Bank Harda Bidik Kenaikan Dana Murah dan Kredit - Semester II 2015

PT Bank Harda Internasional menargetkan pertumbuhan kredit cukup besar tahun ini, yakni sebesar 30%, di tengah pertumbuhan ekonomi yang mengalami perlambatan. Direktur Utama Bank Harda Internasional, Antonius Prabowo Argo mengatakan, hingga Juni 2015, kredit perseroan tidak tumbuh secara signifikan, yaitu berada pada level di bawah 10%.

Harapan akan adanya perbaikan kondisi makro di semester II 2015 menjadi alasannya, sehingga perseroan optimis mematok pertumbuhan kredit tinggi. “Kami harap pertumbuhan ekonomi makro semakin baik. Kita targetkan 30% pertumbuhan kredit dan laba bank kurang lebih sekira Rp18 miliar di 2015 akhir,” kata Antonius di Jakarta.

Untuk mengejar target tersebut, lanjut Antonius, Bank Harda berencana menggenjot kredit sektor ritel yang kini porsinya mencapai 32%. Sektor ini diharapkan dapat berkembang lebih besar dari sektor komersial, yang kini porsinya mencapai sebesar 63%.

“Sisanya di mikro dan kecil kurang lebih sebesar 4%. Bank Harda berencana menaikkan pertumbuhan sektor ritel 5% per tahun, ” tambahnya. Sekadar informasi, pada tahun lalu Bank Harda sendiri mencatat pertumbuhan kredit sebesar 25% dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 21%.

Kondisi tersebut mendorong perseroan mencatatkan laba bersih setelah pajak sebesar Rp12,5 miliar. Sedangkan dari sisi aset, posisi terakhir 2014, jumlah aset Bank Harda tercatat sebesar Rp2,02 triliun dengan jumlah kredit sebesar Rp1,50 triliun. Sementara, jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1,73 triliun.

Kemudian sepanjang tahun 2014, profil risiko Bank Harda juga menunjukkan perbaikan kualitas karena penerapan manajemen risiko yang baik. Selain itu, perseroan juga membidik porsi dana murah (current account saving acoount / CASA) terhadap dana pihak ketiga (DPK) naik hingga 7% dari posisi saat ini.

Direktur Bisnis Bank Harda Internasional, Teddy Sadikin menuturkan, saat ini porsi dana murah terhadap DPK masih berada di sekitar angka 13%. Seperti bank-bank kecil yang lain, DPK perseroan masih didominasi oleh simpanan berjangka atau deposito.

"Porsi CASA kami masih 13% saat ini. Kami targetkan bisa mencapai 20% sampai akhir tahun," ucapnya. Berdasarkan laporan keuangan perseroan, per April 2015 porsi dana murah BHI tercatat sebesar 13,41% dibandingkan dengan nilai total DPK yang senilai Rp1,64 triliun.

Dana murah dalam bentuk giro tercatat senilai Rp125,47 miliar dan tabungan senilai Rp95,41 miliar. Sedangkan simpanan dalam bentuk deposito tercatat senilai Rp1,42 triliun. Perseroan sendiri memiliki beberapa produk unggulan untuk meningkatkan porsi dana murah, antara lain produk tabungan yang terdiri dari tabungan Harda, tabungan Super, dan TabunganKu. Untuk produk Giro terdapat dua produk, yakni Giro Murni dan Giro Maxima. [ardi]

BERITA TERKAIT

Optimalisasi Dana Bergulir - LPDB KUMKM Rekomendasikan Pembentukan BLUD dan Jamkrida

Optimalisasi Dana Bergulir LPDB KUMKM Rekomendasikan Pembentukan BLUD dan Jamkrida NERACA Tangerang - Lembaga Pengelola Dana Bergulir - Koperasi, Usaha…

Reklamasi teluk, Solusi Jakarta menuju Global city

sukses Uni Emirat Arab  membangun Palm Island di lepas pantai kota dubai dengan gedung al burj, yang menjadi ikonnya. Banyak…

Perhutani-Amanah Githa Kerja Sama Asuransi Kecelakaan Kerja

Perum Perhutani dan PT Asuransi Jiwa Syariah Amanahjiwa Giri Artha (Amanah Githa) melakukan kerja sama dalam program asuransi jiwa karyawan…

BERITA LAINNYA DI

Karhutla Sumatera dan Kalimantan Berkurang Jauh

Presiden Joko Widodo menyebut bahwa selama sepekan terakhir kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan telah berkurang jauh berkat…

Perusahaan Tersangka Karhutla Telah Inkrah

Sebanyak sembilan perusahaan yang ditetapkan tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) oleh pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan…

Tiga Instrumen Penegakan Hukum Karhutla

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI menerapkan tiga instrumen dalam upaya penegakkan hukum serta menindak tegas para…