Akibat Kemarau, Waduk Saguling Hanya Beroperasi Malam Hari

Musim kemarau tahun ini yang relatif panjang, tidak saja berpengaruh pada sektor pertanian, tetapi juga pada sektor lain seperti pembangkitan tenaga listrik yang tergantung terhadap debit air.

Seperti yang terjadi pada Waduk Saguling, akibat kemarau sekarang ini, ketinggian air di waduk menyusut menjadi 631 meter Diatas Permukaan Laut (DPL) dari ketinggian normal 643 DPL.

Namun demikian menurut Direktur Produksi PT Indonesia Power, selaku pengelola Unit Bisnis Pembangkitan Saguling, Mustiko Bawono, pihaknya masih bisa memproduksi listrik dengan cara mengatur sistem operasinya.

“Saguling memang salah satu kendalanya adalah debit air selama musim kemarau, tapi saat ini kami bisa mengoperasikan dengan normal dan menyokong kelistrikan Jawa dan Bali,” ujar dia.

Mustiko menyatakan, berbeda dengan kondisi normal, saat musim kemarau seperti saat ini pihaknya mengaktifkan 2 turbin pembangkit pada waktu beban puncak saja atau pada malam hari dengan menghasilkan 115 mega watt dari biasanya 175 mega watt.

“Untuk siang hari kita hanya menampung air yang diperlukan untuk membantu pasokan listrik Jawa Bali,” pungkasnya.

Related posts