ORI Dinilai Investasi Paling Aman

Jumat, 07/10/2011

NERACA

Jakarta – Penjualan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) seri 8 atau ORI008 segera digelar. Apalagi dari pengalaman sebelumnya, pembeli asing cukup antusias. Rencananya, instrumen investasi untuk para peritel itu akan mulai ditawarkan 7 Oktober hingga 21 Oktober 2011. "Pemerintah akan menerbitkan ORI008 tanggal 26 Oktober. Periode penawaran mulai 7 Oktober sampai dengan 21 Oktober 2011," kata Dirjen Pengelolaan Utang Kemenkeu, Rahmat Waluyanto kepada wartawan di Jakarta, Kamis (6/10)

ORI008 akan memiliki tenor 3 tahun dengan kupon sebesar 7,3% yang dibayarkan secara bulanan. Kupon tersebut menurut Rahmat menguntungkan karena lebih tinggi dari rata-rata reposito bank-bank BUMN. ORI juga menguntungkan karena bisa diperdagangkan. "ORI merupakan instrumen investasi yang paling aman dan menguntungkan. Aman karena pembayarannya dijamin sepenuhnya oleh Undang-undang yakni UU APBN dan UU SUN," imbuh Rahmat.

Selain itu, pre-marketing ORI008 akan diadakan di 12 kota kabupaten di seluruh lndonesia yaitu di Yogyakarta, Solo, Purwakarta, Bukittinggi, Salatiga, Mataram, Cepu, Palu, Ternate, Blitar, Tenggarong, dan Tanjung Pinang. Pre-marketing, dijadwalkan dapat dilangsungkan pada 10 Juni hingga 30 September 2011, untuk memenuhi target penjualan ke seluruh Indonesia, maka road show akan diadakan pada 22 kota.

Dalam perkembangan kepemilkan ORI per 18 Juli 2011 tercatat kepemilikan investor perorangan mencapai 43,49%. Tren kepemilikan investor perorangan sendiri menurun semenjak Juli 2010. Tahun lalu, tercatat porsi kepemilikan perorangan pada ORI sebesar 48,65%, artinya terdapat penurunan sebesar 5,16%.

Bertolak belakang dengan perorangan, investor asing pada ORI meningkat drastis dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Jika pada Juli 2010 tercatat kepemilikan asing hanya sebesar 3,31%, maka pada 18 Juli porsi kepemilikan asing pada ORI sudah mencapai 21,65%.

Direktur Surat Berharga Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Bimantara Widyajala mengungkapkan aliran dana asing yang masuk bukan hanya pada Obligasi Negara Ritel saja. "(Investor) asing, hampir semua instrumen dia masukin SBN Syariah (Sukuk), SPN termasuk pasar sekunder," ujarnya

Adapun 25 agen penjual ORI yang sebelumnya pernah ditunjuk Kementerian Keuangan antara lain, Bank UOB Indonesia, Citibank, N.A, PT ANZ Bank Panin, PT Bank Bukopin Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank Danamon Indonesia Tbk, PT Bank Internasional Indonesia Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Mega Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Bank OCBC NISP Tbk, PT Bank Panin Tbk, PT Bank Permata Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Ciptadana Securities, PT Danareksa Sekuritas, PT Kresna Graha Securindo, PT Lautandhana Securindo, PT Mega Capital Indonesia, PT Reliance Securities Tbk, PT Sucorinvest Central Gani, PT Trimegah Securities Tbk, Standard Chartered Bank, The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Ltd. **cahyo