BEI Keluhkan Sulitnya BUMN Go Public - Minta Revisi UU No.19/2013

NERACA

Jakarta – Meskipun PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bukan dari mitra kerja dari Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai komisi keuangan dan ekonomi, namun kehormatan bagi BEI bisa hearing dengan DPR untuk menyampaikan perkembangan kondisi industri pasar modal ditengah perlambatan ekonomi dan derpresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Dalam dengar pendapat di DPR, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio bersama jajaran direksi BEI menyampaikan keluhannya, sulitnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk go public di pasar modal. Hal ini dikarenakan panjangnya tahapan yang harus dilalui BUMN untuk bisa mencatatkan saham (listing) di bursa.

Menurut Tito, Undang Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN menyulitkan perusahaan-perusahaan milik negara untuk go public. Sejak keluarnya UU tersebut 12 tahun lalu, hanya 8 BUMN yang sahamnya dilepas di publik. Sebelum adanya UU ini, sudah ada 13 BUMN yang listing di bursa.”Sejak keluarnya UU BUMN tahun 2003, hanya 8 BUMN yang listing di bursa," ujar Tito di Jakarta, Kamis (15/10).

Berdasarkan UU 19/2003, setidaknya terdapat 25 tahap sebelum BUMN dapat melakukan permohonan listing di otoritas bursa. Tahapan tersebut dimulai dari usulan rencana privatisasi oleh Menteri BUMN, diusulkan dalam RAPBN, sosialisasi, konsultasi dengan DPR, pembentukan tim privatisasi, penetapan hasil seleksi, sampai proses IPO‎ (Initial Public Offering). Banyaknya tahapan memakan waktu sampai bertahun-tahun. "PT Semen Baturaja ‎misalnya, mereka butuh 5 tahun 6 bulan hingga akhirnya bisa listing di bursa. Ada ketidakjelasan proses di pemerintah selama 4 tahun, persetujuan DPR butuh 1 tahun," ucapnya.

Beberapa perusahaan pelat merah pun ada yang akhirnya gagal melantai di bursa karena kandas di tengah tahapan, misalnya Perum Pegadaian dan PT Pos Indonesia. Padahal, kata Tito, kenyataan telah membuktikan bahwa privatisasi membuat pengelolaan BUMN lebih baik, lebih transparan, dan nilainya melonjak sampai berkali-kali lipat. Bank BRI contohnya, kapitalisasi pasarnya saat baru IPO hanya Rp 10,19 triliun, kini sudah naik sampai 2.224% menjadi Rp 236,9 triliun."Fakta memperlihatkan bahwa BUMN yang diprivatisasi baik langsung melalui pasar modal dan cara lainnya mempunyai hasil kerja yang relatif lebih baik dibanding yang masih dikelola penuh birokrasi," kata Tito.

Karena itu, Tito berharap DPR mau merevisi UU 19/2003 agar BUMN bisa lebih mudah go public. ‎Pasalnya, bila UU ini direvisi, proses untuk listing bagi BUMN akan lebih mudah. Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida pernah bilang, BUMN dapat memanfaatkan pasar modal Indonesia sebagai tempat memobilisasi dana investasi guna membiayai program-progam pembangunan infrastruktur yang bersifat jangka panjang. Kondisi itu tentunya membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit bagi BUMN."Untuk itu kami mendorong BUMN dapat memanfaatkan pasar modal Indonesia guna membiayai program-progam pembangunan infrastruktur yang bersifat jangka panjang. Apalagi, saat ini likuiditas pembiayaan konvensional melalui perbankan semakin terbatas," ujarnya. (bani)

BERITA TERKAIT

TERKAIT RENCANA REVISI UU DUNIA USAHA - Presiden Minta Masukan dari Kalangan Pengusaha

Jakarta-Presiden Jokowi memanggil kalangan pengusaha yang tergabung Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia), Kadin Indonesia dan Hipmi, untuk meminta masukan terobosan baru…

BEI Delisting Pencatatan Efek SIAP di Pasar

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin menghapus pencatatan efek saham milik PT…

BEI Beri Notasi Khusus 51 Emiten Bermasalah

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyematkan notasi khusus pada 51 kode saham emiten hingga tanggal 11 Juni 2019. Dengan demikian,…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

Kerugian Steady Safe Susut Hingga 54%

Meskipun masih mencatatkan rugi di kuartal pertama 2019, PT Steady Safe Tbk (SAFE) mengklaim rugi bersih yang dibukukan senilai Rp1,809…

Volume Penjualan SMCB Masih Terkoreksi

Lesunya pasar semen dalam negeri dirasakan betul oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Perusahaan yang dulunya PT Holcim Indonesia…