Sulit Yakinkan Pelaku Pasar

Rabu, 05/10/2011

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Sudah dua hari, sejak awal pekan indeks harga saham gabungan Bursa Efek Indonesia (BEI) melorot ke level paling terpuruk. Pada akhir perdagangan Selasa kemarin, indeks BEI anjlok ditutup melemah 79,257 poin (2,37%) ke level 3.269,451. Level ini berada dibawah batas psikologisnya 3.500. Aksi ambil untung pelaku pasar menjadi penyebab dibalik merosotnya pergerakan indeks dalam negeri.

Kemudian, sepinya sentimen positif serta minimnya aksi korporasi menjadi deretan panjang sentimen negatif bursa dalam negeri. Bila sudah begini, banyak pelaku pasar skeptis jika keyakinan indeks BEI akhir tahun bisa menembus level 4.500 hingga 5.000 yang sempat diumbar oleh pelaku pasar. Memang apa yang diklaim pemerintah jika krisis yang terjadi pada pasar saham belum menggambarkan terjadinya perlambatan ekonomi Indonesia. Namun lambat tapi pasti jika kondisi ini sangat rawan bisa menyentuh sektor finansial, khususnya industri perbankan.

Melepas rasa phobia, pemerintah ataupun otoritas pasar modal selalu memberikan angin segar kepada pelaku pasar tentang fundamental ekonomi dalam negeri yang masih kuat dan keyakinan pertumbuhan ekonomi masih positif. Oleh karena itu, pemerintah selalu berharap besar kepada investor lokal untuk tidak panik melakukan aksi jual portofolio sahamnya dan sebaliknya diminta untuk mengkoleksi saham-saham unggulan yang dinilai harganya sudah murah.

Pada dasarnya, apa yang dilakukan investor lokal dengan ramai-ramai melakukan aksi jual sangatlah wajar karena untuk menyelamatkan nilai investasi sahamnya agar tidak jatuh lebih buruk lagi. Namun ironisnya, apa yang diminta pemerintah kepada pelaku pasar belum direspon serius karena dalam industri pasar modal kita lebih banyak pemain asing ketimbang lokal. Alhasil, pengaruh sentimen global sangat kuat dibandingkan dengan kondisi di dalam negeri.

Kemudian, investor lokal belum sepenuhnya menyikapi dampak sentimen krisis global secara dewasa. Karena umumnya, pelaku pasar lebih memilih ambil untung sesaat dan bukan bicara investasi jangka panjang. Maka tidak heran, jika terjadi koreksi sedikitpun, umumnya mereka selalu berusaha bagaimana tidak rugi.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan konsep pemikiran tersebut, karena berbicara investasi adalah sebisa mungkin memiliki risiko kecil dan sebaliknya meraup untung sebesar mungkin. Namun berbicara investasi saham, tidak semuanya pelaku pasar memiliki pemikiran yang sama dengan apa yang disampaikan pemerintah untuk tetap stay disaat krisis global saat ini.

Terlebih, sebagian masyarakat belum melihat secara terbuka dan nyata sebagai investasi. Karena tidak ada komoditas, tetapi nilainya terkadang naik dan turun. Kondisi ini berbeda ketika berinvestasi tanah ataupun emas yang nyata ada bentuk barangnya. Oleh karena itu, tidak heran sebagian masyarakat masih meragukan saham sebagai sarana aman untuk berinvestasi ketimbang membeli emas atau tanah. Terlebih kejahatan pasar modal yang marak saat ini, menjadi khawatiran berlebih untuk mau menyentuh dunia investasi satu ini.

Kesimpulannya, ini menjadi pekerjaan berat bagi pemerintah atau otoritas pasar untuk menyakinkan yang dasar dahulu dalam berinvestasi ketimbang harus mengkoleksi saham yang murah ditengah krisis global saat ini. Jangan sampai, tren investasi saham hanya sebagai ikut-ikutan tanpa memberikan keuntungan yang nyata.