Rel KA Sulawesi Terkait Basis Pangan

Rel KA Sulawesi Terkait Basis Pangan

Jakarta---Minat investor Rusia terhadap proyek infrastruktur di Indonesia tak surut. Setelah menyatakan minat bangun Rel KA di Kalimantan. Kini siap membangun rel KA trans Sulawesi sepanjang 2000 KM. "Tadi kita sudah menetapkan untuk pembangunan rel kereta api dari ujung ke ujung pulau sepanjang 2.000 Km, sudah ada yang mau mendanai dan sudah siap," kata Ketua Koridor Masterplan Percepatan Pembangunan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI) Wilayah Sulawesi Fadel Muhammad di Jakarta, 6/10

Lebih jauh Fadel menambahkan pembangunan jalur rel KA merupakan usulan inisiatif baru dalam pengembangan koridor Sulawesi terkait MP3EI, untuk menjadikan Sulawesi sebagai salah satu daerah basis produksi pangan terutama beras. "Ini nanti dari Sulawesi Utara ke Sulawesi Selatan. Kita ingin Sulawesi sebagai basis pangan," tambahnya

Menurut Fadel, investor asal Rusia siap untuk membangun jalur tersebut dan desain perencanaan jalur rel ganda KA yang akan berfungsi sebagai sarana konektivitas antar wilayah itu telah dipersiapkan. "Angka belum difinalkan, sudah kita siapkan desain perencanaan. Kita prioritaskan mereka untuk membangun yang ada di sekitar lahan rel kereta. Ini semua untuk membangun industri pertanian," kata Fadel.

Dalam Dokumen MP3EI, terkait dengan pembangunan Koridor ekonomi Sulawesi telah diindentifikasi rencana untuk kegiatan ekonomi utama yaitu pertanian pangan, kakao, perikanan, pertambangan nikel dan migas serta sarana infrastruktur pendukung sekitar Rp309 triliun.

Namun, mayoritas rencana investasi tersebut masih terkait dengan kegiatan ekonomi utama pertambangan nikel. Di samping investasi tersebut, ada beberapa kegiatan yang bukan merupakan kegiatan ekonomi utama di koridor ekonomi Sulawesi, tetapi menjadi bagian dari 22 kegiatan ekonomi utama.

Kegiatan tersebut seperti tembaga, besi baja, makanan minuman, kelapa sawit, karet, tekstil perkayuan dan pariwisata yang difokuskan pada lima destinasi pariwisata nasional dengan investasi Rp30,5 triliun. Selain itu, ada pula investasi dari beberapa kegiatan di luar 22 kegiatan ekonomi utama yang dikembangkan pada MP3EI koridor Sulawesi seperti emas dan petrokimia senilai Rp15 triliun.

Ketua Kelompok Kerja Konektivitas MP3EI Lukita Dinarsyah Tuwo menambahkan pemerintah akan meningkatkan pembenahan sarana infrastruktur dalam bidang pertanian untuk mengejar target ketahanan pangan terutama pada koridor Sulawesi.

Terrkait pembenahan infrastruktur untuk koridor ini selain yang tercantum pada dokumen MP3EI, hal tersebut dimungkinkan karena pemerintah provinsi maupun daerah lebih mengetahui kondisi dan situasi yang terjadi di wilayahnya.

"Perubahan tidak selalu artinya diubah tapi bisa juga menambah, bisa saja penambahan karena daerah lebih tahu apa yang dibutuhkan," ujar Lukita. **cahyo

BERITA TERKAIT

Tekan Impor Barang Modal, Pemerintah Ingin Pacu Produksi Lokal - Terkait Neraca Perdagangan

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan produksi barang subtitusi impor perlu didorong untuk mengurangi kebutuhan barang modal dan…

Pemkot Sukabumi Pastikan Ketersediaan Pangan Cukup

Pemkot Sukabumi Pastikan Ketersediaan Pangan Cukup NERACA Sukabumi - Dinas Koperasi, UKM, Peridustrian dan Perdagangan (Diskopukmpp) Kota Sukabumi, Jawa Barat…

Pupuk Indonesia Canangkan Produksi NPK Hingga 2,4 juta Ton - Menjaga Ketahanan Pangan Nasional

NERACA Palembang – Salah satu industri strategis adalah industri pupuk. Bahkan Industri pupuk menjadi salah satu pilar penyangga ekonomi. Karena…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Bappenas : Asian Games 2018 Harus Bebas dari Teror

      NERACA   Jakarta - Asian Games ke-18 yang akan berlangsung pada tanggal 18 Agustus - 2 September…

Konsumsi Premium Di Jawa Madura dan Bali Turun 50%

    NERACA   Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa konsumsi bahan bakar minyak (BBM)…

BPK Jadi Auditor Anti Korupsi Internasional

    NERACA   Jakarta - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI kembali menerima mandat sebagai auditor Akademi Anti Korupsi International…