CSR Untuk Pendidikan

Neraca. Ada banyak perusahaan yang telah menyatakan memiliki komitemen untuk melakukan CSR dan memilih pendidikan sebagai salah satu fokus perhatiannya. Kiranya masuk akal bagi banyak perusahaan untuk melakukan CSRnya dalam bidang ini, mengingat bahwa pendidikan merupakan permasalahan publik yang tampaknya belum juga bisa dipecahkan dengan memuaskan oleh pemerintah. Anehnya, ketika amandemen UUD 1945 telah mengamanatkan bagi pemerintah untuk mengalokasikan 20% dari APBN untuk pendidikan, namun pelaksanaannya terus menerus ditunda atau “bertahap” menurut dalih pemerintah.

Dengan demikian, sektor pendidikan memang masih, dan mungkin akan selalu, membutuhkan partisipasi pihak lain seperti perusahaan. Kalau diamati secara selintas, ada berbagai cara perusahaan menjalankan CSR dalam bidang pendidikan. Mungkin ada tiga yang paling menonjol: bantuan sarana pendidikan khususnya infrastruktur bangunan sekolah, pemberian beasiswa, dan penayangan iklan layanan masyarakat. Bantuan infrastruktur adalah bentuk CSR yang sangat popular, karena bentuk fisiknya tampak sehingga kemudian sangat mudah untuk dilaporkan. Perusahaan biasa memotret proses pembangunannya sebagai bagian dari laporan kemajuan, serta memotret bangunan yang sudah ditempati dengan senyum para murid di laporan akhir tahun perusahaan. Pemberian beasiswa juga kerap dilakukan. Sampoerna Foundation—yang merupakan yayasan yang terpisah dari bisnis HM Sampoerna namun memperoleh sokongan dana utama darinya—tampak paling menonjol dalam hal ini. Berbagai jenis beasiswa diberikan, termasuk beasiswa ke luar negeri untuk belajar ilmu-ilmu manajemen.

Banyak perusahaan lainnya memiliki juga program beasiswa walau tidak secanggih Sampoerna Foundation. Iklan layanan masyarakat tentang pentingnya pendidikan yang kini paling menonjol mungkin adalah, yang bertutur mengenai sekumpulan anak yang harus berenang menyeberangi sungai untuk bisa bersekolah. Iklan itu dipersembahkan oleh Gudang Garam.

Masing-masing jenis kegiatan itu sangatlah penting untuk membantu masyarakat secara umum. Bangunan fisik sekolah di banyak tempat memang kerap merupakan hal yang harus dipenuhi. Bukan saja karena di banyak tempat masih langka, namun juga banyak bangunan yang memang sudah lapuk di makan usia. Beberapa bulan yang lalu kita kerap mendengar sindiran media massa atas buruknya mutu bangunan sekolah bahkan yang beradai di atau tidak jauh dari ibukota Jakarta. “Robohnya Sekolah Kami” atau “Ada Sekolah yang Lebih Bobrok Daripada Kandang Ayam” adalah judul-judul artikel di media massa yang kemudian menimbulkan kontroversi. Namun kebenarannya tidaklah bisa disangkal.

Beasiswa kerap diberikan kepada para siswa dan mahasiswa yang berprestasi untuk dapat menyelesaikan pendidikan di jenjang yang mereka sedang selesaikan atau untuk meraih jenjang yang lebih tinggi. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa pendidikan merupakan jalan untuk mencapai kehidupan yang lebih layak. Ada penelitian yang membuktikan bahwa naik strata sosial secara lintas-generasi (anak mencapai strata sosial yang lebih tinggi dibandingkan orangtuanya) utamanya dimediasi oleh pendidikan. Ini mendorong pemberian beasiswa kepada mereka yang berprestasi memang diperlukan, agar mereka bisa memperoleh kesempatan hidup yang lebih baik. Argumentasi lainnya bahwa mereka yang berprestasi diharapkan dapat memberikan sumbangan balik kepada pemberi beasiswa maupun masyarakat yang lebih luas. Ini artinya pemberian beasiswa adalah investasi yang kelak bisa menuai hasil.

Peningkatan kesadaran akan pentingnya pendidikan terus-menerus diperlukan, dan tahapan pertama untuk menanamkan kesdaran itu adalah pesan yang dibuat untuk khalayak ramai. Dalam teori-teori komunikasi, terutama yang berkaitan dengan adopsi inovasi, dinyatakan bahwa tahapan awareness dicapai dengan pesan umum. Ketika tahapan berikutnya hendak dicapai yaitu interest, evaluation, trial dan adoption, maka pesan harus dibuat semakin khusus. Karenanya, jasa perusahaan untuk beriklan layanan masyarakat dalam hal pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting, untuk menjaga kesadaran masyarakat Indonesia. Apresiasi juga harus diberikan karena iklan-iklan itu telah menunjukkan pencapaian yang luar biasa dalam kreativitas memberi pesan maupun aspek sinematografisnya. Harus diakui bahwa iklan-iklan itu jauh lebih bagus dibandingkan rata-rata iklan komersial, dan walaupun sarat pesan namun tidak disampaikan dalam nada menggurui, jika kita bandingkan dengan iklan-iklan layanan masyarakat buatan pemerintah.

Related posts