BPS : Beras Terus Dorong Laju Inflasi - Prediksi Hingga Pebruari 2012

NERACA

Jakarta---Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan kemungkian tekanan inflasi pada beberapa bulan depan akan didominasi oleh tingginya harga beras. Hal ini lebih disebabkan terkait dengan musim paceklik dan siklus tahunan. "Jadi kalau kita berbicara pertumbuhan inflasi ya ini beras akan mejadi yang dominan ya pada kontribusi inflasi," kata Kepala BPS, Rusman Heriawan kepada wartawan di Jakarta, Kamis (6/10)

Lebih jauh kat Rusman, siklus tahunan juga mempengaruhi inflasi. Karena memang hal ini tak bisa dihindarkan. “Ini kan kalau kita mengulang siklus tahunan terus ya, sampai Februari juga harga beras juga naik. Dan faktanya siapapun tak bisa menghindari ya kan?" tambahnya

Menurut Rusman, sebelum Februari 2012 ini Indonesia kemungkinan besar akan dilanda musim paceklik. Namun meski paceklik. Tetap ada produksi pagi. Hanya saja, tidak sebanyak waktu panen raya. "Musim paceklik kan, artinya pada musim paceklik itu memang ada saja yang panen ya. Tidak seperti panen raya. Jadi secara psikologis memang harga beras itu apa persoalannya? Kan terus pada level tinggi ya. Ini juga jadi tantangan berikutnya," terangnya

Namun menurut Rusman pemerintah juga harus tetap mengantisipasi barang selain beras, karena juga berpeluang besar meningkatkan angka inflasi. "Ya kemungkinan yang lain ada gejolak juga ya, tapi biasanya beras," imbuhnya

Menyinggung soal cadangan beras, Menurut Rusman, Bulog masih memiliki cadangan beras walaupun belum musim panen. Cadangan beras itu banyak diisi oleh beras impor dari Vietnam. "Sekarang pun harus percaya diri Bulog punya kemampuan bahwa cadangan beras itu cukup, " ujarnya

Namun, Rusman menegaskan pembatalan kontrak ekspor beras Thailand tidak akan memengaruhi inflasi. Pasalnya, beras impor yang telah terealisasi lebih besar dibandingkan jumlah beras yang dibatalkan tersebut. "Kayaknya enggak (terpengaruh ke inflasi), karena yang sudah masuk beras impor kan jauh lebih besar dari pembatalan impor itu," tandasnya

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan dana stabilisasi dan gangguan pangan masih banyak tersisa. Meski begitu, pemerintah tetap akan mencermati dana tersebeut, sehingga tepat sasaran. Adapun dana yang dianggarkan sebesar Rp3 triliun dan digunakan untuk beras miskin (raskin) serta gagal panen (puso). "Dipakai raskin Rp1 triliun, puso Rp300 miliar. Masih cukup besar untuk mengatasi hal yang berkaitan dengan gangguan produksi," jelasnya

Meski begitu, dia mengatakan, pemerintah tetap mewaspadai datangnya musim kering. "Jangan sampai terjadi keterlambatan pada musim tanam, sehingga dana yang masih tersedia untuk stabilisasi dan mengatasi gangguan pangan harus digunakan," tambah Hatta.

Hatta mengaku, ke depannya memang dibutuhkan sejumlah investasi dalam pengembangan pangan ini, seperti sawah baru waduk dan sebagainya. "Memang dibutuhkan sejumlah investasi, cetak sawah baru, irigasi, dan cetak sawah, waduk juga selesai. Irigasi harus dibangun karena waduk ada. Ini semua dipersiapkan," sambungnya.

Oleh karena itu, kata Hatta, dia akan terus mencermati ketersediaan dana ini untuk meningkatkan produksi pangan dan juga meningkatkan produksi pangan diperlukannya sinergi antara BUMN. "Kita akan pertajam ketersediaan dana, dan bagaimana kita siapkan sinergi BUMN, yang sekarang sudah bekerja. Peningkatan produksi pangan melalui sinergi BUMN Sudah berjalan," jelasnya.

"Menteri kehutanan menyiapkan lahan dalam waktu ke depan, tambah dua juta hektare ini tidak boleh konversi, khusus pertanian. Ini akan kita perdalam alokasi daerah, utamanya yang sudah selesai waduknya," pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Ekspor Kakao Diproyeksikan Tumbuh Hingga 10% - Permintaan Tinggi

      NERACA   Jakarta – Di tengah pesimisme sebagian pengusaha sektor perkebunan akan kinerja ekspor pada penghujung tahun…

BTN Genjot Pertumbuhan KPR di Jawa Timur - Dorong Program Sejuta Rumah

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. bakal terus memacu ekpansi bisnis Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Provinsi Jawa Timur (Jatim)…

BPS: NPI Masih Defisit di Agustus 2018 - MESKI EKSPOR TUMBUH, LAJU IMPOR LEBIH DERAS

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca perdagangan Indonesia (NPI) sepanjang Agustus 2018 mengalami defisit sebesar US$1,02 miliar, menurun sedikit…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Naik Rp1,25 Triliun, Banggar Tetapkan Anggaran Subsidi Energi Rp157,79 Triliun

      NERACA   Jakarta - Rapat Panitia Kerja Badan Anggaran DPR menyetujui alokasi subsidi energi sebesar Rp157,79 triliun…

Operasi Pasar Beras Bulog Tak Diserap Maksimal

      NERACA   Jakarta – Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengakui bahwa beras yang digelontorkan melalui operasi…

Presiden Teken Perpres Defisit BPJS Kesehatan Ditutupi dari Cukai Rokok

      NERACA   Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) mengenai penggunaan cukai…