Rupiah Bikin Naik Harga Pertamax

Senin, 03/10/2011

NERACA

Jakarta---Salah satu penyebab kenaikan BBM non subsidi jenis Pertamax. Lebih dipengaruhi nilai tukar (kurs) mata uang rupiah terhadap dolar yang terus melemah. Inilah yang menjadikan kenaikan harga Pertamax per 1 Oktober 2011. "Kenaikan (pertamax) itu dipicu atas melemahnya rupiah terhadap dolar," kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Harun kepada wartawan di Jakarta,

Yang jelas, kata Harun, baill out terhadap Yunani yang menyebabkan rupiah menguat bisa berpengaruh positif pada Pertamax, artinya kemungkinan untuk turun di bawah Rp8000 bisa terjadi. "Suatu saat pertamax bisa di bawah Rp8 ribu jika rupiah menguat dan harga minyak dunia mengalami penurunan yang sangat signifikan," tambahnya

Lebih jauh kata Harun, harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi untuk kawasan Jabodetabek tidak mungkin melebihi Rp10 ribu. Karena itu akan menyulitkan pemakai BBM yang berada di luar Jabodetabek.

Seperti diketahui, Pertamina kembali menaikkan harga Pertamax sebesar Rp100-Rp150 per liter mulai 1 Oktober 2011 ini. Setelah sebelumnya pada 15 September 2011, perusahaan BUMN pelat merah ini menaikkan sebesar Rp300 per liter. Padahal harga minyak dunia tercatat menurun sebesar USD3 per barel menjadi USD79,2 per barel.

Harun menambahkan, kenaikan harga pertamax tidak disebabkan dari harga minyak dunia yang turun USD3 per barel dan ini bukan faktor penentu kenaikan BBM nonsubsidi ini. "Harga minyak dunia bukan jadi penyebab naiknya harga, tetapi kurs kita terhadap dolar Amerika," tegasnya

Sekadar informasi, pertamax mengalami kenaikan sebesar Rp100-Rp150 per liter. Kenaikan harga BBM nonsubsidi yang berlaku sejak 1 Oktober 2011 ini untuk wilayah DKI Jakarta naik menjadi Rp8.800 per liter dari harga sebelumnya Rp8.650 per liter.

Sementara di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, harga pertamax naik menjadi Rp8.750 per liter dari harga sebelumnya Rp8.850 per liter. Sedangkan Pertamax di luar Jabodetabek naik dari Rp8.850 per liter menjadi Rp8.950 per liter.

Ditempat terpisah, Deputi Infrastruktur dan Logistik, Kementerian BUMN, Sumayanto Widayatin meminta Indonesia mewujudkan ketahanan energi untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor. Salah satu caranya dengan meningkatkan pengolahan atau pengilangan minyak mentah (refinery). "Peningkatan refinery akan mengurangi tingkat ketergantungan Indonesia terhadap BBM impor," jelasnya

Menurut Sumayanto pemerintah telah memberikan insentif bagi pelaku usaha migas sebagai upaya mewujudkan ketahanan energi dalam negeri. Dia berharap insentif itu dapat membantu pelaku usaha yang bernisergi dengan pemerintah dalam mengurangi ketergantungan negeri ini terhadap BBM impor.

Pria yang akrab dipanggil Pak Sum tersebut melanjutkan, banyak alumni ITB yang berkiprah di bidang energi migas (minyak dan gas). Sayangnya, kata dia potensi mereka belum tergali secara maksimal.

Dia pun mengajak semua potensi alumni ITB itu dapat bersinergi sesuai bidang keilmuan dan keahliannya untuk membangun bangsa secara bersma-sama. Misalnya, para alumni ITB yang berkarir di perusahaan asing. *cahyo