Ada Peluang Positif Dari Krisis Global

NERACA

Jakarta---Kementerian Perdagangan menilai ada peluang positif yang bisa dimanfaatkan dari terjadinya krisis global yang menghambat pertumbuhan di berbagai negara seperti di kawasan Eropa dan Amerika. "Kita juga harus melihat dari segi positif bahwa ada kesempatan dan peluang," kata Mendag, Mari Elka Pangestu di Jakarta, Senin,26/9

Salah satu peluang tersebut antara lain adalah memanfaatkan masa-masa seperti ini untuk meningkatkan pasar tujuan ekspor ke sejumlah kawasan yang merupakan negara-negara "emerging market". Initnya, di tengah ketidakpastian akibat krisis global pada saat ini, Indonesia sebenarnya masih memiliki banyak ruang untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi. "Dalam skenario yang terburuk, pertumbuhan Indonesia masih sekitar 5% Bahkan tren pertumbuhan saat ini masih di atas 6%,” tambahnya..

Menurut mantan ekonom Centre for Strategic and Indonesian Studies (CSIS) ini, lonjakan yang dialami pasar saham di Indonesia dan kurs rupiah terhadap dolar akibat krisis yang sedang terjadi pada saat ini merupakan suatu fenomena global.

Yang jelas, kata Mari, lebih disebabkan ulah para investor melalui portofolio yang mengalihkan dananya ke tempat yang lebih aman dan menarik seperti ke Amerika Serikat (AS) dan Eropa. “Penyebab utama (dari gejolak bursa dan kurs rupiah) tidak ada faktor Indonesia-nya," jelasnya

Menyinggung soal pelemahan rupiah, Mari mengungkapkan pelemahan rupiah tersebut dinilai masih lebih baik dari kinerja mata uang regional lainnya. Contohnya, pelemahan mata uang Won Korea Selatan lebih parah, karena sasaran utama ekspor negara itu lebih banyak menuju ke beragam negara yang banyak terpengaruh krisis seperti negara-negara yang terletak di kawasan Uni Eropa dan AS.

Sedangkan Indonesia, lanjut Mari lagi, selain memiliki fundamental perekonomian yang baik, juga telah melakukan berbagai langkah antisipatif untuk memperkuat ekspor di masa krisis yaitu mendiversifikasi pasar ekspor, penguatan daya saing produk Indonesia, dan penguatan produksi dalam negeri.

Mari masih yakin perkiraan jumlah pertumbuhan masih naik. Hal ini terindikasi antara lain dari data pada triwulan II tahun 2011 yang menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia telah tumbuh 6,5%. Dengan demikian, maka pada tahun 2011 ini, ekonomi Indonesia diperkirakan akan tumbuh 6,5% atau lebih tinggi dari perkiraan semula yakni 6,4%.

Hal tersebut merupakan pencapaian yang baik karena akibat meningkatnya risiko tekanan krisis utang di Amerika Serikat (AS) dan Eropa serta fluktuasi harga komoditas global diprediksi mengakibatkan revisi pertumbuhan ekonomi dunia.

Menurut perkiraan yang dibuat sejumlah lembaga internasional seperti IMF, pertumbuhan ekonomi dunia direvisi akan menurun baik pada 2011 maupun 2012. Revisi tersebut antara lain menyebutkan bahwa perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2011 direvisi dari 4,3% menjadi 4%, sedangkan perkiraan pertumbuhan pada 2012 direvisi dari 4,5% menjadi 4%. Perlambatan itu terjadi terutama di kawasan negara-negara maju yang pertumbuhannya hanya akan mencapai 6% (y-o-y).

Sedangkan negara-negara berkembang termasuk di kawasan ASEAN diperkirakan masih akan dapat tumbuh hingga di atas 5 persen (y-o-y). Sementara volume perdagangan dunia diperkirakan juga melambat menjadi 7,5% (y-o-y), dan akan terus melambat hingga 2012 sebesar 5,8% (y-o-y).

Mendag mengemukakan, terkait dengan perdagangan, momentum pertumbuhan ekspor Indonesia tetap terjaga yaitu mengalami peningkatan 17,4% (y-o-y) pada triwulan II 2011. "Kami optimistis jumlah ekspor pada tahun 2011 mencapai 200 miliar dolar AS," pungkasnya. **cahyo

Related posts