Kaji Kendala Pertumbuhan Tenaga Kerja

Bappenas Gandang ILO

Senin, 10/10/2011

NERACA

Jakarta --- Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menggandeng Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) guna mengidentifikasi kendala pertumbuhan ketenagakerjaan melalui metodelogi Employment Diagnostic Analysis (EDA). "Identifikasi kendala-kendala penting bagi pertumbuhan ketenagakerjaan sehingga dapat membantu pemerintah lokal dalam membuat kebijakan ketenagakerjaan yang dapat secara efektif mengatasi masalah-masalah ini di tingkat provinsi," kata Per Ronnas, pakar Ketenagakerjaan dan Pembangunan Senior ILO dalam sebuah lokakarya di gedung Bappenas,akhirpekan lalu (9/10).

Menurut Per Ronnas, metodologi tersebut membantu dalam memahami sifat dari kurangnya lapangan pekerjaan produktif dan mengidentifikasi hambatan-hambatan dan peluang-peluang untuk meningkatkan pertumbuhan yang kaya lapangan kerja (padat karya) yang inklusif.

Lebih jauh Ronnas, memaparkan, peluang untuk menghasilkan pendapatan, khususnya bagi rakyat miskin, secara berkelanjutan merupakan faktor kunci bagi keberhasilan orientasi kebijakan yang "pro-pertumbuhan, pro-masyarakat miskin, pro-pekerjaan, dan pro-lingkungan".

Hal ini membutuhkan fokus yang kuat pada penciptaan lapangan pekerjaan yang produktif dan pekerjaan yang layak, khususnya di tingkat lokal, mengingat struktur pemerintahan yang terdesentralisasi. "Oleh karena itu, penting untuk mendukung para pembuat kebijakan dan para pemangku kepentingan setempat untuk mengidentifikasi kendala-kendala penting petumbuhan lapangan kerja, yang akan memperkuat dasar bagi pembuatan kebijakan," katanya.

Deputi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bidang untuk Kemiskinan, Tenaga Kerja, dan Usaha Kecil dan Menengah ,Ceppie K Sumadilaga menghargai dukungan ILO dalam membangun kapasitas para perencana lokal dalam melakukan analisa diagnostik ketenagakerjaan.

"Penciptaan lapangan kerja yang produktif di tingkat lokal merupakan kunci untuk secara efektif mengurangi kemiskinan. Analisa diagnostik ketenagakerjaan membantu para pembuat kebijakan dan para pemangku kepentingan mengidentifikaai masalah-masalah penting yang perlu mereka atasi," kata Ceppie.

Ewa Polano, Duta Besar Swedia, mengatakan bahwa Swedia ingin berkontribusi pada penciptaan kondisi-kondisi yang memungkinkan masyarakat miskin untuk keluar dari kemiskinan. Lapangan kerja yang produktif dan pekerjaan yang layak bagi semua orang juga merupakan target resmi Tujuan Pembangunan Milenium (MDG).

Menurutnya, Indonesia adalah salah satu dari sejumlah negara-negara yang terpilih untuk pekerjaan percontohan dalam Proyek Mempromosikan Pertumbuhan yang Kaya Lapangan Kerja yang Inklusif. "Saya harap akan menuntun kepada kerja sama yang lebih dalam lagi antara kedua negara kita - Indonesia dan Swedia," ujarnya

Ditempat terpisah, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar meminta agar perusahaan swasta di Indonesia untuk rajin-rajin membuka lowongan pekerjaan dan juga program magang agar jumlah pengangguran yang mencapai 8,1 juta orang berkurang. “Perusahaan diharapkan dapat membuka kesempatan lebih luas kepada para pencari kerja dan juga membuka kesempatan program magang di perusahaan," katanya. **cahyo