Korupsi Merusak Iklim Investasi

Di tengah upaya pemerintah menggalakkan iklim investasi belakangan ini, ternyata ada satu faktor penghalang yang memiliki daya rusak sangat besar, yaitu korupsi. Kejahatan korupsi inilah yang seringkali membuat biaya produksi yang dikeluarkan membengkak sangat besar, sehingga mengurangi minat investor menanamkan dananya di negeri ini.

Virus korupsi tampaknya sudah membumi di kalangan eksekutif, legislatif dan yudikatif sehingga menjadi pola kejahatan sistemik. Kita seringkali terkaget dengan realitas ini. Masifnya perilaku korup di negeri ini, seharusnya membuat kita melakukan refleksi mendalam atas keberadaan bangsa ini. Apa sebenarnya yang menjadi akar persoalan, sehingga integritas banyak pejabat negara menjadi tercoreng oleh virus korupsi yang demikian akutnya?

Bayangkan, hampir separuh kepala daerah dan anggota/mantan anggota DPR serta pejabat Kementerian/Lembaga terjerat kasus korupsi. Nah, untuk mengurangi laju korupsi yang masih akan mengganggu iklim investasi, saatnya dibutuhkan pemimpin yang berani berada di garda terdepan pemberantasan korupsi. Syaratnya, tentu bukan ahli berwacana, namun berani tampil dan melaksanakan program aksi nyata yang signifikan di mata publik.

Kemudian gerakan antikorupsi semestinya hadir secara masif dan menjadi filosofi nilai kehidupan di masyarakat, kampus, birokrasi dan perusahaan (korporasi) swasta, sehingga ruang gerak para koruptor menjadi sangat terbatas. Karena tanpa itu, virus korupsi akan terus tumbuh subur dan makin merambah kemana-mana.

Setelah sang koruptor tertangkap, para penegak hukum harus mampu menghitung secara ekonomis. Ini sebuah upaya untuk memiskinkan koruptor dalam waktu relatif cepat. Kalau tindakan ini terlambat, koruptor akan terus melakukan praktik korupsi karena akan mendapatkan keuntungan pribadi setelah uang hasil korupsinya diinvestasikan di berbagai instrumen keuangan dan asuransi.

Sebab itu, kini saat yang tepat untuk mengejawantahkan anjuran Machiavelli dalam teorinya melawan konspirasi yang dibangun oleh para koruptor. Antara lain perlunya tampil figur pemimpin yang memiliki rasa rendah hati, bersikap tega dan tegas dalam membangun stabilitas politik yang bersih.

Langkah lainnya, Machiavelli memberikan pilihan pada sang pangeran untuk dicintai atau ditakuti. Yang ideal adalah yang dicintai sekaligus ditakuti. Namun, hal tersebut sangat sulit untuk dicapai. Karena itu, jika tidak bisa dicintai, seorang pangeran haruslah ditakuti. Postur pemimpin yang ditakuti, memiliki wibawa serta kharisma sangat urgent bagi bangsa ini guna melawan skenario jahat koruptor.

Bagaimanapun, bila kendala korupsi tetap tidak bisa ditangani. Maka sebaik apa pun infrastruktur dan memadainya ketersedian energi, investor tetap akan berpikir panjang untuk menanamkan modalnya di negeri ini.

BERITA TERKAIT

Serikat Pekerja Dukung Pemberantasan Korupsi Di PLN

      NERACA   Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah rumah Dirut PLN Syofyan Basir terkait dengan OTT…

KPK-KY Tingkatkan Kerja Sama Cegah Korupsi Hakim

KPK-KY Tingkatkan Kerja Sama Cegah Korupsi Hakim NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Komisi Yudisial (KY) meningkatkan kerja…

Investasi Kota Tangerang Capai Rp2,7 Triliun

Investasi Kota Tangerang Capai Rp2,7 Triliun  NERACA Tangerang - Nilai investasi di Kota Tangerang, Banten, mencapai Rp2,7 triliun hingga Mei…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Mengapa Penetapan Capres-Cawapres 2019 dari Kubu Oposisi Seret?

  Oleh: Muhammad AS Hikam, Pengamat Politik dan Dosen di President University                   Sampai tulisan ini diposting, parpol-parpol yang…

PPDB 2018 Kacau Akibat Kecanduan Tuntaskan Masalah via Adhoc

Oleh: Nanang Djamaludin, Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN) Kali ini Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP dan SMA/SMK…

Asian Games 2018 Tidak Ganggu Keuangan Negara

  Oleh : Ridwan Hilmi, Mahasiswa Universitas Widya Mataram Yogyakarta Asian Games menjadi pertandingan besar yang sebentar lagi akan diselenggarakan…