Memilih Brand dari Asal Usul

Sabtu, 15/10/2011

NERACA. Dalam memilih atau menamai sebuah produk dalam bisnis kuliner, terkadang diambil dari asal usul produk tersebut berasal. Bahkan beberapa produk dinamai berdasarkan cara, bentuk hingga bunyi saat produk dibuat atau ditawarkan. Semisal, Soto Gebrak, Mie Tek-tek, Kue Lapis, Kue Dadar Gulung, Sate Padang atau Bubur Ayam Bandung.

Beberapa produk kuliner, bahkan memiliki nama dengan sejarah yang cukup panjang. Dan umumnya, produk dengan brand yang memiliki historis yang mengakar mampu bertahan sangat lama tak tergoyahkan dengan produk sejenis yang gencar dipromosikan sehebat apapun. Satu contoh produk yang mengakar dengan brand terlahir dari sejarah yang panjang, adalah ,“Tahu Semedang Ong Bun Keng.”

Saat kita memasuki Kota Sumedang, Jawa Barat. Sederet produk jajanan dan cemilan ala Kota Sumedang seperti caramel, krupuk, dodol, dan lainnya, begitu mudah kita temui, termasuk tahu Sumedang produksi Ong Bun Keng, yang akrab disebut tahu Sumedang, “Bun Keng.”

Seorang tokoh Kota Sumedang keturunan, Ong Yoe Kin, menuturkan bahwa kata “Tahu,” berasal dari bahasa China, yaitu “Tao Hu.” Artinya Tao adalah kacang, dan Hu berarti lumat. Atau sebagian masyarakat China mengartikan Tao Hu sebagai daging tidak bertulang.

Kembali pada kisah tahu Sumedang Ong Bun Keng yang sangat terkenal itu, sejarah bermula dari kedatangan seorang pria imigran China ke Kota Sumedang di tahun 1900, ia bernama Ong Kino, “Kino” bahkan menjadi sebuah brand cemilan ringan yang juga terkenal saat ini.

Ong Kino adalah ayah kandung Ong Bun Keng, lelaki asal negeri China itu terinspirasi membuat tahu berbahan baku kedelai, karena isteri Ong Kino konon sangat mengemari memakan tahu setiap harinya. Dan kecintaan terhadap istrinya, mendorong Ong Kino meramu tahu menjadi makanan yang enak dan gurih dinikmati.

Dalam membuat tahu Sumedang, Ong Kino menggunakan bahan baku kedelai lurik mirip telor puyuh sebagai bahan dasar pembuatan tahu. Kedelai lurik adalah sejenis kacang kedelai langka yang berukuran sama seperti kedelai lainnya.

Pada awalnya, tahu dihidangkan dengan ukuran yang besar dan tebal. Ong Kino lalu merubahnya, dengan cara membagi tahu menjadi empat bagian, agar lebih mudah dinikmati sang isteri, yang nyatanya sangat menyukai karena ukurannya yang lebih kecil sehingga mudah pula dikonsumsi.

Lalu sekitar tahun 1900, tahu China ukuran kecil yang dirintis oleh Ong kino mulai dipasarkan oleh anaknya bernama Ong Bun Keng. Sejak itu tahu ala Ong Kino kian mengharumkan Kota Sumedang sekitar tahun 1917. Dan sejak tahun 1950, nama tahu, “Bun Keng” semakin berkembang dan kian banyak yang menyukainya.

Kisah lain ketika Dalem Sumedang, Pangeran Soeriaatmadja tengah mengunjungi Wilayah Situraja, ia sempat mampir dan mencicipi tahu buatan Ong Bun Keng. Kagum dengan rasanya lezat dan gurih tahu racikan Ong Bun Keng, maka pengeran pun memerintahkan untuk mengembangkan tahu Ong Bun Keng lebih serius. Dan itu telah dilakukannya hingga sekarang ini.