Hipmi: Turunkan Bunga Kredit UMKM

Kamis, 06/10/2011

Depok - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) meminta pemerintah untuk lebih mendengar keluhan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) atas semua kendala yang ada. Salah satunya yakni dengan menurunkan bunga kredit bagi pelaku UMKM.

Ketua Kompartemen Pemberdayaan Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Raditya Priamanaya Djan menilai, bunga kredit bagi UMKM yang saat ini masih pada kisaran 12 persen tergolong tinggi. Padahal, bunga kredit yang bersifat konsumtif biasanya rendah. “Misalnya motor saja bunganya hanya 4,5 persen. Di sini ada salah kaprah. Kenapa bunga kredit yang bersifat konsumtif rendah dan untuk UMKM tinggi? Seharusnya, pemerintah menurunkannya atau menyetarakannya,” katanya kepada wartawan di Kampus UI, Depok, Jawa Barat.

Pria menungkapkan, selama ini program Kredit Usaha Rakyat (KUR) belum terserap dengan baik. Bahkan, imbuhnya, bunga KUR pun masih 12 persen dan memberatkan pelaku usaha. “Kalau seperti ini, pemerintah harus mengkaji kembali sistem perbankan dalam pemberian kredit lebih mengutamakan para pelaku usaha,” tegasnya.

Pria pun mengaku, UMKM adalah bagian dari hidupnya. Pemilik lebih dari 13 ribu tenant di Pusat Grosir Tanah Abang ini mengklaim, para UMKM di Tanah Abang rata–rata memiliki kesuksesan dengan nilai omzet yang luar biasa. “Perputaran uang di Tanah Abang sangat cepat dan sangat besar. Dari satu kios saja, omzetnya mencapai Rp50 juta per hari,” tuturnya.

Sementara itu, pengusaha Sandiaga Uno mengakui adanya perbedaan pendanaan antara pasar saham dengan Usaha Kecil Menengah (UKM). Menurutnya, akses pendanaan pada sektor UKM harus dipermudah, pasalnya UKM diklaim sebagai tulang punggung bagi perekonomian nasional. "Ada kesenjangan pendanaan yang benar-benar terasa sekarang ini, antara pendanaan di bursa dan di level UKM. Disinilah kita harus mencari solusi agar financing gap ini bisa diselesaikan," ungkap Sandiaga ketika menjadi pembicara di seminar dalam Investor Summit 2011, di Jakarta, Rabu.

Dia melanjutkan, kesulitan dalam pembiayaan ini, dialami sendiri olehnya saat membesarkan usahanya. "Padahal, peran UKM kita kuat, potensi UKM kita besar dan baik dengan potensi dari 245 juta penduduknya," keluhnya. "Saya bermimpi, ada UKM kita seperti Ayam Goreng Suharti atau Gudeg Mbok Berek yang bisa dipasarkan di Hong Kong atau Singapura, harus ada brand lokal yang mendunia," tambahnya.

Karenanya, guna mengatasi perbedaan financial gap ini, salah satu hal yang harus dilakukan adalah memperbaiki siklus pendanaan UKM. "Pendanaan dan pendataan UKM itu penting. Karena kalau tidak, UKM terjebak pada pendanaan tradisional seperti pada Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) atau modal ventura," tandasnya..