"Kebangkrutan" Yunani Tidak Terhindarkan Lagi

KECIL, DAMPAK TERHADAP EKSPOR INDONESIA

Senin, 10/10/2011

NERACA

Jakarta – Gonjang-ganjing suhu ekonomi politik di Yunani menyebarkan pesimisme di tengah program pengetatan anggaran oleh pemerintahnya yang bakal tidak berjalan mulus dan bisa terancam gagal bayar (default) atas obligasinya. Jika ini terjadi, banyak lembaga keuangan Eropa siap terseret bangkrut karena memiliki portofolio utang Yunani sangat besar.

Berdasarkan data Bank For International Settlement (BIS), total utang Yunani sekitar US$ 145,78 miliar. Sedangkan sejumlah bank di Eropa memegang obligasi pemerintah Yunani sekitar US$136,32 miliar, terbanyak adalah bank-bank di Prancis hingga US$ 56,74 miliar, Jerman US$ 33,97 miliar, Inggris US$14,06 miliar, dan Portugal 10,28 miliar.

Dapat dibayangkan, bila gagal bayar utang Yunani tidak segera diselesaikan, dipastikan efek penularannya (contagion effect) ke Eropa sangat cepat. Karena, sejumlah negara di Eropa mempunyai postur keuangan mirip Yunani, yakni eksposur utangnya sangat besar. Per 2010, rasio utang Yunani terhadap PDB ini sekitar 142,8%, sedangkan Portugal sebesar 119%, Italia 119%, dan Irlandia 96,2%.

Menanggapi kondisi Yunani itu, pengamat ekonomi Dr. Chatib Basri mengatakan kebangkrutan Yunani sudah diprediksi sejak lama, karena itu pelaku pasar maupun dunia usaha sudah bisa memperkirakan dampaknya.

Menurut dia, nilai ekspor Indonesia ke Yunani tidak begitu besar, hanya sekitar 0,1% dari nilai ekspor Indonesia. “Karena itu dampak kebangkrutan Yunani itu tidak begitu besar mempengaruhi nilai ekspor kita,” katanya kepada Neraca, Minggu (9/10).

Senada dengan Chatib, guru besar FE Univ. Brawijaya Prof. Dr. Erani mengatakan krisis yang terjadi di Yunani, secara langsung dampaknya tidak terlalu besar buat Indonesia ,asalkan Indonesia mempunyai sistem fundamental perekonomian yang kuat.

Lebih jauh lagi dia memaparkan,krisis yang terjadi di Yunani bisa juga dirasakan dampaknya buat Indonesia, boleh dikatakan sebagai second around investment, apabila dampak krisis Yunani tersebut mempengaruhi negara Eropa lainnya, terutama terkait dengan negara tujuan ekspor Indonesia.

"Yunani menuju gagal bayar yang kacau dan atau devaluasi. Gagal bayar Yunani tidak dapat dihindari," ujar miliarder George Soros di media asing, belum lama ini.

Soros mengatakan, penularan default beberapa akan terhindari, yakni sisa dari zona euro yang perlu dipagari. Itu berarti akan memperkuat zona euro, yang kemungkinan dengan menggunakan Eurobonds dan skema asuransi deposito zona euro.

Dia mengakui, dampak yang lebih besar dirasakan oleh pialang yang bergerak di pasar uang. ”Dengan default-nya Yunani akan terasa di sektor finansial. Tetapi tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi atai membendungnya. Karena itu merupakan pergerakan market,” katanya.

Berbeda Pendapat

Ekonom FEUI Dr. Lana Soelistianingsih menilai, dampak krisis Yunani ini akan sangat signifikan, apalagi setelah negara itu dinyatakan bangkrut akibat terbelit utang. Terkait dampaknya ke Indonesia, ada beberapa sektor yang harus diwaspadai. Pertama, dalam jangka pendek, sektor keuangan atau perbankan jelas terkena imbas. Krisis Yunani dan Eropa, termasuk AS, akan membuat investor asing menarik dananya dari negara-negara emerging market, termasuk Indonesia. Mereka lebih merasa aman jika memegang cash dalam US$ ketimbang memegang saham.

Kedua, dampaknya pada sektor riil. Dengan penarikan dana oleh investor, dikhawatirkan sektor riil Indonesia akan tertekan secara signifikan karena votalitas dana asing. Ketiga, krisis Yunani jelas akan berdampak pada mata uang rupiah. Seluruh mata uang Asia, kecuali Jepang dan China, akan mengalami pelemahan akibat krisis Eropa. Pelemahan rupiah akan berefek pada inflasi karena faktor impor kita yang cukup besar.

Selain itu, menurut Lana, pelemahan rupiah juga akan berdampak pada kinerja ekspor Indonesia. Dampak pada sektor keuangan telah banyak dijaga oleh BI, namun dampak terhadap sektor riil, pemerintah sepertinya belum serius mengantisipasi.

”Memang kalau kita lihat secara bilateral, krisis Yunani tampaknya kecil berakibat langsung pada Indonesia. Namun, kalau kita lihat secara kawasan, pelemahan ekonomi Yunani akan merembet ke negara Eropa lain. Kita lihat aja Inggris juga sudah kena dampak krisis Yunani, ” ujarnya kemarin.

Dampak terhadap Indonesia, menurut dia, memang tidak bisa diukur volume dampaknya sebesar apa atau pada sektor mana yang terbesar. Tapi efek dari sentimen dari krisis Yunani akan jauh lebih besar. Ketidakpastian akibat krisis Eropa inilah yang juga berpotensi harus dibayar mahal oleh siapapun.

Lana mengingatkan, cadangan devisa Indonesia telah tergerus US$10 miliar. Sampai akhir Oktober dampak ini akan terus menghantui, sementara pada Nov. akan membaik, dan Des. akan lebih baik. Saya kira pemerintah harus ambil posisi dengan memastikan anggaran terserap maksimal agar konsumsi masyarakat yang berkurang, pelemahan ekspor, dan investasi yang melemah tidak berdampak lebih buruk.

iwan/agus/munib