Pembiayaan Bank vs Ketahanan Ekonomi

Rabu, 05/10/2011

Kendati Bank Dunia menilai Indonesia tetap berada pada posisi yang kuat untuk menghadapi masalah-masalah ekonomi internasional di tengah gejolak belakangan ini di pasar finansial, perbankan domestik mulai selektif mengucurkan kredit ke sektor industri yang rawan terhadap dampak krisis global.

Laporan Bank Dunia terbaru mengungkapkan, seperti di emerging markets lainnya, penurunan outlook pertumbuhan global dan perkembangan pasar keuangan internasional telah menyebabkan aliran keluar modal portofolio dan turunnya pasar saham secara signifikan di Indonesia selama dua bulan terakhir.

Meski pasar finansial internasional kemungkinan akan tetap bergejolak dalam jangka pendek, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang di dorong domestik, kuatnya posisi fiskal, akumulasi cadangan devisa dan kinerja pasar keuangannya yang telah diperkuat membuat Indonesia berada pada posisi yang kuat untuk menghadapi goncangan eksternal.

Namun di sisi lain, krisis yang sekarang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat setidaknya membuat perbankan nasional memilah-milah jenis industri yang memungkinkan untuk dikucuri kredit. Ini sebagai antisipasi dari kerugian yang bisa terjadi dalam jangka pendek. Sehingga wajar, untuk sementara waktu perbankan nasional akan menghindari kredit pada industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor dan berorientasi pada pasar ekspor.

Tidak mengherankan bila kalangan perbankan mulai berhati-hati menyalurkan pinjaman ke sektor industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor dan pasar ekspor. Kelompok industri tersebut adalah obat-obatan, pakaian dan tekstil, industri elektronik dan komponen elektronik, sepatu olahraga, kertas, logam dasar, serta pemintalan benang.

"Ini sedikit gambaran pada industri yang mungkin bisa terkena dampak jika terjadi krisis," ujar Anton Gunawan, eksekutif Bank Danamon di Jakarta, Selasa (4/10).

Walau demikian, kita melihat masih ada tiga kelompok industri lain yang masih memungkinkan untuk bertahan dari krisis, tetap masih bisa menjadi sasaran penyaluran kredit perbankan. Adalah kelompok industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku lokal dan memasarkan produknya kepada pasar di dalam negeri yang berpotensi bagus. Contohnya, industri kertas berbasis budaya, semen, minyak masak dari kelapa sawit, gula, dan bahan kimia organik.

Kemudian kelompok industri yang memiliki ketergantungan atas bahan baku impor, tetapi memasarkan produknya di dalam negeri. Kelompok ini adalah industri kendaraan bermotor, komponen kendaraan bermotor, industri baja, dan makanan hewan.

Lalu kelompok industri yang bergantung pada bahan baku lokal, tetapi memasarkan produknya ke pasar luar negeri. Mereka antara lain industri minyak masak dari sayur, karet, bubur kayu, industri ban, pupuk langsung, kayu untuk dekorasi, dan furnitur berbahan kayu.

Jelas, fundamental ekonomi makro Indonesia yang kokoh merupakan pertahanan utama dalam menghadapi gejolak pasar yang terus berlangsung. Dalam kondisi saat ini, upaya perbankan menghindari ketidakpastian kebijakan dan mengambil langkah untuk meningkatkan ketahanan terhadap guncangan pasar finansial menjadi lebih penting dan strategis bagi negeri ini.