Menguji Konsistensi Calon Emiten Pasar Modal

Dalam industri pasar modal tidak sekedar menempatkan investasi belaka dan mencari keuntungan semata. Namun bagaimana mensiasati gejolak pasar modal yang kini tengah dihadapi bursa dalam negeri menjadi peluang keuntungan. Setidaknya pernyataan ini yang selalu disampaikan otoritas pasar modal. Kita tidak bisa menafikan, bila krisis ekonomi global yang melanda negeri Yunani memberikan dampak signifikan terhadap kinerja bursa efek Indonesia. Soalnya, indeks harga saham gabungan yang nyaris sempat di level 4.000 anjlok berada di level psikologisnya 3.500.

Namun untuk meredam kepanikan yang berlebihan, pemerintah sangat berkepentingan untuk terus meyakinkan pelaku pasar agar tetap diam di pasar modal dan bahkan segera mengkoleksi lebih banyak saham-saham unggulan yang sudah murah. Alasannya, bila kondisi pasar membaik maka keuntungan yang didapat berlimpah-limpah. Namun apa yang disampaikan pemerintah tentang industri pasar modal dalam negeri masih bagus, tidak serta merta langsung ditelan begitu saja bagi pelaku pasar dan terlebih mereka calon emiten yang akan melepaskan saham perdananya di pasar modal.

Bagi mereka pelaku pasar, masuk ke industri pasar modal di tengah fluktuasi tajam harga saham merupakan bunuh diri. Laksana seorang nelayan yang mengarungi lautan, mungkin sudah memiliki nyali besar untuk berani melawan arus yang besar. Maka tidak heran, pelaku pasar tidak mau mengambil risiko besar untuk menempatkan fulusnya dipasar modal yang riskan ludas akibat fluktuasi saham. Pasalnya, bagi mereka kembali masuk pasar modal perlu analisa tajam dan matang, bukan bersikap spekulatif seperti penjudi.

Mungkin, apa yang disampaikan pemerintah ada benarnya bila industri pasar modal dalam negeri masih tetap aman dengan didukung berbagai faktor ekonomi makro. Sebut saja tingkat inflasi terkendali, suku bunga, fundamental ekonomi yang baik serta kinerja beberapa emiten yang cukup bagus. OIeh karena itu, tidak ada alasan untuk lepas investasi di Indonesia, kendatipun tidak ada jaminan dari pemerintah bila nilai sahamnya nanti terus anjlok. Ya begitulah investasi, tidak melulu untung dan adakalanya harus berani mengambil risiko merugi.

Persoalannya, bagaimana kita bisa bangkit dari keterpurukan dan belajar lebih matang untuk memilih investasi.

Kondisi ini juga diamini dengan beberapa calon emiten yang tetap setia untuk listing di pasar modal, walaupun beberapa analis melihat bukan momentum tepat disaat fluktuasi tajam pasar modal. Diantara calon emiten yang konsisten untuk IPO perlu diapresiasi dan tidak pedulikan kondisi pasar, karena mereka menyakini kondisi ini masih wajar ditengah beberapa emiten yang menunda pelaksanaan IPO karena khawatir saham yang ditawarkan turun karena pengaruh dampak krisis global.

Artinya, sebagian calon emiten telah teruji konsistennya untuk tetap listing dengan berbagai pertimbangan matang. Bagi mereka kinerja keuangan bagus dinilainya cukup memberikan keyakinan pelaku pasar bila saham yang ditawarkan akan terserap banyak ketimbang hanya mementingkan pencitraan pasar luar negeri. Sikap inilah yang harus dibangun bagi pelaku pasar dalam negeri dan tidak bergantung semata pada investor asing.

BERITA TERKAIT

China Diprediksi Akan Lewati AS Sebagai Pasar Otomotif Terbesar

China diproyeksikan akan melewati Amerika Serikat (AS) sebagai pasar otomotif terbesar dunia pada 2022, menurut Chief Executive Officer Nissan Motor…

Penuhi Modal, SNP Finance Rencanakan IPO

Perusahaan pembiayaan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) berencana mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), melalui mekanisme Initial Public…

Citilink Buka Pasar Regional Lewat Skytrax

Maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink Indonesia menjadikan penghargaan bintang empat dari Skytrax yang baru saja diraihnya menjadi sebuah pintu untuk…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Modal Pemerintah di Koperasi, Mungkinkah?

Oleh : Agus Yuliawan  Pemerhati Ekonomi Syariah Koperasi yang merupakan soko guru perekonomian nasional—sebenarnya mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap…

Keuangan Inklusif yang Ekslusif

  Oleh: Ariyo DP Irhamna Peneliti INDEF   Pada 13 Februari 2018, Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Utusan Khusus…

Penggabungan PGN Ke Pertamina - Oleh : Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for budget Analysis (CBA)

Hingga september 2017 total aset Perusahaan Gas Negara (PGN) mencapai USD6.307.676.412 atau setara Rp83.892.096.279.600 (Kurs Rupiah Rp 13.300). Bahkan PGN…