Boediono Minta Waspadai Krisis Pangan

Senin, 10/10/2011

NERACA

Jakarta – Ketahanan pangan menjadi salah satu kekuatan negara yang mampu menghalau krisis global. Karena itu kebutuhan pangan harus dijaga ketersediannya. Apalagi untuk negara berkembang produksi pangan dibutukan hingga 100%. “Satu perkiraan mengatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut, produksi pangan global saat ini harus ditingkatkan sekitar 75% dan khusus untuk negara-negara berkembang ditingkatkan sampai 100%," kata Wakil Presiden (Wapres) Boediono di Jakarta,

Lebih jauh Boediono mengingatkan mulai munculnya kekhawatiran soal krisis pangan. Dimana terjadi ketimpangan antara konsumsi yang tinggi dan produksi pangan dunia.

"Perhatian dunia, dan perhatian kita di ASEAN, akhir-akhir ini tertuju pada perkembangan yang mengindikasikan adanya ketimpangan yang makin melebar antara konsumsi dan produksi pangan dunia," tambahnya

Menurut mantan Gubernur Bank Indonesia ini, kerjasama di bidang pangan sangat urgen. Apalagi tingkat kebutuhan konsumsi yang kian tinggi seiring dengan pertumbuhan masyarakat dunia yang kian bertambah. "Saya ingin menggarisbawahi satu bidang besar kerjasama yang makin terasa urgensinya. Bidang kerjasama ini secara eksplisit diamanatkan dalam KTT ASEAN ke-18 yang lalu. Bidang kerjasama yang penting ini adalah kerjasama di bidang pangan," kata Boediono.

Berdasarkan catatan PBB, kata Guru Besar FE UGM ini, pada bulan Oktober 2011 ini akan lahir bayi yang ke-7 milyar. Dan hampir 3.3 miliar (atau 47% penduduk dunia) tinggal di kawasan ASEAN+ China, Jepang, Korsel, India. Melihat ke depan, pada tahun 2050, penduduk dunia akan mencapai 9.5 miliar jiwa.

Karena itu Boediono menekankan pentingnya para pemimpian ASEAN untuk meminta menteri-menterinya untuk mengambil langkah konkret untuk mengatasi ancaman krisis pangan ini. "Dalam KTT ASEAN ke-18 bulan Mei yang lalu, para pemimpin ASEAN memberikan instruksi eksplisit kepada para menteri untuk mengambil langkah-langkah yang konkret untuk menjawab tantangan tersebut," terangnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Rusman Heriawan memperkirakan kemungkian tekanan inflasi pada beberapa bulan depan akan didominasi oleh tingginya harga beras. Hal ini lebih disebabkan terkait dengan musim paceklik dan siklus tahunan. "Jadi kalau kita berbicara pertumbuhan inflasi ya ini beras akan mejadi yang dominan ya pada kontribusi inflasi," ujarnya

Lebih jauh kat Rusman, siklus tahunan juga mempengaruhi inflasi. Karena memang hal ini tak bisa dihindarkan. “Ini kan kalau kita mengulang siklus tahunan terus ya, sampai Februari juga harga beras juga naik. Dan faktanya siapapun tak bisa menghindari ya kan?" tambahnya

Menurut Rusman, sebelum Februari 2012 ini Indonesia kemungkinan besar akan dilanda musim paceklik. Namun meski paceklik. Tetap ada produksi pagi. Hanya saja, tidak sebanyak waktu panen raya. "Musim paceklik kan, artinya pada musim paceklik itu memang ada saja yang panen ya. Tidak seperti panen raya. Jadi secara psikologis memang harga beras itu apa persoalannya? Kan terus pada level tinggi ya. Ini juga jadi tantangan berikutnya," terangnya

Menyinggung soal cadangan beras, Menurut Rusman, Bulog masih memiliki cadangan beras walaupun belum musim panen. Cadangan beras itu banyak diisi oleh beras impor dari Vietnam. "Sekarang pun harus percaya diri Bulog punya kemampuan bahwa cadangan beras itu cukup, " ujarnya

Namun, Rusman menegaskan pembatalan kontrak ekspor beras Thailand tidak akan memengaruhi inflasi. Pasalnya, beras impor yang telah terealisasi lebih besar dibandingkan jumlah beras yang dibatalkan tersebut. **cahyo