Berjaya Dengan Disiplin dan Kepercayaan Diri

Tommy Firmansyah, Sekjen Masyarakat Olahraga Indonesia

Sabtu, 08/10/2011

NERACA. Disiplin dan kepercayaan diri, inilah kunci keberhasilan Tommy Firmansyah, mantan atlet karate nasional era 90-an. Pria berdarah Banten ini bertutur, “Berlatihlah seperti sang juara, bertandinglah bagai sang juara, dan hiduplah layaknya sang juara,” sebuah filsafah yang mengandung arti; curahkan dedikasi hidupmu dalam olahraga dan tampilah sebagai pemenang. Saat kemenangan telah diraih dengan disiplin, maka hiduplah sebagai contoh terbaik ditengah masyarakat.

Prinsip sosok peraih emas pada kejuaraan karate Asia Pasifik tahun 1987 memang menjadi realitas dalam hidupnya. Usai aktif membela berkibarnya sang merah putih dipelbagai kancah pertandingan internasional, Tommy seakan tak surut berkiprah. Ia bahkan aktif dalam sejumlah organisasi seprofesinya, partai politik, dan mengelola bisnis pelatihan bela diri karate.

“Hidup ini seperti air mengalir dan saya hanya mengikutinya dengan disiplin dan kepercayaan diri,” ujar Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi PPP ini membuka kunci keberhasilannya. Sebagai Sekjen Masyarakat Olahraga Indonesia (MOI), Tommy mengaku prihatin dengan kesejahteraan para mantan atlet yang tak seberuntung dirinya. “Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT dengan apa yang telah saya miliki,” ungkap Tommy tak henti mensyukuri.

Pemilik sasana latihan karate dengan nama, “Tommy Dojo,” dikawasan Bendungan Hilir Jakarta ini menuturkan, bahwa sebagai pahlawan olahraga yang membawa harum nama bangsa dan negara ditengah masyarakat dunia internasional, seharusnya penghargaan atas prestasinya tetap diberikan pemerintah dengan memperhatikan kesejahteraan mereka, “Ini yang kita perjuangkan di MOI,” tegasnya.

Saat mereka menjadi sang juara, kata Tommy, perhatian luar biasa diberikan pemerintah pada mereka (mantan atlet berprestasi), tapi setelah pensiun, “Tak ada perhatian dari pemerintah atau pihak manapun,” ungkapnya sedih.

Ia pun merasa prihatin dengan semakin merosotnya prestasi olahraga hampir disemua cabang di Indonesia. Tommy menduga harapan yang dihembuskan pengurus olahraga dengan pemberian bonus, justru melemahkan mental semangat bertanding dan meraih juara.

Suasana olahraga saat ini sudah berbeda, ungkap Tommy, terutama para atlet yang sepertinya sudah terbentuk dengan kondisi pengharapan untuk mendapatkan bonus. “Prestasi kita memang sedang terpuruk. Saya melihat yang bisa menyemangati para atlet hanya bonus,” ujarnya.

Ayah dari seorang putra bernama Muhammad Ramadhan, yang kini menginjak usia remaja, buah kasih dengan Dwi Sari yang juga mantan atlet profesional di Cabang Bola Volley yang dinikahinya tahun 1998 ini berkisah, saat ia dan atlet seangkatannya meraih masa kejayaan olahraga nasional di era ’90-an. “Dahulu kita terbentuk dari disiplin untuk berlatih dengan baik, serius dan keikhlasan, bahkan mereka akan tetap melaksanakan jadwal latihan meskipun tanpa kehadiran pelatih mereka,” ujar Tommy mengenang.

Saat kami bertanding, ungkap Tommy, teman-teman dari cabang tinju sepakbola atau cabang lainnya turut nonton memberi semangat dan begitu pun sebaliknya, “Kami disatukan oleh semangat kebersamaan untuk meraih juara.

Apalagi saat bendera dikibarkan dengan lagu Indonesia Raya terdengar, semua atlet Indonesia akan merasakan kebanggaan yang sama. Hati kami tergetar dengan rasa bangga dan kecintaan pada tanah air, ” ucapnya kembali terkenang.

Realitas semangat juang meraih kemenangan kini jauh berbeda. Selain iming bonus yang kebablasan, pola rekruitmen juga diduga menjadi salah satu akar persoalan merosotnya olahraga nasional.

Tommy menilai perbaikan pola rekuitmen patut mendapat perhatian semua pihak, “Pilihlah atlet yang memang memiliki potensi dan bakat dalam bidang olahraga yang mereka tekuni, jangan ada lagi atlet-atlet titipan, atau pelatih titipan,” terang Tommy, yang karena kedekatan dengan pihak tertentu lalu mereka memposisikan diri sebagai yang terbaik diantara anak bangsa.

Menurut Tommy, tak sedikit para mantan atlet yang telah membuktikan dirinya dicabang olahraga yang digelutinya, bahkan diakui dunia internasional tapi sayangnya potensi yang mereka miliki tidak dimanfaatkan bagi kemajuan olahraga nasional.

“Mereka jelas memiliki integritas yang tinggi, pengalaman yang sangat panjang dan mampu secara professional untuk melatih bidang olahraga. Tapi kenyataannya justru pelatih diambil tidak proposional,” ungkap Tommy yang berharap pemerintah melalui KONI, lebih memperhatikan mantan atlet berprestasi untuk melibatkan mereka dalam pembinaan dan pelatihan sesuai bidang olahraga yang ditekuninya.

Saya menilai dengan melibatkan mantan atlet nasional yang berprestasi dalam proses latihan dan pembinaan olahraga, akan dapat memberi dampak psikologis yang sangat positif bagi kemajuan altet-altet muda.

Ia menilai, banyak diantara mantan altet berprestasi yang menjadi idola altet sekarang ini, dengan keterlibatan mereka, kata Tommy, meski bukan sebagai pelatih tapi kehadiran sosok idola di tengah latihan para junior akan memberi dampak positif, “Mereka bisa sekadar ngobrol, memberi kiat, menyemangati, bahkan nonton pertandingan adik-adiknya, pasti akan timbul semangat juang yang lebih tinggi dan alami,” urai Tommy memberi alasan.

Ia pun mengaku pihakmya telah menyampaikan beberapa masukan kepada pihak terkait. Karena sebagai organisasi yang turut memonitoring kegiatan olahraga di Indonesia, kata Tommy, MOI terus memberikan masukan kepada Menpora maupun KONI baik, usulan, kritik bahkan protes terkait perkembangan olahraga di Indonesia.

“Saya rasa kita semua berharap olahraga di tanah air dapat lebih maju dan berprestasi dikemudian hari,” terangnya. Ia pun berharap, kelak kejayaan Indonesia sebagai negara yang memiliki prestasi olahraga yang luar biasa di tingkat internasional dapat kembali terulang dimasa mendatang.