Proyek Rel KA Bandara Jadi Prioritas - Perpres Terbit Oktober

NERACA

Jakarta----Pembangunan proyek rel Kereta Api (KA) Bandara Soekarno Hatta senilai Rp2 triliun menjadi prioritas dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Karena itu pemerintah mempercepat penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) sebagai payung hukum proyek infrastruktur tersebut. "Prepres saat ini sudah di Sekretariat Kabinet, dan diharapkan dalam dua minggu ke depan sudah diterbitkan," kata Menko Perekonomian Hatta Radjasa kepada wartawan di Jakarta, Kamis, 29/9.

Lebih jauh kata Hatta, selain sebagai landasar hukum, Perpres tersebut sebagai landasan bagi PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk melakukan kerja sama pembangunan infrastruktur dengan BUMN lainnya seperti PT Batubara Bukit Asam Tbk (Persero), termasuk dengan pihak swasta. "Hal-hal yang berkaitan dengan legal kita siapkan sesegera mungkin, supaya tidak terjadi kendala dalam implementasinya," tambahnya

Rapat koordinasi yang dihadiri antara lain Menteri Perhubungan Freddy Numberi, Deputi Menteri BUMN Bidang Infrastruktur dan Logistik Sumaryanto Widayatin dan direksi sejumlah BUMN Bidang Transportasi membahas penyelesaian pembangunan kereta api Bandara Soekarno-Hatta.

Hatta menambahkan progres pembangunan kereta bandara tersebut berjalan sesuai dengan target. "Kalau di bagian utara bandara umumnya memang elevated (sistem layang), tapi di bagian selatan sudah ada jalur eksisting hingga Tangerang. Untuk itu tinggal mengoneksi Tangerang ke bandara," ujarnya.

Dengan selesainya proyek kereta bandara tersebut nantinya diharapkan PT KAI dapat meningkatkan jumlah perjalanan kereta Jabodetabek yang akhirnya menambah kapasitas penumpang di wilayah itu. Hatta juga menginformasikan dalam rakor tersebut juga dibahas penyelesaian pembangunan infrastruktur di wilayah Sumatera.

Selain pengembangan proyek kereta angkutan batubara antara PT KAI dengan PT Batubara Bukit Asam dalam jangka panjang juga akan diupayakan koneksi jalur kereta api di Pulau Jawa dengan kereta angkutan di Sumatera yang sudah eksisting mulai dari Palembang hingga Lampung.

Sebelumnya, Deputi Menteri BUMN bidang Infrastruktur dan Logistik, Sumaryanto Widayatin mengatakan beberapa perbankan seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) telah berkomitmen untuk mengucurkan dana dalam pengerjaan proyek tersebut. "Mereka (perbankan) cuma membutuhkan perpres-nya saja biar jelas," katanya.

PT KAI akan memakai dana internal perusahaan untuk mengerjakan proyek yang diperkirakan menelan investasi senilai Rp2,3 triliun tersebut. Dalam pembangunan proyek jalur kereta api Bandara Soekarno-Hatta ini, PT KAI juga diminta untuk menyelesaikannya dalam tempo 1,5 tahun sejak perpres turun.

Menurut Sumaryanto, sistem transportasi di Indonesia mengalami degradasi dari tahun ke tahun.. ”Dibandingkan dengan Kuala Lumpur dan Singapura, kita jelas kalah jauh. Di dua kota itu, rata-rata kecepatan berkendaranya mencapai 70 kilometer dan 100 kilometer per jam, dengan tingkat kecelakaan yang minim,” ungkapnya

Melihat kondisi yang memprihatinkan itu, pemerintah sudah memiliki sejumlah terobosan di bidang transportasi massal DKI Jakarta. Salah satunya proyek pembangunan rel kereta api menuju Bandara Soekarno-Hatta. ”Namun, proyek itu belum direalisasikan karena terbentur dana. Hasil kajian menunjukkan, proyek ini membutuhkan dana Rp 8 triliun yang jelas memberatkan pemerintah,” urainya

Padahal, proyek rel KA bandara ini bisa terwujud dengan dana hanya sekitar Rp 2 triliun. Syaratnya, dilakukan pemangkasan tarif dan perubahan rute. Jika sebelumnya tarif transportasi KA bandara dipatok Rp 70.000 dengan waktu tempuh 30 menit, Kementerian BUMN menawarkan solusi alternatif berupa penerapan tarif Rp 20.000. **cahyo

Related posts