Perlu Koordinasi Mitigasi Krisis Global

NERACA

Jakarta—Pemerintah dan Bank Sentral diminta meningkatkan koordinasi dalam memitigasi risiko guncangan ekonomi global yang berpotensi menjadi resesi dan krisis global yang terjadi saat ini. “Kondisi ini ditambah dengan risiko sektor keuangan dunia yang belum pulih akibat krisis global tiga tahun lalu. Makanya, koordinasi kebijakan harus lebih kuat, mempertimbangkan first round dan second round effect-nya secara tepat”, jelasnya Anggota Komisi XI DPR RI, Kemal Azis Stamboel di Jakarta,

Menurut Kemal, Indonesia saat ini memiliki lebih banyak alat kebijakan untuk memitigasi dampak krisis global terutama untuk first round effect. “Dengan cadangan devisa diatas US$120 miliar dan cadangan sisa anggaran lebih (SAL) diatas Rp 90 triliun, sebagai amunisi cukup memadai. Tinggal bagaimana kepaduan koordinasi antara otoritas moneter dan fiskal dalam memilih policy yang tepat”, tambahnya.

Kondisi yang lebih baik menurut Kemal juga dimiliki oleh sektor perbankan yang sebelumnya cukup rentan terpapar krisis global. “Kebijakan BI menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) telah meningkatkan kekuatan perbankan. Likuiditas dan permodalan aman, CAR perbankan masih di atas 8%”, imbuhnya.

Tetapi menurut Anggota DPR dari FPKS ini, yang harus lebih mendapat perhatian pemerintah dan bank sentral adalah second round effect dari potensi krisis dan resesi global yang akan terjadi. “Kita menyayangkan rendahnya realisasi APBN dimana sampai akhir Agustus baru 51%. Selain itu APBN 2012 harus cukup besar mendorong pembangunan infrastruktur. Kita minta pemerintah dan bank sentral serius mendisain tidak hanya kebijakan jangka pendek tetapi juga untuk jangka menengah”, pungkasnya. **cahyo

Related posts