BI : Cadangan Devisa Aman 7 Bulan

NERACA

Jakarta---Bank Indonesia (BI) menegaskan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia masih aman untuk 7 bulan ke depan. Padahal negara berkembang lainya cuma tahan 5 bulan. “Kalau di negara-negara emerging market, biasanya cadev cukup untuk lima bulan ke depan itu sudah aman, tapi kita sudah melewati itu, karena cadev kita aman untuk tujuh bulan,” kata Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Perry Warjiyo kepada wartawan di Jakarta, Selasa (27/9)

Menurut Perry Warjito, fundamental ekonomi masih kokoh. Mesti cadangan devisa tersebut sudah digunakan untuk mengintervensi rupiah dan buy back SUN. “Ini sudah termasuk untuk biaya-biaya impor dan lainnya, jadi memang fundamental kita bagus," katanya.

Oleh karena itu, kata Perry, semua pihak tidak perlu khawatir dengan jumlah cadangan devisa yang disimpan BI. "Pertumbuhan ekonomi kita 6,6%, inflasi kita masih di bawah 5% (year to date), pertumbuhan kredit perbankan hampir 24%, apalagi yang perlu dikhawatirkan?,” tukasnya.

Namun demikian, lanjut Perry, BI takkan mempublikasikan posisi cadangan devisa. “Jadi, kita tidak akan publish cadangan devisa kita sekian, tapi ini keyakinan buat di pasar, jumlah cadangan devisa kita cukup," lanjutnya.

Dalam kesempatan ini, Perry kembali menegaskan bahwa kondisi keuangan di Indonesia saat ini dipengaruhi oleh kondisi global. "Yang terjadi, tekanan rupiah itu murni faktor eksternal dan terjadi di mana-mana. Hal ini dikarenakan investor lebih senang pegang cash dan tunai, jadi yang terjadi selama ini adalah beberapa pelaku atau investor asing yang selama ini membeli SBN dan membeli dolar ingin memegang cash yang lebih aman. Di sinilah peran BI itu untuk menjaga stabilitas nilai tukar," tutupnya.

Sebagai informasi, Senin kemarin BI membeli SBN dari pasar dengan cara lelang dan bilateral mencapai Rp1,2 triliun. Sebelumnya, BI juga dikabarkan melakukan buy back SUN sekitar Rp3,1 triliun.

Sementara itu, ekonom EC Think, Aviliani mengatakan krisis utang zona euro mulai menimbulkan masalah pada perbankan Eropa. Banyaknya penempatan dana perbankan di obligasi pemerintah negara yang terlilit krisis utang, dikhawatirkan akan menyeret perbankan dalam krisis. Namun kondisi tersebut tidak akan menyeret perbankan Indonesia ke dalam masalah yang sama. Alasanya, perbankan Indonesia berada di area aman. “Perbankan Indonesia memiliki perbedaan karakter yang signifikan dibanding perbankan di Amerika Serikat dan Eropa,” ungkapnya

Menurut Aviliani, sumber dana perbankan Indonesia didomanasi oleh dana masyarakat. “Hampir sebagian besar dana masyarakat masuk ke bank, sehingga relatif tak ada problem sumber dana perbankan,” ujarnya.

Kondisi tersebut berbeda dengan perbankan di Eropa dan Amerika Serikat, yang sebagian sumber dananya diperoleh dari negara-negara maju. “Nah ketika negara-negara tersebut tidak memberikan dana, maka mereka punya masalah dengan pihak ketiga,” ujarnya.

Mesti memastikan bahwa perbankan Indonesia tidak akn terlalu terpengaruh oleh krisis perbankan Eropa, namun harus cepat membangun infrastruktur. “Dari segi fundamental, banknya tak ada masalah. Justru akan jadi masalah jika pemerintah tidak membangun infrastruktur dengan cepat,” tegasnya.

Jika pembangunan infrastruktur cepat dibangun, aktivitas perbankan dan bisnis akan berjalan lebih lancar sehingg akemungkinan kredit macet bisa dihindari. “Tapi kalau tidak cepat mengantisipasi itu, kredit macet bisa terjadi,” pungkasnya.**cahyo

Related posts