Belum Mendesak Penerbitan BSF

NERACA

Jakarta---Kementerian Keuangan merasa belum mendesak perlunya langkah ekstra, seperti penerbitan Bond. Alasanya kondisi Indonesia saat ini masih dalam status normal, meskipun kondisi perekonomian dunia tidak menentu saat ini. "Tidak perlu melakukan tindakan ekstra seperti misalnya harus mengeluarkan Bond Stabilitation Fund (BSF)," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Bambang Brodjonegoro kepada wartawan di Jakarta, Rabu (28/9)

Menurut mantan Dekan FEUI ini, guna menyikapi krisis perekonomian global yang terjadi saat ini, pihaknya akan tetap fokus untuk memprioritaskan faktor-faktor yang sudah terdapat dalam Anggaran Pendapatn dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2012. "Kuncinya adalah, kita anggarkan belanja modal lebih besar dari belanja barang. Kalau belanja modal bisa diserap dan masuk sistem ekonomi lebih cepat, itulah stimulusnya. Pemerintah fokus APBN untuk meredam kemungkinan krisis global," terangnya.

Kondisi pereknomian domestik saat ini dijelaskannya bahwa inflasi cenderung rendah dan terkendali pada 2011. Peningkatan laju inflasi pada Agustus 4,79 persen year on year (YoY) yang didominasi oleh sumbangan kenaikan harga emas selama bulan Agustus, sehingga mendorong peningkatan laju inflasi inti di atas rata-rata tiga tahun terakhir sebesar lima persen (YoY). "IHSG dan rupiah kalau year to date (YtD), nilai tukar kita masih terapresiasi 0,73 persen. Tidak sebesar Filipina, Jepang dan China, tapi lebih baik dari Thailand dan singapura," katanya.

Dikatakan Bambang, Indeks saham memang terpengaruh. Namun penurunannya tak significant disbanding negara-negara ASEAN. “IHSG juga demikian, di mana YtD memang ada penurunan IHSG tapi penurunannya relatif kecil dibanding negara tetangga dan sedikit di bawah AS. Dibanding China penurunan kita lebih rendah," tandasnya.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, dana asing yang ke luar dari Indonesia terutama Surat Utang Negara (SUN) Rp 14,05 Triliun. Sentimen negatif di pasar keuangan global terjadi beberapa hari belakangan akibat kekhawatiran krisis di Eropa dan AS. Ini menyebabkan investor asing menarik investasinya di instrumen surat utang negara (SUN). Intinya, cuma tempo sepuluh hari dana asing di SUN berkurang Rp 14,05 triliun, dari Rp 236,85 triliun di 16 September 2011 menjadi Rp 222,8 triliun di 26 September 2011.

Saat ini pemegang SUN terbesar adalah dari pihak perbankan dengan jumlah Rp 237,88 triliun. Total surat utang negara (SUN) yang diperdagangkan hingga 26 September 2011 mencapai Rp 693,42 triliun. Porsi terbesar saat ini dipegang oleh investor bank. Kemudian Bank Indonesia (BI) memiliki SUN sebesar Rp 10,75 triliun.

Lalu industri reksa dana memiliki SUN sebesar Rp 46,79 triliun, industri asuransi Rp 92,99 triliun, industri dana pensiun Rp 35,69 triliun, industri sekuritas Rp 210 miliar, dan lain-lain Rp 46,32 triliun. **cahyo

Related posts