Saham Perbankan dan Pertambangan Terpukul Imbas Krisis

NERACA

Jakarta – Setelah dua hari berturut-turut, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terkoreksi cukup tajam hingga di bawah batas psikologisnya. Namun akhir perdagangan Rabu (5/10), indeks mampu menguat tipis berada di level 3.286,91.

Menurut ekonom UI Irwan Adi Ekaputra, turunnya saham beberapa sektor seperti komoditas, perbankan, pertambangan disebabkan faktor menghindari risiko pasar dalam keadaan tidak pasti (risk aversion), yang mengakibatkan investor keluar dari pasar modal.

“Mereka yang keluar berarti berfikiran short-term. Itu bukan sifat investor tetapi trader. Kalau investor pastinya long-term,” kata dia kepada Neraca, Rabu (5/10).

Pada penutupan perdagangan saham kemarin, tercatat volume perdagangan mencapai 3,7 miliar lot saham senilai Rp 3,6 triliun dengan total transaksi sebanyak 98.060kali.

Menguatnya IHSG akibat pengaruh perdagangan sesi kedua yang didorong oleh sektor barang konsumsi dan keuangan dimana masing-masing indeks tercatat naik 1,71% dan 1,44%.

Saham-saham yang tercatat menguat pada perdagangan akhir a.l. saham Gudang Garam naik 2,3% ke Rp 52.250, saham Mayora naik 2,9% ke Rp 12.500, dan saham Telkom naik 3,4% ke Rp 7.700 per saham.

Kemudian saham sektor komoditas yang bahan bakunya impor dan hasil produknya kemudian diekspor lagi, turut mendukung anjloknya saham tersebut. Apalagi, ditambah kondisi perekonomian AS dan Eropa yang tidak menentu.

“Hal ini membuat ongkos tinggi. Masuk akal kalau (sahamnya) anjlok. Tapi, kenapa investor harus memilih saham itu? Harusnya diutamakan mencari saham yang local content, seperti kelapa sawit dan pakan ternak,” tegas dia.

Oleh karena itu, ke depan pelaku pasar harus bersikap waspada dan mecermati dalam mengkoleksi saham-saham yang rawan terjadi aksi ambil untung dengan cepat terkoreksi sangat dalam.

Ekonom Bank Mandiri Destri Damayanti mengatakan, saham-saham komoditas memang banyak yang merosot belakangan ini. Tetapi hal itu, menurut dia, hanya karena ketakutan pasar saja. Namun seberapa jauh kemerosotannya belum dapat diperkirakan. Selain itu, faktor harga itu kan masih menjadi pertimbangan mereka (investor). "Mereka pasti ingin mencari harga termurah," katanya.

Sementara itu, saham-saham perbankan dinilainya juga masih berpotensi membaik. Pasalnya, menurutnya, saat ini perekonomian Indonesia tetap dapat tumbuh di tengah krisis global. "Yang jelas untuk domestik kita masih bagus, karena industri domestik kita tetap tumbuh," jelasnya.

Hal senada juga pernah disampaikan analis PT Millenium Danatama Securities, Ahmad Riyadi, sepanjang krisis ekonomi di Amerika dan Eropa, saham sektor perbankan paling banyak terkena dampaknya dan harganya terkoreksi tajam atau berfluktuasi tajam.

Dia pernah bilang, koreksi saham perbankan di BEI sangat rawan bila terjadi isu negatif terhadap perkembangan krisis ekonomi di Eropa. Selain itu, terkoreksinya saham perbankan juga disebabkan karena sebelumnya saham perbankan naik dengan volume transaksi yang cukup besar dan menjadi alasan pelaku pasar mengambil untung.

Bersifat Sementara

Kendati demikian, Riyadi menilai, koreksi terhadap saham perbankan diperkirakan hanya sementara saja. Namun kekhawatiran terhadap krisis global juga berbuntut pada tekanan pasar yang terus berlangsung.

Dia memperkirakan ke depan, tidak hanya saham perbankan yang masih terus terkoreksi, tetapi ada industri otomotif dan tembaga yang masih akan tertekan dan mendorong indeks makin terpuruk.

Hal senada juga disampaikan, analis PT First Asia Capital, Ifan Kurniawan, saham perbankan banyak mendominasi terkoreksinya indeks di BEI. Kondisi ini dipicu pelaku pasar asing cenderung melepas saham perbankan yang akan ditukarkan dengan dolar Amerika karena mata uang asing itu dinilai lebih aman ketimbang mata uang utama lainnya.

Menyikapi potensi sektor finansial rawan terhadap krisis ekonomi global dan serta terkereknya sektor perbankan di pasar moda, direktur keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Achmad Baiquni mengatakan, pihaknya optimis krisis ekonomi yang terjadi tidak akan mengganggu kinerja perseroan.

"Sepenuhnya kita akan lihat di September. Kita belum prediksi apakah berlangsung singkat atau lama. Tapi jika melihat fundamental daripada indikator pertumbuahn PDB yang masih bagus yaitu 6,5%, inflasi yang terkendali dan cadangan devisa yang cukup signifikan, saya yakin tidak akan berpengaruh kepada kita," ujarnya. ardi/ahmad/bani

BERITA TERKAIT

Kadin: Tak Mungkin Terulang Krisis 1998-2008 - PROSPEK PERTUMBUHAN INDUSTRI DAN SEKTOR PERKEBUNAN

Jakarta-Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani menyatakan sikap optimistis krisis ekonomi 1998 dan 2008 atau…

Pengawasan Perbankan dan Harga Minyak

  Oleh: Achmad Deni Daruri President Director Center for Banking Crisis   Bagi negara net importir minyak seperti Indonesia, naiknya…

Saat Obligasi Pemerintah Mengancam Industri Perbankan

  Oleh: Djony Edward Langgam pengaturan bunga di industri keuangan belakangan sedikit tercoreng, terutama dengan gencarnya penerbitan Surat Utang Negara…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

RISIKO MATA UANG DIGITAL JANGAN DIANGGAP RINGAN - OJK: Investasi Bitcoin Ilegal di Indonesia

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa investasi mata uang digital seperti bitcoin, altcoin, belum berizin secara resmi di Indonesia. OJK…

Ekonomi Jangan Terganggu Politik

NERACA Jakarta - Presiden Joko Widodo wanti-wanti dengan dimulainya tahun politik yaitu Pilkada di 2018 dan Pilpres di 2019. Jokowi…

YLKI Ingatkan Masyarakat Modus Diskon Palsu

NERACA Jakarta – Momentum pergantian malam pergantian tahun, umumnya pusat-pusat perbelanjaan menawarkan pesta diskon yang cukup menggiurkan dan tidak terkecuali…