Kemandirian Perempuan Untuk Bangsa

Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Fahrina Fahmi Idris

Sabtu, 08/10/2011

NERACA. Cantik, cerdas, humoris dan mahir mengawaki 40.000 anggotanya dalam membangun perekonomian bangsa melalui UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), dialah Rina Fahmi Idris, Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia, sosok yang akrab dikenal sebagai Rina Fahmi.

Bahtera organisasi yang berdiri sejak 10 Pebruari 1975 ini, memang terbukti mampu mendorong kemajuan UMKM di 33 Provinsi seluruh Indonesia, “IWAPI diikat dalam tali persaudaraan yang sangat kuat, dari tingkat pusat, provinsi hingga pedesaan,” ungkap Rina, kami senafas dalam memajukan perekonomian nasional secara nyata dan dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat dan keluarga anggota IWAPI.

Menurut Rina, lahirnya IWAPI tidak sekadar untuk berhimpun, tapi mulia dan luhur untuk membina persatuan dan kerja sama wanita pengusaha Indonesia dibidang ekonomi dan usaha. Namun yang cukup mendasar, tambah Rina, IWAPI hadir untuk memfasilitasi peningkatan pengetahuan dan keterampilan perempuan UMKM secara profesional, sehingga mampu berdiri mandiri dan terhormat dalam kepemimpinan ekonomi nasional, “Kami dituntut untuk terus melibatkan diri dan memberikan yang terbaik bagi bangsa Indonesia,” tegasnya.

Melihat problem yang dihadapi bangsa dan dunia, kini IWAPI berada pada posisi yang strategis. “Dikatakan strategis karena anggotanya tersebar di seluruh pelosok Indonesia dan mereka adalah kaum perempuan yang berkomitmen dan berpartisipasi aktif dalam mengembangkan kemandirian ekonomi kerakyatan Indonesia. Coba dihitung, tegas Rina, bila setiap anggota IWAPI membawahi minimum 5 hingga 10 orang tenaga kerja yang memiliki keluarga (anak, isteri, atau suami) kalikan itu dengan seluruh jumlah anggota kami, “Itulah sumbangsih kami untuk negara ini,” jelas Rina.

Saat dunia sedang dihantui krisis ekonomi, pangan, atau persoalan perubahan iklim global, tantangan tersebut menuntut IWAPI untuk lebih banyak berperan aktif menawarkan problem solving dalam menghadapi krisis keuangan, pengangguran, dan kemiskinan.

“Kami tidak pernah surut semangat dalam cuaca apapun. Tantangan akan selalu ada selama kita hidup di dunia. Kami berupaya memberikan yang terbaik untuk bangsa Indonesia dengan membangun kekuatan ekonomi domestik berlandaskan prinsip kesetaraan, profesionalitas, dan kemandirian adalah tanggung jawab moral IWAPI,” jelas Rina. Ia pun menyadari bila usaha untuk mewujudkannya bukan perkara mudah, “Kita butuh kerja keras dan keyakinan yang kuat secara internal dan dukungan yang kuat dari para mitra kerja kami,” ungkapnya tetap optimis.

Perempuan berdarah Minang dan Dayak ini menjelaskan bahwa fokus dan konsisten dalam memperkuat UMKM sebagai fondasi pembangunan ekonomi kerakyatan merupakan inti perjuangan IWAPI. Di beberapa negara maju, jelas Rina, justru pondasi ekonomi mereka diperkuat usaha-usaha kecil dan menengah. Bagaimana pun, lanjut dia, kekuatan UMKM terbukti mampu mengangkat ekonomi sebuah negara.

“Selama 36 tahun melangkah, IWAPI telah membina dan menciptakan ribuan wanita-wanita pengusaha Indonesia yang bergerak dibidang UMKM. Mereka mampu menyerap banyak tenaga kerja,” ungkapnya bangga. Patut diakui UMKM bila berperan sangat penting dalam meningkatkan ekonomi, terutama untuk melepas cengkeraman kemiskinan di tengah angka pengangguran dan krisis pangan bangsa Indonesia.

Rina menerangkan bahwa, sosok pengusaha yang mampu mengembangkan dan merealisasikan nilai-nilai sosial dalam menjalankan kegiatan usahanya, maka ia akan tampil menjadi kekuatan individu kewirausahaan yang luar biasa, “Ini salah satu modal dalam melakukan perubahan sosial,” ujarnya. Karena dunia dan alam, tidak dilihat sebagai entitas kapital semata, tetapi modal untuk membangun kesejahteraan sosial dan manusia.

Seiring upaya mewujudkan harapannya, IWAPI pun terus melakukan intensifikasi dan pembenahan organisasi. “Ini adalah sebuah kesadaran agar IWAPI mampu secara professional menjadi salah satu lokomotif pendorong kemajuan ekonomi bangsa,” ungkap Rina menerangkan.

Rina menilai masalah perempuan masih menjadi second issue. Tak aneh jika beberapa kalangan menilai demokrasi belum maksimal dalam memberikan kesejahteraan bagi kaum perempuan. “Kita perlu berjuang secara berkesinambungan dalam meletakkan fondasi demokrasi yang sejati,” imbau Rina.

Menurut dia, demokrasi bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan controlling semua bentuk aktifitas kekuasaan sehingga akuntabel dimata rakyat. “Demokrasi mutlak dimaknai untuk kesejahteraan. Dan perempuan harus mengambil peran penting dalam mendorong kesejahteraan bangsa,” tegasnya.

Oleh karena itu, kesejahteraan perempuan harus tetap dimasukkan dalam perbincangan demokrasi dan pembangunan ekonomi. “Kita patut mencontoh para peraih nobel penggerak ekonomi kerakyatan, yang mengangkat kesejahteraan bangsanya melalui pemberdayaan wanita,” ucapnya.

Karena itu langkah tepat dalam mendorong kesejahteraan perempuan adalah membuka arus demokrasi bagi perempuan diberbagai bidang. Baik budaya, ekonomi, dan politik. “Dorongan dan dukungan dari berbagai pihak pun sangat diperlukan, sehingga akan terwujud kemandirian perempuan untuk bangsa, masyarakat, dan keluarga,” ujar Rina yang juga aktif sebagai Wakil Bendahara sebuah Partai besar dan Wakil Ketua Majelis Ekonomi Pengurus Pusat Muhammadiyah.