Kucuran Subsidi BBM Capai Rp 83,8 T - Dalam Tempo 9 Bulan

NERACA

Jakarta – Besarnya subsidi Bahan Bakar Minyak sampai 23 September 2011 yang telah dikucurkan pemerintah mencapai sekitar Rp 83,8 triliun atau sudah mencapai 64,6% dari alokasi yang mencapai Rp 129,7 triliun. "Realisasi subsidi sampai dengan 23 September 2011 didominasi besarnya realisasi subsidi BBM yang mencapai sebesar Rp 83,8 triliun atau 64,6%. Lebih tinggi dari tahun lalu," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang Brodjonegoro di Jakarta, (28/9)

Sementara, subsidi listrik yang dialokasikan dalam APBN-P 2011 sebesar Rp 65,6 triliun, sudah terealisasi Rp 30,1 triliun atau sebesar 45,9%. Untuk subsidi non energi, baru terealisasi 37,9% dari alokasi dalam APBN-P 2011 sebesar Rp 41,9 triliun atau senilai Rp 15,9 triliun. Sehingga secara keseluruhan total realisasi subsidi masih 54,7% dari Rp 237,2 triliun atau sebesar Rp 129,8 triliun.

Dari Singapura, terdengar kabar harga minyak mentah jatuh di perdagangan Asia pada Rabu, karena para pedagang mengambil keuntungan dari kenaikan di New York dan ketakutan oleh dolar yang lebih kuat, kata analis.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November, merosot 1,34 dolar AS menjadi 83,11 dolar AS per barel pada perdagangan sore hari. Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman November melemah 1,00 dolar AS menjadi 106,14 dolar AS.

Nick Trevethan, ahli strategi komoditas senior untuk ANZ Research di Singapura, kepada AFP mengatakan: "Pasar telah melihat beberapa keuntungan yang sangat besar semalam ... Mengambil itu dengan dolar sedikit lebih kuat dan karena itu tidak mengherankan harga melemah."

Harga minyak mentah telah meroket di Amerika Serikat pada Selasa, dengan WTI melonjak 4,21 dolar AS atau 5,25 persen menjadi ditutup pada 84,45 dolar AS per barel di tengah harapan pedagang bahwa pemerintah Eropa akan mampu mengatasi krisis utang kawasan itu. Euro diperdagangkan lebih rendah terhadap greenback di awal perdagangan Asia, Rabu, pada 1,3561 dolar dibandingkan dengan 1,3590 dolar di akhir perdagangan AS, Selasa.

Sebuah unit AS yang lebih kuat menghalangi pedagang yang menggunakan mata uang lain dari membeli minyak mentah yang dihargakan dalam dolar karena akan menjadi lebih mahal bagi mereka.

Seperti diketahui, dalam RAPBN 2012, kuota BBM Bersubsidi ditetapkan pada angka 40 juta KL. Angka tersebut lebih sedikit ketimbang kuota dalam APBN-P 2011 yang ditetapkan pada 40,4 juta KL.

Saat ini, pemerintah belum melakukan tindakan kongkret untuk menjaga kuota BBM Bersubsidi pada tahun ini. Sedangkan sampai awal semester 2011, kuota BBM sudah dikonsumsi melebihi 50%. Kebijakan berupa himbauan dan sosialisasi yang mengingatkan bahwa masyarakat mampu haru membeli BBM Non-Subsidi (Pertamax Cs) masih diusung pemerintah. **cahyo

Related posts