Menimbang Pilihan Organik atau Non Organik

Sabtu, 08/10/2011

NERACA. Tingginya tingkat polusi udara dan penggunaan kimia dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, mulai menyadarkan kita betapa besar arti pola hidup yang sehat untuk kita lakukan. Terutama dalam mengkonsumsi makanan organik yang bebas dari kimia.

Ahli Terapis Organik dari Healthy Choice Kemang dr Angela C Ardhanie, dalam sebuah media menguraikan bahwa produk organik ialah produk yang pada proses penanaman dan pembuatannya tidak menggunakan bahan kimia atau zat-zat berbahaya. Seperti beras dan sayur organik yang dalam proses penanamannya tidak menggunakan pestisida atau pupuk kimiawi.

Lalu pada proses selanjutnya, kata Angela, juga tidak menggunakan pemutih, “Sekarang kan banyak beras yang memakai pemutih, juga untuk gula dan tepung,” jelas Angela. Karena itu pengolahan dalam perkebunan organik juga harus melalui proses pembersihan terlebih dahulu.

Terutama bila sebelumnya perkebunan tersebut digunakan untuk menanam secara konvensional menggunakan pembasmi hama pestisida dan pupuk yang mengandung unsur kimiawi lain.

Senada dengan Angela, pakar teknologi pangan Prof Dr FG Winarno, dalam buku, “Pengantar Pertanian Organik,” menjelaskan bila pertanian dan pangan organik adalah pangan yang diproduksi tanpa pupuk kimia atau artifisial dan atau pestisida sintetis.

Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pestisida alami adalah predator spesies binatang. Bahkan The International Federation of Organic Agriculture Movement (IFOAM) sebuah organisasi kesehatan pangan telah menetapkan batasan lebih luasseperti perikebinatangan (animal welfare), biodiversitas, dan keadilan sosial.

Namun menggunakan pupuk organik seperti menur dari kotoran dan feses ternak, yang dikenal sebagai pupuk kandang serta kompos yang terbuat dari limbah hasil panen pertanian yang telah mengalami fermentasi spontan sehingga aman sebagai bahan pupuk tanaman.

Meski sayuran organik lebih aman dibanding non organik, namun diakui bila sayuran organik mempunyai performa yang tidak menarik. Tapi ditinjau dari kualitas cita rasa, pangan organik memang lebih baik. Dari sisi cita rasa, bahan pangan organik lebih lezat karena lebih renyah, lebih manis, dan tahan lama.

Dari beberapa penelitian yang dilakukan Institute Pertanian Bogor, bahkan menyatakan bila bahan pangan organik tertentu seperti sayuran dan buah, memiliki kandungan mineral yang jauh lebih baik dibandingkan bahan pangan konvensional. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa sayuran seperti kubis, selada, tomat, kandungan mineral kalsium,fosfor, dan magnesium jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sayuran anorganik.

Contoh tomat organik yang memiliki kandungan kalsiumnya sebesar 23 mg, sedangkan toman non organik hanya 5 mg. Karena itu masyarakat diharapkan dapat mengalihkan pola hidupnya menjadi lebih baik dan sehat.

Kata Angela, ”Konsep kami untuk pangan organik, yaitu untuk mencapai hidup sehat. Jadi gaya hidup berubah, dari makan junk food (cepat saji) atau makan sayuran yang terpapar pestisida, ditambah bahan pengawet ke organik. Tindakan preventif dengan mengubah pola hidup akan pula mencegah penyakit. Pasalnya, jika zat-zat yang berbahaya tersebut terus menerus dikonsumsi, bahkan dapat menjadi beban yang menumpuk di dalam tubuh seseorang.

Terlepas dari alasan para konsumen makanan organik, namun realitas mengambarkan bila makanan organik, meskipun perlahan, semakin populer walaupun harganya berlipat sampai tiga kali dibandingkan dengan makanan non-organik.

Bahkan bagi negara dengan peraturan ketat ala Amerika Serikat (AS), konon mereka telah memberlakukan sebuah standar tentang apa yang disebut organik. Namun dibalik itu, alasan kesehatan di AS sebenarnya masih menjadi pro dan kontra. Satu kelompok berpendapat perstisida kimia pada sayuran sangat berbahaya bagi tubuh. Sedangkan kelompok pendukung menilai bila bahwa bahaya utama datang dari bakteri, seperti E coli yang terdapat pada kotoran sapi yang menjadi pupuk tanaman organik.

Kesadaran untuk mengonsumsi makanan organik pun tidak selalu sama dari masa ke masa. Ketika budaya tandingan muncul di Wilayah Barat dunia pada tahun 1970-an, makanan menjadi cara mereka untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap kondisi lingkungan, pilihan politik, bahkan spiritualitas mereka. Akan tetapi, keadaan ini kini berbalik lebih menjadi alasan praktis.