Bank Dunia Akui Indonesia Kokoh - Di Tengah Badai Krisis

NERACA

Jakarta---- Bank Dunia mengakui fundamental ekonomi Indonesia berada pada posisi yang kuat menghadapi masalah-masalah ekonomi internasional, kendati terjadi gejolak di pasar keuangan akhir-akhir ini. “Seperti negara-negara se-kawasan, pasar keuangan Indonesia tidak kebal terhadap goncangan eksternal. Akan tetapi, sementara banyak negara di dunia mengalami penurunan tajam pada posisi fiskal dan neraca keuangan sektor swasta sejak tahun 2008, Indonesia tetap menunjukkan kinerja ekonomi yang kuat,” kata ekonom Utama Bank Dunia di Indonesia Shubham Chaudhuri kepada wartawan di Jakarta,4/10

Salah satu kekuatan Indonesia, kata Shubham, karena ditopang konsumsi domestic. Ditambah lagi kuatnya posisi fiskal, akumulasi cadangan devisa dan kinerja pasar keuangannya yang telah diperkuat membuat Indonesia berada pada posisi yang kuat untuk menghadapi goncangan-goncangan eksternal.

Menurut Shubham, aliran investasi dan konsumsi swasta domestik mendukung pertumbuhan PDB sebesar 6,5% pada dua kuartal pertama tahun 2011. Dengan turunnya inflasi harga bahan pangan sepanjang tahun, inflasi IHK telah turun di bawah 5%. Melihat ke depan, proyeksi baseline Bank Dunia untuk pertumbuhan adalah 6,4% untuk tahun ini dan tetap kuat pada 6,3% untuk tahun 2012.

.

Terkait gejolak ekonomi karena faktor eksternal yang masih akan berlanjut, Bank Dunia mengakui ada penarikan dana (capital outflow) dari Indonesia sehingga pasar keuangan bergejolak. "Selama Agustus, aliran portofolio yang keluar dari Indonesia sebesar USD1,8 miliar, di mana sebagian besar berbentuk ekuitas. Saham-saham di Indonesia telah turun sebesar 8,4% dan rupiah terdepresiasi sebesar 4,3%," kata Shubham.

Lebih lanjut, Bank Dunia menyebut industri manufaktur adalah industri yang paling berat menerima risiko terjadinya perlambatan ekonomi yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat. "Pasar utama bagi komoditas ekspor Indonesia seperti tekstil, pakaian, alas kaki dan peralatan transportasi berada di Amerika dan Eropa," tandas Shubham lagi

Dikatakan Shubham, pasar ekspor bagi industri manufaktur yang dikirimkan ke negara ketiga seperti Singapura, juga pada akhirnya akan dikirimkan ke negara-negara maju secara tidak langsung. "Sementara kalau ekspor komoditas kita lebih banyak ke China, India, Jepang dan Korea yang lebih banyak merupakan input untuk investasi infrastruktur," terangnya.

Akan tetapi, didorong oleh pertumbuhan negara-negara di kawasan regional yang masih kuat, Subham yakin volume ekspor tersebut dapat terpengaruh lebih rendah dari perlambatan ekonomi yang terjadi di dua benua tersebut. "Namun, skenario ketiga berupa pembalikan arah yang diikuti penurunan pada harga dan permintaan komoditas juga harus diperhatikan," tutupnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Stefan Koeberle, mengungkapkan kualitas kebijakan menempatkan Indonesia pada posisi yang kuat menghadapi gejolak krisis dunia.“Reformasi subsidi energi dan pembebasan tanah, dan peningkatan infrastruktur, telah mendorong kepercayaan investor dalam jangka pendek,” ungkap Stefan. **Munib

Related posts