat ini adalah saat yang tepat untuk menurunkan BI rate menjadi 6,5 persen. "Satu-satunya hal yang menbuat pasar keuangan kita bergejolak khususnya di jangka pendek adalah murni karena perekonomian global, fundamental kita sendiri kuat, apalagi yang dikhawatirkan?", kata Darmin.

Hanya saja, ekonom Tony Prasetiantono menyatakan, secara teoretis, penurunan BI Rate akan menyebabkan suku bunga deposito dan suku bunga kredit menurun. Tetapi, Tony sangsi bahwa kredit perbankan akan serta merta naik. "Bank tetap harus mempertimbangkan risiko, terutama terhadap kemungkinan dampak krisis global," kata Tony.

Meski demikian, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) ini optimistis, ekspansi kredit 2011 akan mencapai 24 persen. "Persentase tersebut cukup untuk menyangga pertumbuhan ekonomi 6,5 persen," imbuhnya.

Sedangkan ekonom A Prasetyantoko menyatakan, keputusan BI menurunkan BI Rate merupakan langkah berani dan tidak terduga. Penurunan tingkat inflasi dan kestabilan gejolak perekonomian global diyakini menjadi faktor penentu keputusan tersebut. "Saya mendukung keputusan BI ini. Sekarang tinggal bagaimana bank-bank menyikapi penurunan BI Rate ini. Apakah mereka akan menurunkan suku bunga kredit dan menggenjot sektor riil atau tidak," kata Prasetyantoko.

Menurut ekonom dari Universitas Atmajaya ini, jika penurunan BI Rate disikapi dengan penurunan suku bunga kredit di berbagai bank, maka dinamika bisnis di Indonesia akan terdongkrak. "Penurunan suku bunga di bank juga akan mendorong sektor infrastruktur," imbuhnya.

Prasetyantoko menilai, kekhawatiran capital outflow akibat penurunan BI Rate dapat diredam selama situasi perekonomian global cukup stabil dan tenang. "Dari dalam negeri, stabilitas penguatan rupiah dan IHSG harus terus dijaga. Dengan demikian, pemerintah tidak akan kehilangan cadangan devisa dalam upaya stabilisasi rupiah," imbuhnya.

Meski demikian, Prasetyantoko mengingatkan, jika perekonomian global kembali terguncang dan fundamental ekonomi Tanah Air melemah, maka BI mungkin harus kembali menaikkan BI Rate. "Kita kan juga belum tahu tekanan global dan dorongan inflasi ke depannya seperti apa. Ini yang harus diwaspadai," kata dia.