Pembayaran Utang Kuras Cadangan Devisa - Turun USS10 Miliar

NERACA

Jakarta---Bank Indonesia (BI) mengungkapkan salah satu penyebab terkurasnya cadangan devisa adalah kebutuhan pembayaran utang luar negeri tinggi setiap kuartal. Apalagi hutang luar negeri Indonesia cukul tinggi. "Tiap kuartal, kebutuhan pembayaran utang luar negeri kita tinggi,” kata Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah di Jakarta,

Selain itu, kata Difi lagi, ditambah lagi saat menjelang akhir tahun dimana biaya kebutuhan impor harus ditanggung. “Apalagi menjelang akhir tahun, belum lagi bila memperhitungkan kebutuhan impor, dan untuk stabilisasi rupiah. Ini yang menyebabkan cadangan devisa kita menurun," jelasnya

Bank Indonesia (BI) merilis jumlah cadangan devisa RI hingga 30 September 2011 hanya mencapai sebesar US$114 miliar. Padahal pada akhir Agustus 2011 cadangan devisa sempat tembus posisi US$ 124,5 miliar. Ini berarti jumlah cadangan devisa berkurang hingga US$ 10 miliar.

Deputi Gubernur BI, Hartadi Sarwono sempat mengungkapkan per 19 Agustus 2011 cadangan devisa Indonesia mencapai US$ 124,6 miliar yang menembus rekor baru. Namun cadangan devisa ditutup US$ 124,5 miliar pada akhir Agustus 2011. Jadi selama sebulan cadangan devisa RI anjlok US$ 10 miliar. Cadangan devisa tersebur tergerus akibat langkah BI menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Dolar yang terus menguat akibat banyak diburu pelaku pasar membuat bank sentral harus melepas dolar ke pasar supaya tidak terjadi kekeringan likuiditas. Berdasarkan catatan, cadangan devisa RI sejak Januari 2011 antara lain, Januari US$ 95,3 milliar, Februari US$ 97 miliar, Maret US$ 105,7 miliar, April US$ 116,5 miliar, Mei US$ 118 miliar, Juni US$ 119,65 miliar, Juli US$ 122,7 miliar, Agustus US$ 124,5 miliar, September US$ 114,5 miliar.

Sebelumnya, Hartadi mengakui cadangan devisa sempar tersedot akibat dari langkah Bank Indonesia (BI) yang berusaha menjaga nilai tukar rupiah. Alasanya rupiah sempat menembus ke level Rp Rp 8.800 per dolar AS. Namun akhirnya rupiah kembali menguat di posisi Rp 8.775 per dolar AS. "Cadangan devisa menurun akibat operasi pasar untuk menstabilkan nilai tukar, maupun pembayaran utang luar negeri pemerintah,” terangnya beberapa waktu lalu.

Menurut Hartadi, pelemahan rupiah terhadap dollar AS ini mengharusnya BI melakukan intervensi untuk menjaga kestabilan.. Sehingga biata yang harus dikeluarkan mencapai sekitar US$ 2 miliar dan cadangan devisa ke posisi US$ 122 miliar per akhir pekan ini.

"Cadangan devisa menurun lebih dari US$ 2 miliar dari US$ 124,6 miliar menjadi sekitar US$ 122 miliar," tambahnya

Melemahnya rupiah terhadap dollar AS menurut Hartadi diakibatkan oleh sentimen negatif ekonomi global yang dipicu oleh kekhawatiran oleh memburuknya penanganan krisis di Eropa. "Hal ini telah memberikan tekanan pada keluarnya investor asing yang berjangka pendek untuk profit taking," terangnya.**cahyo

BERITA TERKAIT

BI Yakin Arus Modal Asing Tetap Deras - Suku Bunga Acuan Turun

      NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini aliran modal asing akan tetap masuk…

Manajemen Risiko Utang dan Investasi

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Utang yang terus menumpuk pada pemerintahan…

Pendapatan Grahamas Citrawisata Turun 10,13%

Semester pertama 2019, PT Grahamas Citrawisata Tbk (GMCW) mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 10,13% menjadi Rp13,3 miliar dari periode yang sama…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Sentry Safe Hadirkan Brankas dengan Proteksi terhadap Kebakaran dan Banjir

  NERACA Jakarta – Brankas biasanya digunakan untuk menyimpan dokumen-dokumen penting ataupun barang-barang berharga. Oleh karena itu Sentry Safe mengeluarkan…

SKK Migas Inginkan Penyebaran Informasi Kontribusi Hulu Migas Di Daerah

NERACA Balikpapan - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Kontraktor Kontrak Kerjasama…

Sky Energy Luncurkan Produk Teringan di Dunia - Pembangkit Tenaga Surya

      NERACA   Jakarta - Kebutuhan akan listrik semakin meningkat seiring berkembangnya teknologi. Pada 2019, kebutuhan listrik dunia…