”Kebangkrutan” Yunani Tidak Terhindarkan Lagi - KECIL, DAMPAK TERHADAP EKSPOR INDONESIA

NERACA

Jakarta – Gonjang-ganjing suhu ekonomi politik di Yunani menyebarkan pesimisme di tengah program pengetatan anggaran oleh pemerintahnya yang bakal tidak berjalan mulus dan bisa terancam gagal bayar (default) atas obligasinya. Jika ini terjadi, banyak lembaga keuangan Eropa siap terseret bangkrut karena memiliki portofolio utang Yunani sangat besar.

Berdasarkan data Bank For International Settlement (BIS), total utang Yunani sekitar US$ 145,78 miliar. Sedangkan sejumlah bank di Eropa memegang obligasi pemerintah Yunani sekitar US$136,32 miliar, terbanyak adalah bank-bank di Prancis hingga US$ 56,74 miliar, Jerman US$ 33,97 miliar, Inggris US$14,06 miliar, dan Portugal 10,28 miliar.

Dapat dibayangkan, bila gagal bayar utang Yunani tidak segera diselesaikan, dipastikan efek penularannya (contagion effect) ke Eropa sangat cepat. Karena, sejumlah negara di Eropa mempunyai postur keuangan mirip Yunani, yakni eksposur utangnya sangat besar. Per 2010, rasio utang Yunani terhadap PDB ini sekitar 142,8%, sedangkan Portugal sebesar 119%, Italia 119%, dan Irlandia 96,2%.

Menanggapi kondisi Yunani itu, pengamat ekonomi Dr. Chatib Basri mengatakan kebangkrutan Yunani sudah diprediksi sejak lama, karena itu pelaku pasar maupun dunia usaha sudah bisa memperkirakan dampaknya.

Menurut dia, nilai ekspor Indonesia ke Yunani tidak begitu besar, hanya sekitar 0,1% dari nilai ekspor Indonesia. “Karena itu dampak kebangkrutan Yunani itu tidak begitu besar mempengaruhi nilai ekspor kita,” katanya kepada Neraca, Minggu (9/10).

Senada dengan Chatib, guru besar FE Univ. Brawijaya Prof. Dr. Erani mengatakan krisis yang terjadi di Yunani, secara langsung dampaknya tidak terlalu besar buat Indonesia ,asalkan Indonesia mempunyai sistem fundamental perekonomian yang kuat.

Lebih jauh lagi dia memaparkan,krisis yang terjadi di Yunani bisa juga dirasakan dampaknya buat Indonesia, boleh dikatakan sebagai second around investment, apabila dampak krisis Yunani tersebut mempengaruhi negara Eropa lainnya, terutama terkait dengan negara tujuan ekspor Indonesia.

"Yunani menuju gagal bayar yang kacau dan atau devaluasi. Gagal bayar Yunani tidak dapat dihindari," ujar miliarder George Soros di media asing, belum lama ini.

Soros mengatakan, penularan default beberapa akan terhindari, yakni sisa dari zona euro yang perlu dipagari. Itu berarti akan memperkuat zona euro, yang kemungkinan dengan menggunakan Eurobonds dan skema asuransi deposito zona euro.

Dia mengakui, dampak yang lebih besar dirasakan oleh pialang yang bergerak di pasar uang. ”Dengan default-nya Yunani akan terasa di sektor finansial. Tetapi tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi atai membendungnya. Karena itu merupakan pergerakan market,” katanya.

Berbeda Pendapat

Ekonom FEUI Dr. Lana Soelistianingsih menilai, dampak krisis Yunani ini akan sangat signifikan, apalagi setelah negara itu dinyatakan bangkrut akibat terbelit utang. Terkait dampaknya ke Indonesia, ada beberapa sektor yang harus diwaspadai. Pertama, dalam jangka pendek, sektor keuangan atau perbankan jelas terkena imbas. Krisis Yunani dan Eropa, termasuk AS, akan membuat investor asing menarik dananya dari negara-negara emerging market, termasuk Indonesia. Mereka lebih merasa aman jika memegang cash dalam US$ ketimbang memegang saham.

Kedua, dampaknya pada sektor riil. Dengan penarikan dana oleh investor, dikhawatirkan sektor riil Indonesia akan tertekan secara signifikan karena votalitas dana asing. Ketiga, krisis Yunani jelas akan berdampak pada mata uang rupiah. Seluruh mata uang Asia, kecuali Jepang dan China, akan mengalami pelemahan akibat krisis Eropa. Pelemahan rupiah akan berefek pada inflasi karena faktor impor kita yang cukup besar.

Selain itu, menurut Lana, pelemahan rupiah juga akan berdampak pada kinerja ekspor Indonesia. Dampak pada sektor keuangan telah banyak dijaga oleh BI, namun dampak terhadap sektor riil, pemerintah sepertinya belum serius mengantisipasi.

”Memang kalau kita lihat secara bilateral, krisis Yunani tampaknya kecil berakibat langsung pada Indonesia. Namun, kalau kita lihat secara kawasan, pelemahan ekonomi Yunani akan merembet ke negara Eropa lain. Kita lihat aja Inggris juga sudah kena dampak krisis Yunani, ” ujarnya kemarin.

Dampak terhadap Indonesia, menurut dia, memang tidak bisa diukur volume dampaknya sebesar apa atau pada sektor mana yang terbesar. Tapi efek dari sentimen dari krisis Yunani akan jauh lebih besar. Ketidakpastian akibat krisis Eropa inilah yang juga berpotensi harus dibayar mahal oleh siapapun.

Lana mengingatkan, cadangan devisa Indonesia telah tergerus US$10 miliar. Sampai akhir Oktober dampak ini akan terus menghantui, sementara pada Nov. akan membaik, dan Des. akan lebih baik. Saya kira pemerintah harus ambil posisi dengan memastikan anggaran terserap maksimal agar konsumsi masyarakat yang berkurang, pelemahan ekspor, dan investasi yang melemah tidak berdampak lebih buruk.

iwan/agus/munib

BERITA TERKAIT

Pasar Industri Mainan Indonesia Yang Menggoda

    NERACA   Jakarta - Pasar mainan Indonesia yang terbilang besar, maka Indonesia menjadi pasar yang potensial bagi industri…

Milenial Makin Tinggi Kesadarannya Terhadap Lingkungan - Bincang Lingkungan di PLK 2019

Milenial Makin Tinggi Kesadarannya Terhadap Lingkungan Bincang Lingkungan di PLK 2019 NERACA Jakarta - Kesadaran kelompok kaum muda, khususnya kelompok…

Hipmi: Investor Tidak Lagi Wait and See - DAMPAK POSITIF PERTEMUAN JOKOWI-PRABOWO

Jakarta-Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia mengatakan, pertemuan Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto menimbulkan konfiden yang…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

DEFISIT APBN MELEBAR HINGGA RP 135 TRILIUN LEBIH - Menkeu: Pertumbuhan Semester I Capai 5,1%

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester I-2019 mencapai  5,1%.  Angka ini berdasarkan perhitungannya terhadap kontribusi…

Moratorium Hutan, Pemerintah Justru Terbitkan Izin 18 Juta Hektar

  NERACA Jakarta - Kepala Departemen Advokasi Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Zenzi Suhadi, menyayangkan sikap pemerintah yang…

Ekonom Ingatkan Investasi dan Permintaan Melandai

NERACA Jakarta- Meski Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan Indonesia bulan Juni 2019 surplus sebesar US$200 juta, surplus neraca…