Faktor-faktor Pendorong Perusahaan Melaksanakan CSR

Sabtu, 01/10/2011

NERACA. Sudah sejatinya bagi perusahaan untuk melakukan kegiatan tanggung jawab sosialnya dengan kegiatan kemanusiaan. Kegiatan tersebut contohnya dapat dilakukan di bidang pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, pemberdayaan bagi masyarakat dan masih banyak lagi aspek atau bidang yang sekiranya dapat dijadikan sasaran untuk melakukan kegiatan CSR (Corporate Sosial Responsibility). Hal ini dilakukan demi memenuhi tanggung jawab sosial yang telah diamanatkan bagi perusahaan-perusahaan sesuai dengan aturan yang berlaku. Namun, alangkah baiknya jika kegiatan tersebut tidak hanya berjalan satu kali dan demi untuk agar di publisitaskan saja.

Pada dasarnya, CSR adalah discretionary. Dalam bahasa yang sederhana, kita dapat katakan bahwa perusahaan butuh ber-CSR. Hal itu karena pada dasarnya, perusahaan adalah bagian dari bangunan sosial yang utuh, juga bagian dari lingkungan hidup di sekitarnya. Oleh karena itu, setiap tindak-tanduk dari orang-orang di dalam perusahaan tersebut dapat memiliki dampak bagi keberlangsungan kehidupan sosial di sekitarnya. Di sisi lain, perusahaan pun memerlukan penerimaan dari publik.

Hal ini, mutlak merupakan sebuah harta tak ternilai bagi organisasi atau perusahaan. Program CSR yang didasari dengan ketulusan, dapat menyejukkan potensi konflik yang demikian. Sehingga, diundangkan atau tidak, perusahaan membutuhkan CSR.

Dalam menentukan kegiatan CSR, sekiranya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya. Menurut Jalal, dari Lingkar Studi CSR/A Indonesia, faktor tersebut secara umum dibedakan menjadi faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal terutama berkaitan dengan kritik organisasi masyarakat sipil terhadap kinerja sosial dan lingkungan perusahaan. Sejarah hubungan antara perusahaan dan masyarakat mencatat banyak peristiwa tragis yang disebabkan operasi perusahaan. Organisasi masyarakat sipil memprotes kinerja yang buruk, yang kemudian ditanggapi oleh perusahaan. Tanggapan defensif serta kamuflase hijau memperumit masalah, sedang yang positif menghasilkan perkembangan CSR.

Institusi pembiayaan yang kian kritis menanamkan investasi memperkuat kecenderungan CSR. Demikian pula konsumen yang juga bersedia membayar untuk produk-produk tertentu yang dihasilkan perusahaan berkinerja sosial dan lingkungan baik. Terakhir, pasar tenaga kerja yang menunjukkan adanya pergeseran pilihan dengan mempertimbangkan reputasi perusahaan.

Gabungan faktor-faktor eksternal itu membuat perusahaan yang menjalankan CSR dengan sungguh-sungguh lebih berkemungkinan bertahan di tengah kompetitifnya iklim dunia usaha.

Faktor internal, misalnya, kepemimpinan puncak manajemen perusahaan yang melihat CSR merupakan sumber peluang memperoleh keunggulan kompetitif (responsibility is opportunity). Cukup banyak pengamat yang berpendapat bahwa faktor internal sebagai pendorong CSR semakin kuat berperan di masa datang.