Desain Atap Rumah Gadang Berguru Kepada Alam

Neraca. Tiba di Sumatera Barat, garis atap rumah memang melengkung lebih tajam. Bentuk paling dramatis terlihat pada rumah gadang, bangunan tradisional untuk keluarga besar dalam budaya Minangkabau. Atapnya membentuk garis setengah lingkaran.

Pada dua sisi kiri-kanan atap, pucuk atapnya dibuat meruncing (bergonjong). Atap ini bisa bertumpuk-tumpuk sesuai dengan jumlah ruangan yang dibentuk di bagian bawahnya. Ambil contoh sebuah rumah gadang milik salah satu penduduk di Kabupaten Agam. Bangunan ini telah berusia lebih dari 100 tahun, tetapi bentuknya masih utuh. Hanya kap atapnya yang berubah dari ijuk menjadi seng.

Menurut pemiliknya, atap melengkung itu teknik bangunan warisan nenek moyang zaman dulu. ”Lengkungannya mirip lekukan tanduk kerbau,” katanya.

Menurut pengamat arsitektur dan desain dari Universitas Negeri Padang, Heldi, perubahan pola atap rumah itu hasil warisan budidaya masyarakat tradisional dalam merespons kondisi alam, flora fauna, dan perilaku manusia. Bentuk itu terus disempurnakan selama berabad-abad sampai menemukan wujudnya sekarang. ”Bentuk lengkungan itu punya nilai simbolik sekaligus fungsional,” katanya.

Secara simbolik, lengkungan atap seperti rumah gadang di Sumatera Barat kerap diyakini mirip bentuk tanduk kerbau atau rebung alias bambu muda. Ada juga yang merujuknya pada bentuk layar kapal. Jika tanduk kerbau dan rebung berkaitan dengan budaya pertanian, bentuk kapal mencerminkan budaya merantau.

”Semua itu merefleksikan upaya meniru lingkungan dan alam sekitar. Ini sesuai dengan semangat jargon lama, alam takambang jadi guru atau alam itu terbuka menjadi guru,” papar Heldi.

Lengkungan yang lebih landai seperti di Sumatera Selatan dan Jambi diperkirakan mengacu pada bentuk pepohonan atau gunung. Bentuk datar pada rumah di Lampung menggambarkan bentangan tali dari dahan ke dahan saat nenek moyang dulu membangun tenda sederhana di hutan.

Secara fungsional, lengkungan itu juga punya fungsi penting. Semakin meruncing ujung atap, semakin cepat air hujan turun ke bawah. Dengan demikian, atap tak menerima beban massa air yang berat saat hujan. Rongga atap yang menjulang tinggi menciptakan renggangan yang mendorong sirkulasi udara dalam rumah lebih lancar.

BERITA TERKAIT

Mencari Solusi Bagi Masyarakat Berpenghasilan Minim Bisa Beli Rumah

Mencari Solusi Bagi Masyarakat Berpenghasilan Minim Bisa Beli Rumah    NERACA Jakarta - Memiliki rumah yang nyaman dan indah merupakan impian…

Program Sejuta Rumah Capai 115.590 Unit Triwulan I-2020

Program Sejuta Rumah Capai 115.590 Unit Triwulan I-2020    NERACA Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan bahwa…

Sindeli Komit Bangun Superblok JKT Living Star di Jakarta Timur

Sindeli Komit Bangun Superblok JKT Living Star di Jakarta Timur    NERACA Jakarta - Manajemen PT Sindeli Propertindo Abadi berkomitmen membangun…

BERITA LAINNYA DI HUNIAN

Berharap Iklim Lebih Pasti untuk Rumah Rakyat

Berharap Iklim Lebih Pasti untuk Rumah Rakyat   NERACA Jakarta - Memiliki rumah serba terjangkau tentunya menjadi impian semua warga Indonesia.…

Pengembang Optimistis Pasar Hunian Premium di Semarang Akan Tumbuh

Pengembang Optimistis Pasar Hunian Premium di Semarang Akan Tumbuh   NERACA Semarang - Pengembang perumahan di Kota Semarang optimistis pasar rumah…

Ciputra Hadirkan Apartemen Seharga Rp300 Juta di Ciracas

Ciputra Hadirkan Apartemen Seharga Rp300 Juta di Ciracas   NERACA Jakarta - Ciputra Group bekerja sama dengan Trisula Corporation dan Asia…