Nilai Tukar Rupiah Tetap Terkendali Walau Terguncang - CADANGAN DEVISA SIAP UNTUK 7 BULAN IMPOR

Jakarta –Bank Indonesia (BI) meyakini nilai tukar rupiah tetap terkendali walau sempat ada guncangan yang melemahkan. Depresiasi rupiah memang terlihat paling rendah dibandingkan mata uang negara tetangga. Sementara pimpinan Bursa Efek Indonesia (BEI) belum tahu saat yang tepat menerapkan manajemen protokol krisis untuk mengendalikan fluktuasi indeks saham belakangan ini.

NERACA

Pimpinan BI menegaskan tetap menjaga volatilitas nilai tukar rupiah dengan mengandalkan cadangan devisa yang saat ini cukup kokoh dibandingkan dengan negara berkembang lainnya.

"Kalau dari kemarin, hari ini jelas akan kuat. Kalau kemarin dibandingkan dengan penutupan sebelumnya depresiasi atau melemahnya 0,55% itu masih terendah dari tingkat depresiasi di negara kawasan," tegas Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo di Gedung BI, pekan ini.

Menurut Perry, pelemahan terbesar terjadi pada Korea (Won) dan Singapura (Dolar Singapura). Pada dasarnya sambung Perry rupiah masih relatif lebih stabil dibandingkan dengan mata uang di kawasan.

Lebih jauh dia menjelaskan, pelemahan rupiah yang tajam dapat dibendung oleh cadangan devisa yang memang cukup kuat. Stabilisasi rupiah terjaga karena cadangan devisa hasil akumulasi yang mencapai US$ 120 miliar.

"Sekali lagi saya ingin tegaskan jumlah cadangan devisa jauh lebih cukup. Indikatornya masih tinggi dari hingga mencapai 7 bulan dari pembayaran impor dan utang luar negeri, jadi bayangkan itu lebih dari cukup," ujarnya.

Menurut Perry, dibandingkan dengan negara berkembang lain cadangan devisa biasanya hanya mematok ukuran 5 bulan impor itu sudah cukup. Sedangkan Indonesia hingga 7 bulan impor dinilai sudah sangat baik.

"Kita itu sudah 7 bulan impor. Fundamental kita ekonomi pertumbuhan 6,6% kurang apalagi? inflasi kita 5% kurang apalagi? kredit 24%, jadi kurang apalagi fundamental kita? cukup kuat semuanya," tegas Perry.

Kondisi Bursa

Secara ekonom FEUI Irwan Adi Ekaputra mengatakan, protokol manajemen krisis sangat diperlukan dan terlebih industri pasar modal yang rawan terhadap larinya dana asing. Namun dia berharap apapun langkah yang disiapkan, sikap waspada bagi setiap pelaku pasar saat ini sangat di perlukan, ”Mengatasi krisis global tengah memasuki sikap waspada dan tidak boleh lengah,”katanya di Jakarta, Rabu (28/9).

Dia mengungkapkan, sikap waspada menghadapi krisis ekonomi global ada dua langkah. Pertama jangka panjang dan jangka pendek. Untuk kondisi ini, pemerintah dituntut untuk tetap bisa menjaga perekonomian agar tetap tumbuh dan untuk jangka pendeknya, perlu menerapkan manajemen krisis protokol baik dengan buyback atau cara lainnya. ”Kedua ini harus dilakukan dan tidak bisa di pisahkan. ”Kalau tidak ingin merosot lagi segera jalankan kedua cara tersebut,”tegasnya.

Sementara itu, dia menyatakan belum tahu persis akan manajemen krisis protokol yang tepat dilakukan saat ini, karena semua itu tergantung pada kesiapan dari beberapa pihak untuk melakukannya.

Menurut dia, semua ada aturan mainnya, jadi tidak bisa katakan apakah mesti dengan buyback, atau yang lainnya. Namun hal yang lebih penting dari semua itu, yakni lebih mengedepankan untuk menerapkan manajemen risiko. ”Karena dengan manajemen risiko ini kita akan tahu persis, apa yang mesti kita lakukan untuk mengatasi kalau kita terus terpuruk. Nantinya kalau terpuruk kita tahu solusinya apa?”ujarnya.

