Antisipasi Jebakan Resesi Ekonomi

Gejolak ekonomi global yang sekarang terjadi di negara-negara maju diperkirakan bakal sulit ditangani sehingga potensi menjadi resesi ekonomi sangat terbuka. Indonesia sendiri dalam beberapa pekan terakhir sudah merasakan pengaruh resesi ekonomi tersebut, minimal terlihat dalam gejolak di pasar saham dan nilai tukar rupiah terhadap US$.

Meski demikian, tidak ada satupun pihak yang bisa memastikan bagaimana nasib ekonomi ke depannya, karena segalanya masih mungkin terjadi, termasuk kemungkinan yang terburuk. Fakta berikut ini penting untuk dilihat.IMF dan Bank Dunia sama sekali tidak keberatan dengan kebijakan pelonggaran fiskal dan moneter yang diambil oleh Amerika Serikat, khususnya dalam mengelola krisis saat ini.

Karena kebijakan pelonggaran fiskal ini diharapkan bisa menyelamatkan ekonomi negara maju, memacu ekonomi dan menyerap tenaga kerja, sedangkan kebijakan quantitative easing (QE) menstimulasi sektor privat bergairah kembali. Respon ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan resep IMF dan Bank Dunia, saat sejumlah negara berkembang dilanda jebakan utang luar pada awal dekade 1980-an di Meksiko misalnya. Saat itu Meksiko diminta melakukan disiplin anggaran (fiskal) dan kebijakan moneter ketat.

Kondisi ekonomi global tersebut tentu tidak menguntungkan bagi Indonesia. Indikasinya sudah terlihat dari kinerja pasar finansial kita. Sejak Agustus lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami pelemahan. Beruntung, kondisi fundamental makroekonomi dan mikro emiten kita cukup solid sehingga mampu menahan ekses gejolak sehingga koreksi yang terjadi relatif minimal.

Terkait upaya menjaga stabilitas perekonomian di tengah meningkatnya ketidakpastian sistem keuangan global, Bank Indonesia tetap mempertahankan level BI Rate sebesar 6,75%. Padahal, BI memiliki peluang untuk menurunkan BI Rate-nya di level 6,50% mengingat besarnya ekses likuiditas akibat masuknya aliran dana asing ke Indonesia.

Saat ini dampak yang ditimbulkan akibat ketidakpastian perekonomian global memang masih terbatas. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III/2011 akan mencapai 6,6%. Ekspor diperkirakan masih tumbuh cukup tinggi sejalan dengan perkiraan masih tingginya realisasi perdagangan dunia serta harga komoditas dunia. Namun, pengaruh penurunan pertumbuhan ekonomi global diperkirakan mulai terasa pada kinerja ekspor kita, pada sekitar kuartal IV/2011.

Indikasinya sudah dapat terlihat dari penurunan harga komoditas yang menjadi salah satu penyumbang utama ekspor nonmigas yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini. Misalnya harga CPO cenderung turun selama tahun ini. Bila pada periode Januari– Maret 2011 harga CPO berada di level US$1.251, mulai turun menjadiUS$1.147 per ton (April–Juni 2011), bahkan pada Agustus menjadi US$1.083 per ton.

Berdasarkan proyeksi Bank Dunia, harga CPO pada 2012 akan menurun berada di bawah US$1.000 per ton. Begitu pula harga minyak mentah dunia juga cenderung turun, di mana harga minyak WTI kini berada di bawah US$90 per barel.

Di sisi lain, perkembangan ekonomi China saat ini sulit dilawan oleh negara maju sehingga mengganggu konstelasi kekuatan ekonomi dunia. China hari ini bisa bergerak dengan leluasa karena didukung oleh ekonomi emerging markets seperti Indonesia,Thailand, India, Vietnam, Korea Selatan dan Malaysia. Kebijakan pelonggaran fiskal dan moneter sebetulnya diketahui bukan merupakan resep yang tepat dan efektif saat ini, melainkan tetap dilakukan dengan tujuan untuk “membiayai” para pemain di pasar untuk masuk ke pasar uang emerging markets.

Inilah yang terjadi saat ini, setelah capital inflow mengalir deras ke emerging markets, sekarang sebagian dana itu ditarik kembali secara mendadak sehingga instabilitas terjadi di negara-negara berkembang tersebut. Nanti akan terlihat, negara maju pertumbuhan ekonominya melaju, tapi negara berkembang terkikis.

Kebebasan arus masuk keluar modal terbukti selama ini membuat ekonomi nasional selalu dalam kondisi terancam. Meski BI belakangan ini sudah mulai melakukan pengendalian modal, langkah ini perlu diperketat lagi dan diimbangi dengan keseriusan Kemenkeu untuk melakukan upaya serupa, khususnya melindungi SUN dari serbuan asing. Intinya, otoritas yang dimiliki oleh BI dan Kemenkeu harus betul-betul dimanfaatkan menghadapi ancaman resesi ekonomi global yang sudah di depan mata.

Related posts