BPS Perkirakan Besaran Inflasi 0,5% - Dihantui Harga Beras

NERACA

Jakarta – Meski inflasi September 2011 diperkirakan hanya sebesar 0,5%. Namun ini tetap saja besaran inflasi ini dibayang-bayangi kenaikan harga beras. Karena tidak ada masa panen bulan ini. "Ada beras yang naik belum turun, karena tidak ada panen raya, jadi meskipun diupayakan sekuat tenaga, beras naik. Tapi kenaikannya bisa tidak terlalu tinggi, tidak ada kejutan naiknya,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan kepada wartawan di Jakarta,2/10

Menurut Rusman, tren kenaikkan harga pada September 2011 ini masih diwarnai dengan kenaikan harga beras. Karena belum ada panen. Namun, kenaikan harga panganan pokok mayoritas masyarakat Indonesia belum memberikan tekanan yang siginifikan terhadap inflasi bulan September. “Ya sepertinya inflasi September ini kontribusi dari beras sebagai penyumbang inflasi," terangnya

Lebih jauh kata Rusman, selain beras yang mengalami kenaikkan. Disusul pula harga cabai juga sudah menunjukkan gejala kenaikan dibandingkan pada bulan sebelumnya. "Ada pergerakan cabai mulai naik. Walaupun harga cabai masih rendah tapi karena bulan sebelumnya rendah jadi ada perhitungannya," paparnya

Begitupun dengan harga emas, Rusman menilai harga emas yang masih tinggi cukup memberikan "sentilan" untuk inflasi bulan September ini. "Perhitungan harga emas, sedikit lha dari emas, emas perhiasaan. Yang lain Alhamdulillah kenaikan harga yang terjadi tidak terlalu besar," ujarnya.

Sementara daging sapi dan ayam serta telor menunjukkan penurunan harga jika dibandingkan bulan Agustus. Pasalnya, pada bulan lalu, harga komoditas tersebut sudah mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi. "Ada daging ayam, telor, daging sapi, lagi memang turun karena kemarin juga naik," tambahnya.

Oleh karena tren harga tersebut, Rusman memperkirakan inflasi bulan September ini hanya di bawah 0,5%. "Dengan demikan ada yang naik yang turun, tapi hampir stabil, inflasi bisa di bawah 0,5% inflasi. Jadi kebanyakan pendapat pengamat itu benar," imbuhnya.

Sebelumnya, Macro Economic Specialist EC-Think Indonesia, Telisa Falianty, guncangan rupiah terkait krisis Eropa dan AS dinilai belum memberikan dampak berarti terhadap tekanan inflasi. Bahkan perkiraan tingkat inflasi masih di bawah 1%. “Kita sih menilai masih belum terlalu ada guncangan. Artinya setelah koreksi kemarin Agustus setelah hari raya, saat ini belum ada guncangan yang berarti, jadi kita prediksi (inflasi) masih di bawah 1%,” katanya

Lebih lanjut Telisa menyatakan, hingga saat ini tren depresiasi rupiah belum menunjukkan ke arah penurunan. “Jadi kalau depresiasi itu cenderungnya lebih cepat. Nah, cuma apakah depresiasi itu berlangsung lama atau tidak, atau hanya temporer saja atau hanya sebagai koreksi. Tapi kalau polanya terus berlanjut kita harus hati-hati justru di barang-barang impor. Itu akan mempengaruhi harga-harga kita. Tapi sejauh ini belum ada tekanan yang ini (pola berlanjut),” paparnya. **cahyo

Related posts