Faktor Penentu Pemasaran Produk Seluler

Sabtu, 01/10/2011

Neraca. Perkembangan teknologi seluler saat ini sangat diikuti oleh pengusaha layanan tambahan dan juga pengguna telepon seluler. Sedikit banyak perkembangan tersebut memberikan sebuah perubahan kepada masyarakat dalam memandang dan menyikapi fungsi dari telepon seluler.

Dari sisi pengusaha, kondisi ini dimanfaatkan untuk menciptakan sebuah kreasi atau inovasi untuk meningkatkan sebuah keuntungan usaha yang terkadang mengesampingkan atau tidak mau tahu dengan efek negatif yang akan ditimbulkannya. Dari sisi pengguna, seperti kebanyakan pemanfaatan teknologi lain, oleh sebagian masyarakat Indonesia yang lebih mengedepankan trend atau gengsi daripada kegunaan atau utilitas.

Kalau diibaratkan sebagai sebuah perang maka dapat dipastikan bahwa pengusaha layanan tambahan memenangkan perang tersebut. Semakin banyak pengguna telepon seluler terjebak memanfaatkan layanan tersebut tanpa memperhatikan manfaat dan juga kemampuan ekonomi.

Perkembangan teknologi pun contohnya saja mengakibatkan umur sebuah handset telepon seluler sangatlah pendek. Fungsi-fungsi yang cepat bertambah menjadikan handset telepon seluler baru semakin dikejar, meskipun dari segi pemakaian masih mengikuti pemakaian tradisional, seperti SMS (Short Message Service) dan terima telepon.

Dengan semakin canggihnya handset telepon seluler di tangan, dan tentunya dengan perjuangan yang cukup berat untuk membelinya, menjadikan peluang bagi pengusaha layanan tambahan untuk semakin memperbanyak jualannya. Pada akhirnya masyarakat akan tergiring untuk mengubah kebutuhan primer penggunaan telepon dari hanya pengguna tradisional seperti handset telepon seluler fitur sederhana dan SMS menjadi pengguna modern seperti handset telepon seluler fitur mewah dan layanan level tinggi.

Namun dengan kondisi perekonomian Indonesia yang tidak kunjung membaik, apakah perubahan definisi terhadap kebutuhan primer dalam menggunakan telepon seluler merupakan sesuatu yang mengkhawatirkan atau menggembirakan?

Sebuah pertanyaan yang perlu dilakukan dalam sebuah penelitian dan pembahasan lebih lanjut dari berbagai sisi untuk menjawabnya. Mungkin sudah banyak cerita terdengar dari para Guru Sekolah yang kesulitan menyuruh siswa melakukan foto copy bahan pelajaran yang hanya beberapa lembar, namun begitu mudahnya siswa tersebut membeli voucher isi ulang hanya karena tidak mau ketinggalan berita-berita gossip yang aktual.

Banyak terlihat di mall-mall di kota besar maupun kecil, masyarakat yang memiliki tingkat penghasilan di bawah UMR (Upah Minimum Regional) dengan bangganya dapat memamerkan Handphone dengan fitur-fitur lengkap, dan masih banyak lagi cerita tentang bagaimana ironisnya jika melihat cerita sekitar teknologi seluler di masyarakat.

Sementara budaya dan manfaat menjadi salah satu pola pemasaran produk dengan memanfaatkan celah atau kelemahan pada calon pembeli. Hal ini mungkin sangat disadari oleh banyak pengusahan yang menjual produk atau jasa layanan teknologi tinggi di Indonesia. Salah satu celah adalah budaya gengsi di masyarakat Indonesia.

Perilaku atau budaya gengsi menjadi salah satu acuan dalam pemilihan produk atau layanan. Demikian juga dengan penggunaan layanan tambahan telepon seluler, masih banyak masyarakat yang lebih mempertimbangkan gengsi dibandingkan kegunaan dan manfaat.

Bukanlah sepenuhnya kesalahan pengusaha dalam menggunakan strategi pemasaran dan juga merupakan hak masyarakat jika ingin membeli sebuah gengsi. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa teknologi dibuat dan dikembangkan adalah untuk memberikan manfaat bagi manusia secara keseluruhan.

Dapat dipastikan juga bahwa implementasi sebuah teknologi dapat memunculkan dampak negatif. Dari dua hal tersebut yang harus diperhatikan oleh semua pihak adalah bagaimana sebuah teknologi dapat diimplementasikan dan menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya dan seminimal mungkin memberikan dampak negatif.

Perlu sebuah edukasi yang lebih gencar lagi tentang kesadaran dalam menggunakan teknologi terutama teknologi seluler secara lebih bijak. Jangan sampai layanan tambahan sebuah teknologi seluler, budaya gengsi, ketidakmampuan mengendalikan budaya konsumtif akan bersatu menjadi sebuah metode penjajahan baru. Masyarakat akan semakin terlena dengan anggapan menjadi manusia modern dengan indikator pemanfaatan teknologi namun sebenarnya menjadi manusia yang terjajah oleh negara atau institusi penghasil teknologi.