Minat Jadi Pedonor di Cianjur Darah Rendah

NERACA

Cianjur – Dari jumlah penduduk Kab. Cianjur sebanyak 2.2 juta jiwa, hanya sekitar 0,5 % saja yang menjadi pendonor darah di UDD PMI (Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia) Kab. Cianjaur. Sejak Januari s/d Agustus 2011, UDD-PMI Kab. Cianjur, baru mampu mengumpulkan dari masyarakat pendonor sebanyak 3.610 labu darah.

“Jauh sekali jika dibanding dengan jumlah penduduk yang ada di Kab. Cianjur. Hal ini tidak terlepas dari faktor kesadaran dan tingkat kesejahteraan masyarakat Cianjur yang relative masih rendah,”ungkap Direktur UDD-PMI Cabang Kab. Cianjur, Sanny Sanjaya kepada Neraca Rabu (28/9).

Menurut dia, kondisi seperti itu memang cukup beralasan. Sebab jika dikaitkan dengan masih banyaknya warga masyarakat dari kalangan bawah, yang memiliki kecendrungan pola pikir yang salah. Bahwa tidak usah menjadi pendonor darah, lebih baik darahnya dijual saja kalau nanti ada yang butuh darah. Lumayan bisa menghasilkan uang.

“Mereka berpikir mendonorkan darahnya bisa untuk diperjual belikan. Belum berpikir menjadi pendonor darah rutin yang ingin mendonorkan darahnya, karena ingin memiliki tubuh yang sehat, “ kata Sanny.

Dijelaskannya, UDD-PMI Kab. Cianjur, sama sekali tidak membisniskan labu darah, karena menjual harga labu darah sesuai dengan biaya Pengganti Pengolahan Darah (BPPD) di Kabupaten Cianjur. Mengacu pada Peraturan Bupati No. 39 Tahun 2009 sebesar Rp. 252 Ribu/labu darah, harga tersebut berdasar rujukan dari perhitungan nasional. Sehingga UDD-PMI sama sekali tidak mengambil profit/ keuntungan, hanya mendapat sebesar 15% dari upah kerja pengganti pengolahan yang diperuntukan untuk jasa pegawai UDD-PMI Cabang Cianjur.

UDD-PMI Cabang Cianjur, lanjutnya, bukan merupakan perusahaan jasa komersil, melainkan pelayanan publik sosial. Jadi tidak pernah mengambil keuntungan dari penjualan labu darah. Kalaupun ada, hanya 15% yang didapat dari biaya pengolahan yang diperuntukan untuk membayar upah kerja karyawan.

“UDD-PMI dari dulu sampai sekarang, tidak berorientasi bisnis darah. Tapi selalu berusaha mensosialisakan pentingnya menjadi seorang pedonar darah, karena menjadi pendonor akan baik bagi kesehatan tubuh manusia, “ terang Sanny

Tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat, berpengaruh besar terhadap partisipasi masyarakat menjadi pendonor darah. Bagi kalangan ekonomi sedang dan mapan, mereka sudah memiliki kesadaran yang cukup tentang pentingnya mendonorkan darah. Sedangkan masyarakat golongan bawah (miskin) untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya mendonorkan darah, mengalami kesulitan. Hal ini menyangkut kemampuan ekonomi dalam menyerap informasi, terkendala dengan Sumber Daya Manusia (SDM).

Related posts