free hit counter

Desain Rumah Tradisional Jawa

Sabtu, 22/10/2011

Orang Jawa memiliki stereotipe sebagai suku bangsa yang sopan dan halus. Tetapi mereka juga terkenal sebagai suku bangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. Sifat ini konon berdasarkan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik, karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat.

Neraca. Walaupun terpaan ideologi modern cukup kuat, namun manusia Jawa yang hidup dalam bayang-bayang Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta masih tetap menyimpan dan memegang teguh pandangan budaya, misalnya tentang keberadaan makhluk supranatural, mitos, adat istiadat, bentuk rumah dan lain-lain.

Tentunya pandangan-pandangan tersebut mengandung suatu makna yang dalam dan mempunyai keeratan hubungan dengan konsepsi manusia Jawa tentang dunia. Peta kognitif ini merupakan dokumen dan khazanah pengetahuan penting dalam usaha memahami budaya Jawa saat ini, apabila budaya dipandang sebagai sesuatu yang secara internal heterogen dan muncul dari peristiwa-peristiwa yang paling mendasarinya

Tipologi rumah atau tempat tinggal yang sering disebut “omah”, dimaksudkan adalah tempat bernaung bagi masyarakat di pulau Jawa. Kehidupan orang Jawa mencakup 3 syarat sebagai ungkapan pengertian hidup, yaitu mencukupi kebutuhan sandang (pakaian yang wajar), Pangan ( minum dan makan ) dan Papan ( tempat tinggal ). Untuk syarat yang ketiga yaitu kebutuhan akan rumah tinggal haruslah terpenuhi, sebab hal tersebut sebagai syarat untuk mencapai kehidupan yang sejahtera. Jika sudah memiliki rumah tinggal sendiri, maka mereka tidak akan menyewa tempat bernaung atau sering disebut “ngindhung”.

Bentukan rumah yang sederhana adalah ungkapan kesederhanaan hidup masyarakat Jawa. Hal itu dapat terlihat dari penggambaran bentuk denah yang cukup sederhana. Biasanya bentuk denah yang diterapkan adalah berbentuk persegi, yaitu bujur sangkar dan persegi panjang. Hal tersebut sesuai dengan estetika hidup orang Jawa yang mempunyai ketegasan prinsip dalam menjalankan tanggung jawab terhadap hidupnya. Sedangkan tipologi bentuk denah oval atau bulat tidak terdapat pada bentuk denah rumah tinggal orang Jawa. Bentuk persegi empat ini dalam perkembangannya, mengalami perubahan dengan adanya penambahan-penambahan ruang pada sisi bagian bangunannya, dan tetap merupakan kesatuan bentuk dari denah persegi empat.

Berdasarkan pada sejarah pembelajaran perkembangan bentuk rumah tinggal orang jawa dapat dikategorikaan menjadi 4 macam bentukan yang mendasarinya sebagai bentuk rumah tinggal. Yaitu rumah tradisional bentuk “Panggangpe”, bentuk “Kampung”, bentuk “Limasan” dan bentuk “Joglo”. Rumah tradisional bentuk “Tajug” tidak dipakai sebagai rumah tinggal, melainkan dipakai sebagai rumah ibadah. Sebenarnya kategori bentuk di atas di pisahkan berdasarkan perbedaan bentukan atap yang dijabarkan seperti dibawah ini:

Rumah “panggangpe” merupakan bentuk bangunan yang paling sederhana dan bahkan merupakan bentuk bangunan dasar. Bangunan “panggangpe” ini merupakan bangunan pertama yang dipakai orang untuk berlindung dari gangguan angin, dingin, panas matahari dan hujan. Bangunan yang sederhana ini mempunyai bentuk pokok berupa tiang atau “saka” sebanyak 4 atau 6 buah. Sedang pada bagian sisi sekelilingnya diberi dinding yang hanya sekedar untuk menahan hawa lingkungan sekitar, atau dapat dikatakan sebagai bentuk perlindungan dari gangguan alam. Pada perkembangannya bentuk rumah “panggangpe” ini mengalami perubahan menjadi variasi bentukan yang lain, kira-kira sebanyak 6 bentukan hasil dari perkembangan bentuk sederhana tersebut.

Selain rumah tersebut, desain lainnya yang cukup kita kenal adalah Joglo. Rumah tradisional masyarakat Jawa, yaitu rumah Joglo merupakan tempat tinggal yang mempunyai derajat sosial tinggi pada tatanan kehidupan masyarakatnya. Pada perkembangan arsitektural sekarang ini, hal tersebut menjadi pudar dan hanya kalangan tertentu yang dapat memilikinya atau menginginkan bangunan tersebut menjadi bagian dari kehidupan rumah pribadinya. Rumah tradisional Joglo sekarang ini jumlahnya semakin sedikit di Indonesia, karena era modern menjadikan bangunan ini kurang diminati oleh masyarakat.

Selain hal tersebut, rumah joglo memerlukan biaya cukup mahal untuk dibangun menggunakan material baru yang disebabkan banyaknya kayu yang dibutuhkan sebagai strukturnya, sedangkan jumlah kayu semakin menipis menimbulkan dampak harga kayu menjadi mahal, sehingga hanya kalangan tertentu yang dapat membangun bangunan ini dengan material baru.

Rumah Joglo kampung ini mempunyai 16 buah tiang atau kolom sebagai penopang konstruksi atap yang terdiri dari 4 buah “saka guru” dengan masing masing tiang berukuran (15cm x 15cm) dan 12 buah tiang emper masing-masing berukuran (11cm x 11cm), serta mempunyai 5 buah “Blandar Tumpang Sari” lengkap dengan “kendhit”atau “koloran” yang berfungsi sebagai balok penyiku konstruksi utama bangunan tersebut. Keseluruhan bangunan asli menggunakan material struktur kayu jati dan mempunyai ukuran 8,4 m x 7,6 m.