Optimalkan Diversifikasi Ekspor

Selasa, 04/10/2011

Oleh Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Di tengah lesunya pasar ekspor akibat krisis yang membelit Amerika Serikat dan Eropa, langkah diversifikasi (pengalihan dan pengembangan) pasar ekspor produk Indonesia di luar AS dan Eropa masih belum optimal. Alasannya, realisasi ekspor ke Afrika, misalnya, saat ini baru sebatas US$4,5 miliar atau 2% dari total ekspor Indonesia. Setali tiga uang, ekspor Indonesia ke Amerika Latin, Eropa Timur, termasuk Asia Tengah dan Timur Tengah yang notabene merupakan pasar potensial belum meningkat signifikan seiring kian memanasnya dampak krisis dunia.

Padahal, di saat ekspor mengalami kejenuhan di AS dan Eropa Barat, Indonesia jelas butuh diversifikasi pasar ke Afrika dan Timur Tengah lantaran pada dua wilayah ini, pengaruh krisis AS dan Eropa relatif kecil. Kendati di sisi lain, memang harus diakui potensi ekspor Timteng dan Afrika masih cenderung diremehkan akibat ongkos distribusi ke negara-negara di kedua wilayah tersebut masih cukup mahal.

Upaya Wakil Menteri Perdagangan RI Mahendra Siregar bersama sejumlah pengusaha yang bergerak di bidang farmasi, makanan dan minuman olahan, kebutuhan rumah tangga, kelapa sawit, telekomunikasi serta keuangan, mengadakan kunjungan kerja ke Nigeria dan Ghana pada 25-28 Sept. lalu patut diapresiasi. Namun, tidak cukup sekedar kunjungan dan promosi, pemerintah musti turun tangan memfasilitasi para pengusaha untuk memperluas pasar ekspor.

Untuk produk tekstil, umpamanya, para pengusaha masih perlu mendalami potensi pasar dan karakteristik pasar Afrika. Meski tren ekspor ke Afrika mengalami kenaikan dengan indikasi total ekspor Januari-Agustus 2011 mencapai US$134,85 miliar atau melonjak 36,58% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, akan tetapi perlu ditegaskan tanpa fasilitasi dan preferensi dari pemerintah, kalangan pengusaha niscaya mengalami kesulitan masuk ke pasar baru seperti Afrika.

Langkah lain yang mesti dilakukan pemerintah adalah meningkatkan daya saing produk ekspor dengan menekan ekonomi biaya tinggi yang dialami oleh eksportir dan pengusaha. Termasuk peningkatan nilai tambah produk ekspor harus terus digalakkan. Penguatan dan diversifikasi pasar jelas dapat mengeliminasi dampak krisis global terhadap kinerja ekspor Indonesia.

Sebaliknya, tanpa kecerdasan melakukan diversifikasi, ekspor kita akan tertatih-tatih, lalu terjatuh, sehingga pada gilirannya menghambat pertumbuhan ekonomi. Ekonomi sekuat China saja sudah mulai rasakan dampak buruk krisis dunia, apalagi negara-negara yang fundamental ekonominya tak seperkasa Negeri Tirai Bambu.

Itulah sebabnya pemerintah musti jeli menangkap peluang pasar di Benua Hitam, Amerika Latin, Eropa Timur, ASEAN, termasuk Asia Tengah, dan Timur Tengah. Jika tidak, bukan tidak mungkin ekspor kita akan “remuk” seiring gonjang-ganjing resesi yang diprediksi Badan Pusat Statistik (BPS) akan memukul kinerja ekspor mulai Oktober 2011 ini. Maka, pemerintah dan pengusaha musti waspada akan dampak dari potensi resesi global dalam tiga bulan ke depan.