Lebih jauh dia mengatakan sangat sulit untuk memprediksi kondisi seperti ini. Karena semua tergantung dengan krisis yang terjadi di Eropa. Makklum saja, negara Eropa itu terdiri dari banyak negara, sehingga menimbulkan problem tersendiri. Namun meski demikian, Irwan optimistis kalau Indonesia akan mampu keluar dari tekanan yang ada saat ini. ”Indikasinya dapat kita lihat kok, pertumbuhan ekonomi di beberapa sektor tetap ada, dan ini yang harus dijaga,”tandasnya.

Sementara analis PT Finance Corporindo Edwin Sinaga menuturkan, selain mempersiapkan protokol manajemen krisis juga peran pemerintah pada level global untuk mengambil langkah-langkah antisipatif. ”Pemerintah harusnya memainkan peranan penting sebagai peserta di komunitas ekonomi global untuk mengambil langkah-langkah yang dapat membantu ekonomi global,"paparnya

Menurut dia, dengan langkah antisipatif yang tepat dari pemerintah, diharapkan sikap optimis tersebut dapat menular kepada investor lokal sehingga tidak melakukan aksi jual yang berlebihan akibat kepanikan.

Edwin mengatakan, menumbuhkan sikap percaya diri bagi investor lokal juga sangat diperlukan ketimbang hanya mempersiapkan protokol krisis sebagai bentuk reaksional menghadapi krisis global. Pasalnya, dengan adanya sentimen positif dari kondisi perekonomian Indonesia. Investor harus percaya diri, aktif dan mengambil kesempatan rendahnya posisi indeks untuk membeli saham.

Soal manajemen krisis, dia juga tidak menampik hal tersebut sangat diperlukan agar bursa dalam negeri bisa bertahan dan kokoh dalam menghadapi krisis perekonomian. Namun sejauh ini, lanjut Edwin, BEI sudah melakukan cara yang tepat dengan menerapkan skema protokol manajemen krisis.

“Saat ini bursa sudah menjalankan protokol manajemen krisis (CMP) untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan terkait situasi pasar. Bursa terus mendiskusikan keputusan-keputusan yang perlu diambil berdasarkan situasi yang dihadapi dan selalu memonitor situasi pasar dalam kondisi apapun,"tandasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, pihaknya mulai menjalankan manajemen protokol krisis untuk menghindari kondisi pasar lebih buruk lagi. "Bursa selalu memonitor situasi pasar dalam kondisi apapun dan termasuk mendiskusikan keputusan-keputusan yang perlu diambil berdasarkan situasi yang dihadapi,”katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Selain itu, dirinya selalu menyerukan kepada pelaku pasar dan termasuk investor asing untuk tidak panik menyikapi kondisi fluktuasi harga saham dengan alasan fenomena global dan fundamental ekonomi dalam negeri yang masih kuat.

Lebih lanjut, kata Ito, kondisi investor saat ini sudah mereda dan tidak seperti perdagangan sebelumnya. Kembali keterlibatan investor asing disebabkan sudah meredanya situasi pasar dan didukung adanya intervensi Bank Indonesia terhadap nilai tukar rupiah. "Investor asing masih ada yang jualan dank arena itu, mereka akan terus melihat situasi. Kepanikan kemarin karena melihat situasi yang semakin tidak terkendali. Investor, tentu lebih liat investasi yang lebih besar di Eropa. Jadi lepas saja dulu sementara disini," ungkap Ito

Dia menambahkan, kepanikan investor asing yang terjadi harus dimanfaatkan investor dalam negeri. Yakni, melakukan aksi beli untuk saham-saham big cap yang tergolong murah. Dalam jangka panjang tentu akan menguntungkan, ditengah fundamental ekonomi Indonesia yang masih terjaga."Investor dalam negeri harus semakin dewasa, justru beli disaat asing banyak lepas. Dan saat mereka (asing) mau masuk lagi karena kondisi sudah pulih, harganya sudah meningkat,”tuturnya. iwan/ahmad/bani

Related posts