Pohon Kelapa Untuk Rumah Adat Jawa

Sabtu, 22/10/2011

Neraca. Pohon kelapa mempunyai banyak kegunaan, baik dari mulai akar sampai daunnya. Kelapa mempunyai struktur batang yang terpisah-pisah serat kambiumnya, hal itu memungkinkan membentuk serat yang padat ketika mencapai umur tua dari pohon tersebut. Masyarakat di pulau jawa mengenal banyak sekali fungsi dari kelapa dari jaman nenek moyangnya, mulai dari akar yang berfungsi untuk membuat keset, bonggol batang untuk kentongan siskamling. Lalu batang pohon untuk struktur rumah, buah kelapa untuk santan, kelopak buah untuk centong nasi, serabut kelapa untuk mencuci piring. Kemudian daunnya untuk ketupat, tulang daun untuk sapu lidi. Itu semua masih banyak model contoh lainnya yang menjadikan kelapa pohon multiguna yang harus dikembangkan.

Mengingat batang kelapa mempunyai struktur kuat dengan seratnya yang padat pada sisi diameter terluarnya, maka banyak konstruksi rumah-rumah di desa yang menggunakan batang kelapa ini, sebagai struktur utamanya untuk membuat rumah tinggal mereka. Selain harganya yang relatif murah, bahan tersebut juga mudah didapat karena mudah tumbuh pada dataran rendah. Glugu, orang jawa menyebutnya, memiliki kekuatan yang baik untuk konstruksi bangunan jikalau masa panen sudah tepat dan tidak terlalu muda untuk dijadikan konstruksi.

Oleh karena itu, jika terlalu muda akan menimbulkan “bubukan” sebab serat yang terbentuk merupakan serpihan-serpihan yang disatukan oleh unsur kayunya, jadi jikalau terlalu muda “putihan”akan melepaskan serat-serat utamanya. Kepadatan yang dihasilkan akan mengalami berat masa yang baik untuk struktur, jadi kekuatan dapat dihandalkan puluhan tahun umurnya.

Musuh dari konstruksi Glugu ini tidak lain adalah air dan binatang rayap bubuk. Untuk menanggulanginya orang Cilacap biasa menggunakan ‘potas” sebagai media pengawet dan tahan rayap, ada yang dengan direndam pada unsur kimiawi. Banyak cara sedang dilakukan untuk menanggulangi sebagai konstruksi untuk eksterior. Untuk itu, percobaan terus dilakukan harus selaras dengan pertumbuhan glugu, dan harus di tumbuh kembangkan lagi untuk jenis pohonnya yang mulai menipis jumlahnya di Indonesia.