BEI Siap Terapkan Manajemen Krisis Protokol - ANTISIPASI REDAM KEPANIKAN INVESTOR

Jakarta – Sudah dua pekan indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok hingga menyentuh di bawah batas psikologisnya 3.500, yang berarti sudah kehilangan 576 poin selama dua pekan dari 12 Sept. 2011, menunjukkan kondisi bursa Indonesia patut diwaspadai setiap saat. Bahkan Bursa Efek Indonesia (BEI) siap menerapkan langkah-langkah manajemen krisis protokol (Crisis Management Protocol-CMP) untuk mengantisipasi kepanikan investor.

NERACA

Meski kondisi bursa lokal cukup membuat panik pelaku pasar pekan lalu, Dirut BEI Ito Warsito di Jakarta, Jumat (23/9), mengatakan bursa akan menjalankan protokol manajemen krisis, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan situasi pasar. Otoritas pasar modal, akan mendiskusikan keputusan-keputusan yang perlu diambil berdasarkan situasi yang dihadapi saat ini. BEI juga selalu memonitor situasi pasar dalam kondisi apapun.

Hanya persoalannya, sejauhmana daya tahan pasar modal menahan risiko lebih buruk dan penanganan krisis berkelanjutan. Dalam beberapa hari terakhir IHSG terus turun. Setelah anjlok sebesar 8,8% dan berada pada level 3.200.

Menurut ekonom Danareksa Purbaya Yudi Sadewa, koreksi indeks yang terjadi merupakan reaksi kepanikan pelaku pasar terhadap dampak krisis Eropa yang cukup signifikan pengaruhnya. “Buruknya data ekonomi dunia memunculkan kekhawatiran krisis global kembali terjadi,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Minggu (25/9).

Apa yang menjadi khawatiran pelaku pasar sangat berasalan, kata Purbaya, karena krisis yang terjadi di Eropa lambat tapi pasti mulai menjalar ke beberapa negara Eropa seperti Italia dan Spanyol. Sementara bicara krisis ekonomi Amerika dinilainya tidak terlalu buruk bila dibandingkan krisis Eropa. Alasannya, negara tersebut sudah tidak bisa menaggulangi masalah utang negaranya.

Kendati demikian, dia menyakini, krisis yang terjadi saat ini hingga berdampak pada pasar modal dalam negeri tidak akan seburuk pada krisis tahun 2008. Lagi-lagi fundamental ekonomi dalam negeri yang kuat menjadi alasan bila ekonomi Indonesia jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Kepercayaan Investor

Kemudian, krisis yang terjadi tidak berkaitan langsung dengan Indonesia. Karena seburuk buruknya krisis yang terjadi,Indonesia tahun depan masih mengalami pertumbuhan 4-6%. Dia juga melihat ke depan indeks masih terus terkoreksi seiring belum adanya penyelesaian krisis di Eropa. Namun pelaku pasar diminta tidak terlalu pesimis dan sebaliknya optimis bila indeks akan kembali bangkit seiring kepercayaan para investor terhadap iklim perekonomian Indonesia yang boleh dibilang kuat.

Oleh karena itu, otoritas pasar modal perlu kembali menyakinkan pelaku pasar untuk tetap di Indonesia dan tidak perlu lepas meninggalkan Indonesia. Sementara pengamat pasar modal Yanuar Rizki menilai wajar koreksi tajam indeks BEI. Pasalnya, persoalan pasar itu bersifat fluktuatif. Artinya, saham bisa saja anjlok tetapi terkadang juga sebaliknya. "Fluktuatif, sudah menjadi sifat pasar saham, jadi saya pikir anjloknya saham Indonesia itu adalah hal yang biasa," jelasnya.

Dia menegaskan, untuk memprediksi kedepan indeks sulit mengingat pasar saham yang fluktuatif. "Kita tidak bisa mengatakan seperti itu, itu sangat sulit diprediksi, tetapi saya optimis beberapa saat lagi akan naik," paparnya.

Lebih jauh dia mengatakan, anjloknya saham kita merupakan tren saja, dan yang dibutuhkan adalah bagaimana mensikapi yang menjadi tren saat ini dengan baik. Dan kalau ada pihak-pihak yang menyalahi aturan, tentunya akan dikembalikan melalui UU Pasar Modal. "Ya, kita kembalikan saja ke UU Pasar Modal kita," tegasnya.

Baik Purbaya dan Anthony Soewandy yang juga direktur retail banking PT ANZ Panin, keduanya sepakat, indeks BEI akan mencapai level terburuk 3.000, apabila krisis di Eropa makin tidak dapat dikendalikan. “Peluang indeks makin terpuruk terbuka lebar, apalagi krisis di Eropa sampai saat ini masih belum jelas dan terlebih bank sentral Eropa menunda memberikan dana talangan sampai Oktober makin memperburuk kondisi,”paparnya.

Menurutnya, tekanan negatif pasar dari luar negeri akan makin meningkat yang mendorong pelaku pasar terus melepas saham yang dimiliki. Pelaku pasar asing saat ini melepas saham dalam jumlah yang tidak besar dengan nilai mencapai Rp242 miliar dibanding hari sebelumnya sebesar Rp1,7 triliun.

Selain itu, Ito menyerukan kepada pelaku pasar dan termasuk investor asing untuk tidak panik menyikapi kondisi fluktuasi harga saham dengan alasan fenomena global dan fundamental ekonomi dalam negeri yang masih kuat.

Lebih lanjut, kata Ito, kepanikan investor asing yang terjadi harus dimanfaatkan investor dalam negeri. Yakni, melakukan aksi beli untuk saham-saham big cap yang tergolong murah. Dalam jangka panjang tentu akan menguntungkan, ditengah fundamental ekonomi Indonesia yang masih terjaga."Investor dalam negeri harus semakin dewasa, justru beli disaat asing banyak lepas. Dan saat mereka (asing) mau masuk lagi karena kondisi sudah pulih, harganya sudah meningkat,”tuturnya.

Menurutnya, kondisi market itu didukung oleh tiga pilar, yakni fundamental ekonomi, kinerja emiten dan pasar keuangan yang stabil. Dia juga mempercayai, bila investor saat ini sudah dewasa dan tidak larut dalam kepanikan untuk melakukan ambil untung. iwan/ahmad/bani

Related posts