Eksportir Diminta Waspadai Dampak Resesi Global

Selasa, 04/10/2011

NERACA

Jakarta – Pengusaha Indonesia diminta mewaspadai dampak dari potensi resesi global dalam tiga bulan ke depan, meski nilai ekspor pada Agustus 2011 menembus rekor US$18,81 miliar.

"Potensi krisis terhadap ekspor, baru kita rasakan Oktober. Tapi mudah-mudahan antisipasi kita bagus," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan di Jakarta, Senin (3/10).

BPS mengungkapkan, nilai ekspor Indonesia di Agustus 2011 menembus rekor sebesar US$ 18,81 miliar. Angka ini lebih tinggi dari data terakhir ekspor Indonesia yang menembus rekor sejarah di Mei 2011 yang mencapai US$ 18,33 miliar.

Walau demikian, Rusman meminta pemerintah dan pengusaha untuk waspada. Khususnya dampak dari potensi resesi global dalam tiga bulan ke depan. "China sudah rasakan hal yang buruk akibat Eropa Barat. Ini harus disikapi dengan all out, agar tidak berdampak terlalu banyak," ujarnya.

Dia pun menyoroti adanya fluktuasi indeks harga saham gabungan (IHSG) yang berjadi bulan lalu. "Juga kurs yang terjadi. Namun dalam minggu terakhir sudah bisa diantisipasi. Mudah-mudahan indeks dan kurs bisa ke arah yang lebih stabil," jelasnya.

Krisis ekonomi yang hampir dipastikan terjadi, berpotensi menurunkan ekspor Indonesia, meski jenis yang dikontribusikan masih dominan barang tambang.

"Kita ga banyak kompetitor di dunia karena barang-barangnya adalah natural resources primer atau sedikit pengolahan. Ancaman di depan mata, kalau tidak diantisiapasi, ada penurunan ekspor. Namun kalau tiap bulan US$ 17 miliar, masih bisa tembus US$ 200 miliar, dan mencapai rekor baru," tegasnya.

Dia mengatakan, nilai ekspor migas Indonesia di Agustus 2011 mencapai US$ 4,09 miliar dan ekspor non migas mencapai US$ 14,72%.

"Total ekspor dari Januari-Agustus 2011 mencapai US$ 134,85 miliar. Naik 36,58% dibandingkan periode yang sama di 2010.

Sementara ekspor non migas untuk Januari-Agustus 2011 mencapai US$ 107,3 miliar. Sumber ekspor kita adalah bahan bakar mineral yang mencapai US$ 16,98 miliar kemudian lemah dan minyak hewan/nabati mencapai US$ 13,96 miliar.

Pangsa pasar ekspor Indonesia saat ini masih dikuasai oleh China US$ 12,83 miliar, kemudian Jepang sebesar US$ 11,97 miliar, AS sebesar US$ 10,65 miliar, kemudian sisanya ekspor ke ASEAN sebesar US$ 22,09 miliar.

Impor Naik

Nilai impor Januari-Agustus 2011 mencapai US$ 114,84 miliar. Naik 30,9% dibandingkan periode yang sama di 2010. Khusus impor non migas di Januari-Agustus mencapai US$ 87,99 miliar. Kontribusi terbesar adalah pada impor mesin dan alat mekanik, serta peralatan listrik.

Negara asal impor Indonesia pada periode Januari-Agustus 2011 adalah China US$ 16,37 miliar, Jepang US$ 12,1 miliar, dan Singapura US$ 7,07 miliar.

BPS memperkirakan defisit perdagangan antara Indonesia dengan China perlahan bisa menghilang. Hal ini dikarenakan angka defisit tiap bulannya terus menunjukan penurunan.

Rusman mengatakan, kondisi perdagangan dengan China mulai menuju arah keseimbangan. Berdasarkan data ekspor dan impor BPS, defisit perdagangan nonmigas dengan China untuk Agustus 2011 turun menjadi US$61,4 juta dari sebelumnya US$384,3 juta pada bulan Juli 2011.

Penurunan defisit tersebut, disebabkan penguatan rupiah dalam beberapa bulan terakhir serta meningkatnya volume ekspor bahan tambang ke negara China. Dalam jangka panjang, nilai tukar rupiah terhadap dolar di kisaran Rp8800 hingga Rp9000 dinilainya merupakan sinyal bagus bagi para eksportir.

Ekspor CPO

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Fadhil Hasan mengakui, gonjang ganjingnya perekonomian yang terjadi di Eropa dan AS sudah pasti akan mempengaruhi penurunan ekspor CPO Indonesia, karena penurunan daya beli dari pasar mereka.

Penurunan ekspor CPO, menurut dia, makin parah dengan adanya peraturan pemerintah yang menaikkan bea keluar (BK) untuk kelapa sawit pada Juli lalu menjadi 20%, dari semula 17,5%. Padahal, harga minyak sawit di pasar dunia sedikit melemah.

Menurut ekonom EC-Think Telisa Falianty, ekspor CPO kita pasti akan mengalami penurunan karena pengaruh resesi perekonomian Eropa dan Amerika Serikat.

Lebih jauh lagi Telisa mengungkapkan,ekspor CPO kita merupakan salah satu penghasil terbesar untuk devisa negara,ekspor CPO kita saat ini ke Eropa dan Amerika kalau tidak salah sebesar 10 %.

“Seharusnya pemerintah cepat tanggap dengan adanya resesi perekonomian tersebut dengan mencari pasar baru untuk ekspor CPO Indonesia,dan ini saat yang tepat untuk Indonesia mengekspor bahan jadi, ” ujarnya kemarin. iwan/fba