Tetap Waspada Walau Fundamen Ekonomi Kuat

Kendati pemerintah sudah memasang status waspada atas kondisi perekonomian global yang tengah guncang saat ini, krisis utang Eropa kini memasuki babak baru dan diperkirakan akan mempengaruhi perekonomian Indonesia pada semester I/2012.

"Sekarang waspada status kita, dulu cepat sekali masuk ke krisis kalau dilihat dari pergerakan saham dan SUN (surat utang negara), " ujar Menko Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta pekan ini.

Hatta mengakui ada investor asing yang melepaskan kepemilikannya di SUN namun jumlahnya tidak banyak. Pemerintah juga sudah menyiapkan antisipasi melalui aksi beli kembali (buyback) SUN oleh Bank Indonesia ataupun BUMN. Dalam sepuluh hari terakhir dana asing di SUN hengkang Rp 14,05 triliun, dari Rp 236,85 triliun (16/9) menjadi Rp 222,8 triliun (26/9). Adapun total SUN yang diperdagangkan hingga 26 Sept.mencapai Rp 693,42 triliun. Porsi terbesar saat ini dipegang oleh kalangan perbankan.

Krisis utang di Eropa tampaknya memang memasuki babak baru, dimana kekhawatiran terhadap gagal bayar (default) utang negeri itu semakin kentara. Sehingga dipastikan krisis utang Yunani merebak ke negara di Eropa seperti Italia, Portugal, dan Spanyol yang kini mengalami tekanan yang cukup signifikan, dan lebih parah lagi, perekonomian di sana sudah mulai melambat.

Berdasarkan indikator perekonomian dunia, Eropa hampir pasti akan memasuki resesi dalam beberapa bulan mendatang. Sementara di AS juga perekonomiannya sedang menghadapi masalah yang cukup serius.Pertumbuhan ekonomi Amerika masih rendah dan cenderung melambat. Rasio utang AS terhadap PDB berada di kisaran lebih 100%.

Kondisi indeks harga saham gabungan (IHSG) pun turut terguncang. Pada pekan lalu sempat terkoreksi 8,9%. Nilai tukar rupiah juga turut terkoreksi.Dalam waktu yang tidak terlalu lama, rupiah terdepresiasi dari kisaran Rp8.500 menjadi sekitar Rp9.100 per US$.

Hal yang harus disadari adalah saat ini keadaan ekonomi kita tidak selemah pada 1997, dan lebih kuat dari keadaan pada 2008/2009. Kondisi ekonomi yang kuat ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi yang cenderung semakin cepat. Pada semester I/2011 tumbuh 6,5% dan untuk 2011 diperkirakan akan tumbuh 6,4%. Ini adalah laju pertumbuhan tercepat setelah krisis 97/98.

Sementara itu, daya beli masyarakat kita pun cukup baik.Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Danareksa Research Institute berada di sekitar level tertinggi dalam 24 bulan terakhir.Artinya,masyarakat kita masih akan berbelanja dan mendukung pertumbuhan ekonomi kita.Ingat, sekitar 60% dari ekonomi kita disumbang oleh belanja rumah tangga. Keadaan ini amat berbeda dengan di Eropa maupun di AS,di mana IKK-nya berada pada level yang amat rendah. Sementara itu, tekanan inflasi di dalam negeri juga sudah semakin terkendali.

Pada Agustus 2011 laju inflasi tahunan sudah turun ke 4,79%, dan inflasi diperkirakan akan bertahan di bawah 5% hingga akhir tahun.Artinya, daya beli masyarakat kita akan tetap terpelihara. Inflasi yang rendah juga memberi ruang kepada BI untuk mempertahankan suku BI Rate pada level yang rendah. Suku bunga yang rendah memberikan ruang kepada perekonomian kita untuk tumbuh lebih cepat.

Kita melihat belum ada indikasi perlambatan hingga pertengahan tahun depan. Artinya, perekonomian kita masih akan terus tumbuh dengan cukup baik asal para menteri ekonomi mampu berkoordinasi dengan baik, jangan membuat kebijakan masing-masing yang berpotensi menyeret kondisi ”tertular” dampak resesi menjadi lebih cepat.

Related posts