BPS : Inflasi September 0,27%

Selasa, 04/10/2011

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan tekanan inflasi pada September 2011 cukup hanya sekitar 0,27%. Hal ini disebabkan harga beras stabil. Meski emas perhiasan masih menyumbang inflasi. Namun tak significant. "Inflasi September rendah sekali dibanding Agustus 0,97%. Inflasi akibat Emas 0,05%. Karena permintaan emas masih tinggi," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Djamal kepada wartawan di Jakarta, Senin (3/10)

Lebih jauh Djamal menambahkan para penyumbang inflasi antara lain, cabai merah naik tipis 0,08%. Rokok kretek filter 0,04%. Karena kenaikan tarif cukai. Tarif angkutan udara 0,03%. Kemudian sewa rumah menyumbang inflasi 0,02%, dan kenaikan uang kuliah menyumbang inflasi 0,02%. Sementara penyumbang deflasi di September adalah daging ayam, telur ayam harganya turun 0,04%. Ikan segar menyumbang deflasi 0,02%, dan harga properti menyumbang inflasi 0,02%.

Dari 66 kota, ada 45 kota yang mengalami inflasi dan 21 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Singkawang 1,53% dan Padang Sidempuan 1,43%. Sementara inflasi terendah di Bogor 0,01%, Sementara deflasi tertinggi terjadi di Palu 2,33% dan Manokwari 1,33%.

Sementara itu, Analyst PT Valbury Asia Futures Nico Omer memprediksi inflasi September 2011 akan terkendali yaitu di bawah 5%. Hal ini berkaitan dengan masih sepinya agenda atau hari besar yang membuat harga bergejolak. "Kemungkinan baik headline inflation dan core inflation akan dirilis di bawah lima persen (YoY)," katanya

Dikatakan Nico, dengan masih terkendalinya inflasi ini maka suku bunga alias BI Rate juga masih akan dipertahankan Bank Indonesia (BI) diangka yang sama dengan bulan lalu. "Maka BI diperkirakan masih akan mempertahankan tingkat suku bunga di level yang sama," pungkasnya. **cahyo